LekoNTT.com: Membaca Dahulu, Berkomentar Kemudian | Baca Buku Apa Hari ini? | Cegah Covid-19, Patuhi Protokol Kesehatan
Archive for Juli 2019

Aditya Arum, Terampil Mengolah Sakit Hati Menuju Event Sastra


Kegagalan selalu menyisakan sakit hati, tapi tidak meninggalkan luka. Kegagalan itu diakrabi setelah tahap-tahap pengolahan ‘sakit hati’ dilewati dengan penuh kesabaran. “Hati saya mulai terampil mengolah sakit hati karena kegagalan dan penolakan. Saya berhasil melewati banyak kegagalan, sebelum akhirnya lolos MIWF 2019,” ungkap Frater Giovanni Aditya Lewa Arum yang akrab disapa Adit, salah satu Emerging Writers MIWF 2019.
Giovanni Aditya Lewa Arum

Makassar International Writers Festival (MIWF) adalah festival sastra tahunan yang diselenggarakan oleh Rumata’ Artspace untuk menjaring dan memfasilitasi penulis-penulis ‘baru’ asal Indonesia Timur. Adit pun lolos seleksi sebagai salah satu peserta MIWF 2019 asal Nusa Tenggara Timur (NTT).


Belajar dari Sosok Lain, Proses Kreatif Menuju Kematangan Berkarya

Sama seperti calon imam lain yang adalah penulis, sebut saja Diakon Saddam HP, Frater Adit juga menjadikan dunia tulis-menulis sebagai bagian dari upaya pewartaan. Bahkan motivasi itu sudah menjadi credo baginya. “Saya meyakini bahwa menulis adalah bentuk devotio intellectualis (sebuah devosi intelektual) kepada Tuhan, juga tanggung jawab sosial kepada sesama”.

Anak pertama (dari tiga bersaudara) pasangan Antonius Peka dan Maria Anggelina Ning Anggraei ini, mulai menulis sejak duduk di bangku kelas 2 (dua) SMPK Sint Vianney Soe. Puisi pertama yang ditulisnya berjudul Ibu dipajang pada majalah dinding sekolah saat itu. Ia kemudian mengenal puisi dalam konteks sastra ketika menjalani masa pendidikan calon imam di SMA Seminari St. Rafael Oepoi, Kupang dan Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang.

Menghargai cinta dan kesederhanaan yang ditunjukkan kedua orang tuanya turut mempengaruhi kecintaan Adit terhadap puisi. Demikian ia ada dalam lingkungan beda budaya, ayah asal Nagakeo, Flores, ibunya asal Bogor, Jawa Barat, Adit lahir, menghabiskan masa kecil di Soe, kemudian masuk dan menjumpai sesama calon imam yang juga berbeda latar belakang. Semua itu, pengaruh yang sangat kaya dalam riwayat karya.

Adit adalah seorang ‘peniru’ yang baik (bukan plagiator). Jika puisi pertama ditulisnya sebagai hasil modifikasi dari salah satu puisi di Majalah Bobo, maka ketika memasuki formasi di seminari, ia pun mulai mengenal bahkan meniru gaya penulisan sastrawan Mario. F. Lawi. Benar, ketika membaca puisi-puisi calon imam Keuskupan Agung Kupang ini, nyaris tiada beda dengan puisi-puisi Mario. Pembaca akan disuguhkan puisi-puisi Alkitabiah (menjadikan Kitab Suci sebagai sumber citraan).

Kebiasaan ‘meniru’ ala Frater Adit bukan sesuatu yang baru dalam dunia sastra, khususnya karya puisi. Kebanyakan penyair dalam masa awal kepenulisan, memang lebih banyak meniru. Itu bagian dari proses kreatif hingga akhirnya benar-benar menemukan karakter masing-masing. Merujuk pada label yang sering kita dengar, semisal chairilanwaris (karya bercorak Chairil Anwar), nirwandewantois (karya bercorak Nirwan Dewanto), sapardian (karya bercorak Sapardi Djoko Damono), maka bolehlah kita (pembaca karya) melabeli Adit sebagai mariolawian (karya bercorak Mario Lawi).

Selain Mario, ada sosok lain yang juga turut mempengaruhi produktivitas Adit dalam berkarya. Ialah Romo Amanche Frank Oe Ninu, Pr (Kepala Sekolah SMPK St. Yosef Naikoten, Kupang), saat itu ia selaku Frater TOP di Seminari Oepoi, Adit salah satu anak bimbingannya.

“Saya meniru dan menjadikan Mario F. Lawi sebagai acuan dalam menulis puisi yang baik. Pada awalnya, saya bergerak dari menulis cerpen. Tangan dingin yang sering disertai teriakan keras dan paksaan yang mulia dari Romo Amanche telah membentuk saya untuk duc in altum (bertolak ke kedalaman) dunia tulis menulis pada umumnya dan karya sastra pada khususnya”.

Bertemu dan hidup bersama di seminari adalah pintu utama bagi Adit untuk masuk ke beberapa komunitas sastra. Ialah Komunitas Sastra Filokalia (komunitas sastra di Seminari Tinggi St. Mikael Kupang, saat ini Adit menjabat sebagai ketua) dan juga bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Di sana (Dusun Flobamora) ia kembali berproses bersama Romo Amanche, Mario F. Lawi, Abu Nabil Wibisana, Saddam HP dan beberapa penulis lainnya.

Selain melalui sosok-sosok yang hadir secara nyata dan mempengaruhi riwayat karyanya, Adit juga terinspirasi dari beberapa filsuf dan teolog. Salah satu diantaranya adalah Santo Thomas Aquinas (Imam dan Pujangga Gereja). “Saya juga banyak belajar dari spiritualitas hidup filsuf dan teolog besar Santo Thomas Aquinas yang justru mengungkapkan cintanya yang agung dengan menulis. Santo Thomas ternyata tidak hanya menulis uraian sistematis dan lengkap tentang filsafat dan teologi. Ia juga menulis puisi. Beberapa puisi yang diwariskan hingga kini bagi umat Katolik telah digubah dalam lagu Tantum Ergo dan Panis Angelicus.

Sebagai calon imam, Adit menulis bukan hanya sekadar hobi. Karena baginya, menulis yang merangkum juga membaca secara inheren di dalamnya, adalah tanggung jawab intelktual, moral dan spiritual sebagai bentuk pewartaan. Bagi calon imam, menulis yang diresapi dengan semangat pewartaan adalah panggilan yang mulia. “Saya teringat kutipan Kitab Suci kasihilah Tuhan dengan segenap akal budimu! Kutipan ini yang mendenyutkan nadi saya dalam menulis. Oleh karena itu, saya berjuang untuk konsisten dengan puisi-puisi biblis”.


Riwayat Karya dan Jalan Menuju MIWF 2019

Perihal riwayat berkarya telah disinggung di atas. Pembahasan berikut lebih kepada riwayat publikasi karya-karya Adit. Konsistensi untuk menulis puisi-puisi biblis (Alkitabiah), telah membawa Adit ke menuju kematangan berkarya. Kematangan tersebut selain diukur melalui karya-karya itu sendiri, juga dapat diukur lewat kurasi para ‘penjaga gawang’ media tertentu. Adit dalam pengalaman berkarya telah mempublikasikan karya-karyanya, baik majalah, koran, media online maupun antologi bersama. Karya-karyanya itu berupa puisi, cerpen, esai dan resensi buku.

Puisi-puisinya telah tersiar di beberapa Harian Umum seperti, Koran Tempo, Bali Post, Pos Kupang, Victory News, Timex dan di beberapa jurnal sastra seperti Jurnal Sastra Santarang dan Jurnal Sastra Filokalia. Beberapa puisinya juga termaktub dalam antologi Senja di Kota Kupang (2013), Ratapan Laut Sawu (2013), Nyanyian Sasando (2015), Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Mata (2017, diselenggarakan oleh Festival Puisi Bangkalan 2), Epitaf Kota Hujan (2018) dan antologi Sebuku Bersama Sapardi Djoko Damono (2019). Beberapa cerpennya juga tergabung dalam antologi cerpen sastrawan NTT, Cerita dari Selat Gonsalu (2015).

Pengalaman-pengalaman itulah yang terus mendorong Adit untuk mengikuti berbagai event sastra. Adit pernah diundang dalam Temu Sastrawan NTT I (2013), Temu Sastrawan NTT II (2015), Festival Sastra Santarang I (2015), dan Festival Sastra Asia Tenggara (2018) di Padang Panjang, Sumatra Barat. Pernah menjadi salah satu pemenang puisi pilihan dalam perlombaan nasional cipta puisi dan cerpen “Syukuran Sastra” yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Sumatra Barat (2019) dan Juara I Lomba Menulis Puisi Nasional yang diselenggarakan oleh Tulis.Me (2019).

Tentang MIWF, Adit sudah ‘menuai’ beberapa kali kegagalan. “Saya sudah empat kali mengirim karya dan belum juga lolos”. Kegagalan yang sama pun ternyata dialami ketika ingin mengikuti Ubud Writers and Readers Festival (UWRF). Kedua event sastra bergengsi itu, memang menjadikan Adit tidak berhenti berjuang. “Lolos tidak lolos, bukan menjadi batas akhir keselesaian dalam menulis”.

Tahun 2019, Adit kembali mengikuti seleksi penulis MIWF. Sebanyak 195 naskah yang diterima panitia MIWF, hingga jadwal pengumuman tiba (13 Mei 2019) ada nama Giovanni A. L. Arum (Kupang). Ya, Adit lolos sebagai salah satu emerging writers dengan mengirim 25 karya puisi. Ia bersama keempat teman lainnya yakni, Fadli Refualu (Makassar) yang mengirimkan naskah Novel, Ilda Karwayu (Mataram, NTB) yang mengirimkan puisi, Nurul Fitroh (Makassar) yang mengirimkan cerpen, dan Safar Banggai (Banggai) yang mengirimkan cerpen.
Adit (baju merah) bersama keempat emerging writers lainnya (Foto: Ist.)

Karya-karya yang dikirimkan Adit, tidak terlepas dari konsistensinya dalam berkarya. “Saya mengusung tema-tema biblikal. Saya memang berjuang untuk konsisten dengan tema ini. Meski saya tahu, tema ini sudah sangat sering diasosiasikan dengan Mario. Mungkin inilah yang menjadi tantangan bagi saya. Menemukan pembacaan dan refleksi alternatif dalam mengelola tema biblikal”.

Lolos sebagai salah satu emerging writers MIWF 2019 menyisakan perasaan senang sekaligus cemas. Senang karena akhirnya keterampilan merawat kegagalan menemukan titik terang. Namun, serentak pula ada kecemasan mulia yang menghendaki Adit untuk terus bertanya sudah sejauh mana ia terus mengolah keterampilan dalam berpuisi. “Apa yang harus saya lakukan setelah menjadi emerging writer MIWF 2019? Predikat ini sekaligus menuntut pertanggungjawaban”.


Apresiasi atas Prestasi

Sejak diumumkan nama-nama terpilih, pihak Seminari Tinggi St. Mikael Kupang sangat mendukung dan memberikan apresiasi yang baik. Adanya Komunitas Sastra Filokalia, dimoderatori oleh Romo Sipri Senda sebagai pendamping yang memberikan suasana kondusif bagi Adit dan teman-teman frater lainnya untuk berkarya.

Lantas, adakah dukungan atau apresiasi dari Pemerintah Provinsi NTT? Bukankah ke sana atas nama NTT? Sudah tentu Adit tidak dapat, bahkan beberapa penulis berprestasi seperti Felix K. Nesi, Mario F. Lawi, Armien Bell, Dicky Senda dan lainnya yang sudah mengharumkan nama NTT di mana-mana, masih jauh dari apresiasi pemerintah, baik provinsi, kota maupun daerah.

“Sejauh ini dukungan langsung tidak saya alami. Saya mengerti karena saya juga bergerak dalam komunitas Seminari. Secara pribadi, saya percaya bahwa dukungan yang baik dari pemerintah akan sangat membantu perkembangan mutu penulis sastra di NTT. Namun, tuntutan yang keras tanpa diimbangi ketahanan para penulis sendiri untuk berlatih dan mengelola diri akan sia-sia juga”.

Tanggal 26 Juni hingga 30 Juni 2019, Adit hadir di MIWF. “Situasi MIWF benar-benar luar biasa. Saya benar-benar mengalami sebuah perayaan sastra yang menggembirakan. Tema People yang diangkat, kiranya mampu menggambarkan situasi MIWF 2019 yang benar-benar menjadi rumah bagi segenap manusia untuk merayakan seni dan literasi sebagai bagian integral dari kemanusiaan.”
Adit (kiri - ketiga) saat berbicara dalam sesi emerging writers (Foto: Ist.)

Panita memang sengaja mengambil tema tersebut sejak setahun lalu, sebagai persiapan untuk menurunkan tensi sosial politik yang terlanjur membelah manusia dalam kategori suara pro dan kontra. Seni mampu membebaskan manusia dari tegangan psikis dan kebencian yang mengkotak-kotakkan.

“Yang paling mempesona, kehadiran saudara-saudara difabel yang diakomodasi dengan baik. Mereka punya tempat yang sama dan setara sebagai pegiat maupun penikmat sastra. Dengan mengusung kegiatan yang ramah lingkungan zero waste festival, MIWF 2019 juga mendekatkan isu lingkungan dalam kesadaran peserta”.

Sesi diskusi Adit bersama keempat teman lainnya dipandu langsung oleh Aan Mansyur dan Sinta Febriani. Diskusi tersebut seputar alasan mengikuti MIWF, karya dan proses kreatif dalam berkarya, juga aktivitas seni dalam komunitas masing–masing.
Adit (kiri - ketiga) dan emerging writers lainnya berpose bersama Sastrawan Aan Mansyur (kiri - kelima). (Foto: MIWF/ rumata'artspace)

“Pada sesi saya, banyak audiens yang tertawa. Saya dan Ilda adalah dua peserta yang sudah punya pengalaman kegagalan selama empat kali. Ketika saya mengatakan bahwa hati saya sudah terampil mengolah sakit hati karena kegagalan, saya berterima kasih kepada MIWF yang mengaruniakan kesempatan gagal. Itu membuat saya terpacu untuk terus berusaha dan berpuisi secara baik dan benar, semua peserta menyambut dengan tawa dan tepuk tangan”. Bahkan Aan mengatakan, “Demikianlah kita kalau mendengar seorang sastrawan dan calon pastor kalau bicara”.

Adit sempat membacakan puisi TubuhMu Bilangan Tak Terhingga dimana ia memainkan imaji bilangan dalam kaitannya dengan narasi biblis dan Peristiwa Sedih yang Kesekian sebagai respon terhadap masalah human trafficking di NTT. “Saya terharu, penonton mengapresiasi dan turut merasakan situasi di NTT yang saya gambarkan dalam puisi”.
Aditya Arum saat membacakan puisinya di panggung utama MIWF 2019 (Foto: MIWF/ rumata'artspace)

Siapkan diri dan karya Anda! Pintu MIWF selalu terbuka bagi semua. Tradisi berkomunitas kiranya menjadi salah satu faktor pendukung yang baik. Intinya, jangan berhenti berkarya, entah karena pencapaian tertentu maupun kegagalan tertentu.

Kupang, 2019
Penulis: Herman Ef Tanouf

Related Posts:

Pemkot Kupang Mulai Fokus Atasi Masalah Pelayanan Publik


Kupang, LekoNTT.com – Menyikapi banyaknya keluhan masyarakat terkait pelayanan publik di Kota Kupang, Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang secara resmi meluncurkan Sistem Pengelolaan Pengaduan Pelayanan Publik Nasional – Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat (SP4N LAPOR!) pada Jumat (26/7/2019). Acara tersebut berlangsung di Aula Garuda, Kantor Walikota Kupang.

Hadir dalam peluncuran itu, Wakil Walikota Kupang, Hermanus Man, Plt. Asisten III Sekda Kota Kupang, Eduard John Pelt, Kepala Ombudsman RI Perwakilan NTT, Darius Beda Daton, Tim Percepatan, Daniel Adoe, Fasilitator B_Trust, Ajie Ginanjar Nugraha, perwakilan dari pihak kepolisian dan beberapa pejabat lainnya.
Kiri-Kanan: Eduard John Pelt, Darius Beda Daton, Hermanus Man, Daniel Adoe, dan Ajie Nugraha (Foto: HET)

Wakil Walikota Kupang, Hermanus Man dalam sambutannya menegaskan kembali pentingnya peran para pejabat dalam menjawabi segala bentuk keluhan masyarakat. “Kita ini pejabat, disebut pejabat publik karena kita adalah pelayan publik,” katanya.


Ia juga mengungkapkan kalau masyarakat butuh ruang dan diberi kesempatan untuk menyampaikan keluhan-keluhan terkait pelayanan publik yang buruk. Oleh sebab itu, ia pun meminta kepada para fasilitator SP4N LAPOR! dari berbagai instansi agar serius menangani keluhan dari masyarakat.
Wakil Walikota Kupang, Hermanus Man saat secara resmi meluncurkan SP4N LAPOR! (Foto: HET)

“Saudara-saudara (fasilitator) adalah ujung tombak pelayanan publik. Banyak instansi di Kota Kupang masuk zona merah, artinya pelayanan kita masih buruk. Masalah sampah, kesehatan, air, penerangan di jalan umum”.

Para fasilitator dalam tugasnya memfasilitasi berbagai keluhan masyarakat yang masuk ke sistem LAPOR!. Tentang cara menyampaikan saran, kritik dan pengaduan terkait pelayanan publik, masyarakat dapat mengirim SMS ke 1708 dengan format KOTKUPANG (spasi) isi Laporan/ Keluhan. Selain itu, masyarakat juga bisa menyampaikan laporan melalui website www.lapor.go.id ataupun aplikasi mobile.
Kepala Ombudsman NTT, Darius Beda Daton dalam sambutannya mengungkapkan kalau banyak masyarakat di Kota Kupang yang belum tahu akan adanya sistem LAPOR!. Hal tersebut disampaikan atas keluhan yang masuk ke Ombudsman NTT.
Kepala Ombudsman NTT, Darius Beda Daton saat memberikan sambutan dalam acara peluncuran SP4N LAPOR! (Foto: HET)

“Kalau ada laporan yang masuk ke kami (Ombudsman), biasanya kami tanya lebih dahulu, sudah lapor ke UPP (Unit Penanganan Pengaduan) terkait atau belum? Mereka tidak tahu harus mengeluh ke mana, sosialisasi belum maksimal sehingga banyak laporan itu ada di facebook,” ungkap Darius.

Menurut Darius, laporan-laporan yang masuk melalui berbagai kanal di setiap instansi, jika dilakukan secara serius dan berskala, bisa mempengaruhi kebijakan Pemkot Kupang. Kebijakan-kebijakan yang dibuat harus menjawabi persoalan masyarakat.

Walau masih dalam proses, Ombudsman NTT tetap mengapresiasi usaha Pemkot dalam mengoptimalkan pelayanan publik dengan adanya SP4N LAPOR!. Pihak-pihak terkait diharapkan saling bekerja sama demi mewujudkan pelayanan publik yang lebih maksimal. (het)

Related Posts:

Memungut Keping-Keping Kehancuran “Manusia-Manusia Patung”

Ilustrasi: Pixabay/ Kellepics

Membaca puisi Manusia-Manusia Patung karya Gusty Fahik (Gufak) yang terpampang pada halaman Headline Kompasiana (27/1/2019) menuntut pembaca untuk melakukan aktivitas membaca 'beberapa kali'. Saya yakin bahwa pembaca gelisah (aktif-kritis) tentu membutuhkan waktu ekstra untuk memaknai dan memahami intensi puisi tersebut. Syukurlah jika ada pembaca yang 'sekali baca' langsung memahami motivasi dari puisi tersebut. Apresiasi patut dilayangkan.

Tentunya bukan tanpa alasan sistem/ kurator di Kompasiana memberikan label Headline tidak lebih dari 20 menit ketika Manusia-Manusia Patung ditayangkan Gufak. Saya sempat 'terkejut' ketika puisi tersebut langsung diberi label headline, saat itu. Bukan soal kualitas tetapi tempo yang menurut saya terlampau singkat untuk sebuah karya (puisi) lolos kurasi. Gufak yang adalah salah satu penulis (sastrawan) NTT produktif memang sudah tidak diragukan lagi kualitas tulisannya. Ah, agar tidak terjebak dalam subyektivitas, mari kita menyimak interpretasi berikut.

Dalam posisi sebagai pembaca gelisah, ulasan ini mungkin mewakili para pembaca yang sempat berkerut kening ketika membaca puisi tersebut. Gufak dalam proses kreatifnya menghadirkan imaji liar dan kaya akan metafora yang liar pula.

Tentang Manusia-Manusia Patung, Gufak seolah mengajak pembaca untuk berfilsafat. Toh, memang karya sastra tidak bisa dilepas-pisahkan dari filsafat. Adalah hambar jika suatu karya sastra dipisahkan dari cabang ilmu tersebut. Demikian puisi lahir dari dunia sunyi penyair. Ia yang menyikapi realitas melalui permenungan mendalam, sebagaimana manusia berfilsafat.

Sebelum mengulas lebih jauh ada baiknya saya lampirkan puisi Gufak. Berikut puisinya:

Manusia-Manusia Patung

/1/
Beberapa malam terakhir
entah oleh sebab apa ia terbangun, melihat
sosok-sosok yang telah menjadi patung
saling kunjung

oh, itu bukan patung-patung
mereka manusia
atau yang sesekali waktu
pernah menjadi manusia

seperti dirinya?
Ia bertanya entah tentang siapa.

/2/
Ia telah membeli kaca mata untuk berjaga-jaga
bila terbangun lagi malam ini
ia akan mampu membedakan patung-patung
dari manusia,
dari dirinya

tapi ia tak melihat (si)apa-(si)apa
hanya suara-suara berkisah tentang kemarau panjang
yang membakar ladang-ladang jagung
seperti kabar kematian yang dekat meski tetap asing

/3/
Aku bosan menjadi patung, ia mendengar sebuah suara
Oh, aku sudah lelah menjadi manusia,

Lalu kisah-kisah mengalir lewat sepasang mulut yang
bertukar suara

Malam basah, rupanya di luar sedang gerimis
dia takut pada gelap, juga lelap
dibiarkan telinganya terbuka,
menangkap suara-suara

/4/
Jadi apakah patung ini harus dirobohkan juga?
Ya. Kasihan. Ini patung paling indah di kota kering ini.
Ia mendengar mesin-mesin bekerja

5/
Tubuhnya rubuh, hancur berkeping-keping
Oh, aku hanya sebuah patung!
Ia berseru, entah kepada (si)apa.

(Kupang, 17-19)

Agar dapat memaknai Manusia-Manusia Patung sebagai teks sastra yang utuh, pembaca diharuskan masuk ke dalam puisi itu sendiri. Tetapi dengan catatan bahwa pembaca 'melupakan posisi penyair' dan menjadi 'aktor' di dalam puisi tersebut. Artinya sebelum membuka kemungkinan bagi interpretasi-interpretasi lain, terlebih dahulu memposisikan diri sebagai sosok yang dicitrakan dalam puisi.

Meminjam istilah Afrizal Malna (Sastrawan Indonesia), pembaca hendaknya melakukan pembacaan terhadap puisi dengan cara masuk dan keluar lagi dari puisi yang dibaca. Selain itu bisa menerapkan teknik pembacaan klasik dua dinding internal-eksternal.

Bayangkanlah bahwa di dalam puisi tersebut, Anda (aku/ pembaca) adalah sumber, sense dan intention bagi citraan Gufak. Tetapi jangan sampai terjebak dengan posisi penyair, karena saat puisi sampai di hadapan pembaca penyair seolah 'mati'.

Sesungguhnya pembaca adalah sosok yang mengalami dan merasakan kegelisahan-kegelisahan dalam puisi tersebut. Setelahnya pembaca kembali mengambil posisi sebagai 'pengamat' yang melihat dirinya sendiri dan membuka peluang bagi kompleksitas interpretasi.

Gufak membuka puisinya dengan usaha memahami kegelisahan 'sosok-sosok lain' (the second other) setelah memahami diri sebagai 'aku yang lain' (the other). Artinya dalam posisinya sebagai kreator, penyair menyadari dan turut merasakan kegelisahan yang dialami sosok tersebut. Kegelisahan macam mana?

Pada bagian /1/, pembaca akan meneropong interaksi sosok (persona I) terhadap sosok-sosok (persona III) yang sama-sama mengalami kegelisahan. Larik sosok-sosok yang telah menjadi patung/ saling kunjung sesungguhnya merupakan metafora yang mewakili kegelisahan.

Nah, agar dapat mengetahui kegelisahan dimaksud maka pembaca perlu menguak makna simbolik yang terdapat pada bagian /1/. Sebab di dalamnya, penyair menyandingkan pilihan kata manusia dan patung. Sudah tentu pembaca dapat memaknainya secara terpisah.

Manusia sebagai makhluk yang 'hidup', berakhlak mulia mampu menjadikan persona (propritus) itu manusiawi (humanus). Ketika disandingkan dengan pilihan kata patung maka interpretasi yang muncul berisikan satir-sarkas. Gufak melalui puisinya berusaha meramu sindiran dengan adanya manusia patung.

Patung adalah karya tiga dimensi yang sarat nilai estetis, sebab adanya memang sebagai karya seni. Patung dalam segala wujudnya mewakili pesan-pesan (makna) dari keberadaannya. Dalam diam, tidak berkata-kata, tidak tahu apa-apa, tidak punya rasa; sebenarnya patung sedang berbicara dan merasa dalam konsep dan situasi tertentu.

Itu patung-patung atau yang sesekali waktu pernah menjadi manusia adalah gambaran akan situasi dimaksud. Pembaca bisa menginterpretasi situasi “keterasingan” yang dialami oleh manusia-manusia yang tidak berdaya.

Ketakberdayaan itu merujuk pada sosok aku yang sebenarnya bimbang dengan keberadaannya dalam ruang dan waktu tertentu. Aku yang tidak berdaya adalah “aku” yang tidak berguna. Seperti sampah? Iya, aku itu manusia sampah. Penyair sengaja memberi label manusia patung, biar aku tampak berguna yang mungkin sesekali memberi keindahan di kota, tempat tinggal. Rupanya penyair masih merasa kasihan terhadap “aku”. Dasar penyair sukanya bersembunyi di balik kata (lupakan ini!)

Pada bagian /2/, menyadari aku yang tidak berguna, ada usaha dari dalam diri untuk coba keluar dari keterpurukan itu. Walau sebenarnya usaha itu makin memperparah dan membebankan. Kaca mata yang aku kenakan tidak lebih dari sampah busuk yang telah melahirkan ulat-ulat berbulu di mata. Jika pada bagian /1/ aku masih mampu membedakan, di bagian ini aku bahkan tidak melihat siapa-siapa dan apa-apa.

Kegelisahan makin merasuk dengan dikirimkannya hantu-hantu musim yang mematikan. Ada kisah tentang kemarau panjang, ialah kelaparan akibat gagal panen, mungkin. Walau sebenarnya aku tidak mempunyai ladang jagung atau punya sebidang tetapi malas untuk mengelolanya. Oleh sebab itu, aku sebenarnya tidak perlu merasa asing dengan kematian. Penyair terlalu 'sadis' memberi citraan atau mungkin ini adalah bagian dari usaha 'memaksakan' hiperbola? Entahlah, mungkin metafor 'lebay' yang berkelas.

Memasuki bagian /3/, penyair mendramatisir situasi. Perhatikan larik-larik bercetak miring yang mengisyaratkan monolog si aku dan 'aku yang lain'. Aku sudah bosan menjadi patung/…Oh, aku sudah lelah menjadi manusia. Pembaca akan menghadirkan respon visual dengan presisi dan metafora yang ditawarkan penyair dalam teknik jukstaposisi ini. Ada dua unsur yang dibandingkan, tetapi bukan pertentangan (kontradiktif). Jika dicermati, maka penyair sebenarnya ingin menegaskan situasi (kegelisahan) aku yang tiada bedanya dengan 'aku yang lain'.

Penegasan itu kemudian diperjelas lagi dengan beragam ketakutan yang dialami si aku. Akibat dari ketakutan adalah terperangkap dalam situasi pasrah, lebih konyol dari ketakberdayaan.

Perhatikan bagian /4/, pertanyaan sekaligus pernyataan reflektif hadir sebagai gambaran realitas. Bahwa sosok aku yang tidak berdaya dan tidak berguna sangat pantas untuk dilenyapkan sebagaimana patung dirobohkan.

Di sana ada satir-sarkas bahwa belas kasihan tidak lebih dari cemooh sosok-sosok di sekitar aku. Mesin-mesin yang berperan untuk merobohkan adalah gambar penolakan (sosial) terhadap si aku, manusia tidak berdaya, manusia tidak berguna, manusia patung, manusia sampah, manusia yang sebaiknya mati saja.

Sehingga pada bagian /5/ sekaligus penutup puisi, Gufak menggambarkan sosok aku yang telah mati sebelum meninggal. Si aku bukanlah siapa-siapa. Ia hanyalah patung (bukan karya seni). Adanya hanya 'memperkosa' kehidupan itu sendiri. Ya, si aku adalah potret dari manusia-manusia patung yang membangkang kehidupan yang seharusnya dihidupi. Hidup itu memuakkan, mati saja lebih baik. Setelah mati, mati lagi.

Dalam puisi Aku karya Chairil Anwar ada intensi tentang individualitas yang berusaha bebas dari situasi keterkungkungan tanpa adanya kekuatan luar. Atau intensi yang selaras dengan konsep Friedrich Nietzsche (Filsuf Eksistensialisme) bahwa penderitaan mengajarkan agar manusia kuat. Nah, Manusia-Manusia Patung adalah kebalikan dari puisi Aku. Jika Chairil ingin hidup seribu tahun lagi, maka Gufak menggambarkan sosok yang ingin mati seribu tahun lalu.

Baiklah setelah masuk, kita coba keluar lagi untuk melihat sepintas si aku dalam Manusia-Manusia Patung dari radius sejarak cinta dan benci. Bisa jadi, melalui puisi tersebut Gufak menyikapi realitas yang tidak bisa dipungkiri. Bahwa di sekitar pembaca atau pembaca itu sendiri adalah aku dan 'aku yang lain'.

Ada indikasi bahwa dalam kehidupan ada sosok-sosok yang diasingkan atau mengasingkan diri, entah dalam lingkup sosial, politik, budaya, ekonomi, dll. Namun demikian, sebagai individu perlu ada perjuangan untuk menjalani kehidupan itu sendiri. Seperti Chairil yang dengan 'sombong' meramu kekuatan untuk bebas dari segala bentuk penderitaan tanpa pengaruh kekuatan di luar dirinya.

Memang, adanya individu tidak bisa terlepas dari orang lain. Ingatlah zoon politicon-nya Aristoteles (filsuf Yunani) atau konsep Adam Smith (filsuf berkebangsaan Skotlandia) tentang homo homini socius. Tetapi perlu diingat pula bahwa dalam lingkup sosial, manusia bisa saja menjadi serigala bagi sesamanya (homo homini lupus, Thomas Hobes).

Artinya lingkungan sosial tidak seharusnya membuat nyaman keberadaan individu. Kalau usaha untuk menghidupi diri sendiri saja tidak mampu, bagaimana mau memberi sumbangsih terhadap lingkungan sosial? Hidup itu adalah pertarungan, yang menang akan tetap hidup, yang kalah sudah tentu mati.

“Manusia dikutuk untuk bebas; karena begitu terlempar ke dunia dia bertanggungjawab atas semua yang dia lakukan” (Jean-Paul Sartre, filsuf Prancis). Bisa jadi Manusia-manusia Patung adalah sangkalan atas pernyataan tersebut. Ialah sosok yang setelah dikutuk untuk bebas, ia lalai akan segala bentuk tanggungjawab, termasuk dirinya sendiri. Seperti patung, layaknya dirobohkan.

 ***

Kupang, 31 Januari 2019
HET

Artikel ini pernah tayang di Kompasiana, 31 Januari 2019

Related Posts:

Mempercepat Pelayanan Publik, Pemkot Kupang Meluncurkan SP4N LAPOR!


Kupang, LekoNTT.comDalam upaya mendorong dan meningkatkan pelayanan publik lingkup Kota Kupang, Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang akan meluncurkan Sistem Pengelolaan Pengaduan Pelayanan Publik Nasional – Layanan Aspirasi dan Pengaduan Online Rakyat (SP4N LAPOR!). Sarana aspirasi dan pengaduan yang berbasis media sosial ini akan diluncurkan dan disosialisasikan pada Jumat (26/7/2019) hari ini, bertempat di Aula Garuda, Sekretariat Daerah Kota Kupang. Selain peluncuran sistem tersebut, akan dibentuk juga Unit Penanganan Pengaduan (UPP) Dinas Kesehatan Kota Kupang.



Turut hadir dalam kegiatan ini, Wakil Walikota Kupang, Hermanus Man, Kepala Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Nusa Tenggara Timur (NTT), Darius Beda Daton dan perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemkot Kupang.

Dalam sambutannya, Hermanus Man mengharapkan dengan adanya SP4N LAPOR! dapat mempermudah masyarakat dalam menyampaikan keluhannya terkait pelayanan publik oleh Pemkot Kupang. “Semoga dengan adanya LAPOR!, masyarakat dapat berperan aktif dalam upaya perbaikan pelayanan publik yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Kupang, ungkapnya.

Ia juga menegaskan kalau setiap laporan yang masuk akan ditindaklanjuti dengan baik oleh Pemkot Kupang. Saran, kritik dan pengaduan dari masyarakat terkait pelayanan publik dapat dikirim melalui SMS ke 1708 dengan format KOTKUPANG (spasi) isi Laporan. Selain itu, masyarakat juga bisa menyampaikan laporan melalui website www.lapor.go.id ataupun aplikasi mobile.
 
Sistem kerja LAPOR! (Sumber: LAPOR!)

SP4N LAPOR! itu sendiri merupakan implementasi dari Undang-Undang Nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, Peraturan Presiden Nomor 76 tahun 2013 tentang Pengelolaan Pengaduan Pelayanan Publik Nasional dan Peraturan Menteri PAN & RB Nomor 62 tahun 2018 tentang Pedoman Sistem Pengelolaan Pengaduan Pelayanan Publik Nasional. Berdasarkan peraturan-peraturan tersebut, pemerintah baik pada tataran Pusat maupun Daerah, wajib menggunakan LAPOR! sebagai media penerimaan pengaduan masyarakat. Pemkot Kupang sendiri telah terhubung dengan sistem LAPOR! sejak Mei 2018.

Penerapan SP4N LAPOR! dan penguatan UPP Dinas Kesehatan ini merupakan kerja sama antara Pemkot Kupang  dan Bandung Trust  Advisory Group (B_Trust). Kerja sama ini didukung oleh USAID CEGAH, sebuah program kerja sama antara Kemeneterian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Kantor Staf Presiden (KSP) dan Ombudsman Republik Indonesia (ORI) dengan United States Agency for International Development (USAID).

Guna meningkatkan kualitas pengelolaan pengaduan, B_Trust melalui program USAID CEGAH melakukan pendampingan teknis pada 33 Pilot yang terdiri dari 6 Kementerian/Lembaga, 13 Pemerintah Provinsi dan 14 Pemerintah Kota, salah satunya adalah Pemkot Kupang. Tujuan dari kegiatan pendampingan teknis ini untuk meningkatkan kualitas pengelolaan pengaduan melalui sistem LAPOR! serta kualitas tindaklanjut pada OPD melalui pembentukan UPP, dimana Dinkes Kota Kupang terpilih sebagai Pilot. 

Ist.

Ajie Ginanjar Nugraha, Fasilitator B_Trust menyampaikan, pendampingan teknis yang telah dilakukan sejak Januari 2018 ini bertujuan memperkuat pengelolaan pengaduan di Pemkot Kupang melalui penerapan sistem LAPOR! serta pembentukan UPP pada Dinas Kesehatan. Pembentukan UPP dilakukan melalui serangkaian diskusi kelompok terfokus (FGD) yang melibatkan personil Dinkes serta Ombudsman Perwakilan NTT.

Menurut Ajie, selain terbentuknya UPP, output lain yang telah dihasilkan adalah Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan pengaduan, kode etik penanganan pengaduan serta Standar Pelayanan Pengaduan. Ia juga mengharapkan agar pengelolaan dapat dimaksimalkan.

“Mudah – mudahan dengan adanya UPP serta Peraturan Pendukung lainnya, pengelolaan pengaduan di Dinas Kesehatan kota Kupang dapat semakin efektif dan terkoordinasi dengan baik, ” ungkapnya. (ed. het)

Related Posts:

Translate

Populer Dalam Minggu Ini