LekoNTT.com: Membaca Dahulu, Berkomentar Kemudian | Baca Buku Apa Hari ini? | Cegah Covid-19, Patuhi Protokol Kesehatan
Archive for Mei 2021

Musrin dan Kerja Sampingan di Kampung Nelayan

 

Kampung Nelayan

Lapangan sepak bola itu tampak lenggang. Sebagian isi lapangan hampir tertutup dengan air, sisa hujan beberapa waktu lalu. Seekor kambing betina dengan anaknya mengembik di sudut lapangan, mengais sisa makanan dari penghuni rumah. Hampir tidak ada rumput di perkampungan itu. Entah dari mana, kambing dapat hidup.

Perkampungan Nelayan di Desa Nangadhero, Nagekeo siang itu tampak sepi. Beberapa orang muda duduk di serambi depan rumah, bercengkrama, membagi cerita. Dua tiga kendaraan bermotor lalu lalang di jalanan yang menghubungkan kampung lain ke kampung itu.

Hampir sebagian besar penduduk di kampung itu adalah nelayan. Sembari melaut, beberapa di antaranya menjalankan usaha seperti membuka kios kelontong, warung makan dan penjualan ayam potong.

Pasar harian di kampung itu menjual berbagai macam-macam kebutuhan pokok, ada sayur-mayur kebutuhan pangan, bumbu dapur, dan holtikultura. Saat musim gelombang laut sedang tinggi, nelayan di Nangadhero kesulitan untuk mendapatkan ikan. Mereka akan menukar ikan hasil tangkapannya dengan sayur mayur yang dijual di pasar Nangadhero.

Kehidupan di pesisir tidak mudah, hanya pribadi dengan jiwa petualang yang mampu bertahan hidup di sana. Kampung Nelayan itu pun terdiri dari berbagai suku. Ada suku Buton, Bugis, Bajo, Mbay, Alor, Meto dan Jawa. Mereka telah berbaur sebagai keluarga. Saling menopang dikala duka. Giat berbagi saat suka maupun duka sebagai satu keluarga besar yang mendiami perkampungan; yang rakyatnya masih jauh dari sejahtera.

Kisah Hidup Musrin

Di tengah perkampungan nelayan ini, hidup seorang anak muda tangguh. Namanya Musrin. Kini usianya telah mencapai dua puluh dua tahun. Musrin berkulit sawo matang, dengan tinggi 150-an cm. Sehari-hari ia bekerja di Puskesmas pembantu desa Nangadhero.

Aktivitas di Pustu ia jalani dari pagi hari pukul 08.00 hingga 13.00 WITA. Sepanjang bekerja di Pustu ada banyak pengalamannya melayani masyarakat kecil yang membutuhkan uluran tangannya. Pengalaman melayani masyarakat kecil membuatnya selalu murah senyum dan ringan tangan melayani siapa saja.

Rumah lulusan keperawatan ini terletak di ujung kampung, ukurannya mungil berdinding bebak. Di depan rumahnya tergantung sebuah baliho ‘Tempat Praktek Pengobatan.’ Ya, Musrin membuka praktik pengobatan di rumahnya, sembari menjual kebutuhan medis.

Ada berbagai jenis obat-obatan yang dijual Musrin di rumahnya. Berbekal ilmu kesehatan yang diperoleh di bangku kuliah, ia membuka tempat praktek di rumahnya. Warga di kampung merasa terbantu dengan kehadiran toko obat mini, mereka tak perlu lagi ke Kota Mbay untuk membeli obat-obatan bila diperlukan.

Biaya pengobatan disesuaikan dengan kondisi ekonomi pasien. Kalau pasien kurang mampu, Musrin menyesuaikan dengan kondisi dompetnya. Sementara untuk orang tua atau lansia, Musrin akan memberikan pengobatan secara gratis karena menurutnya pasien lansia tersebut adalah pengganti orang tuanya yang telah lama meninggal.

Pengalaman MATA KAIL

Musrin menuturkan bahwa program MATA KAIL sesuai dengan kebutuhan warganya yang ada di pesisir karena memiliki potensi perikanan  dan pariwisata. “Di dekat sini ada air panas, kurang lebih 1 Km dari rumahnya, kami anak-anak muda di desa ini jualan di sana setiap hari Minggu.”

Hasil dari pelatihan yang diperolehnya, ia dapat memulai mengatur bisnis dan  mengatur penghasilan dari tempat prakteknya. Kalau sebelumnya penghasilannya hanya empat juta rupiah per bulan, kini ia dapat memperoleh penghasilan hingga enam juta rupiah per bulan. Pengetahuannya jadi meningkat berkat pelatihan dari MATA KAIL.

Musrin menuturkan bahwa ternyata anak muda bisa untuk memulai sesuatu tanpa bergantung pada orang tua. Pelatihan ini membuatnya sadar untuk meningkatkan citra diri sebagai anak muda yang mampu memberikan contoh dan teladan bagi anak muda di kampungnya.

Ketika mengikuti pelatihan MATA KAIL, Musrin bertekad untuk menggiati usaha secara disiplin dan konsisten serta punya tujuan dalam berwirausaha. Dengan tekad yang kuat ia yakin usahanya akan tercapai.

Sebagai anak muda yang punya pengetahuan dan mampu bersekolah, ia berharap bisa memberikan contoh bagi sesama anak muda di kampungnya. Kampung mereka terdiri dari anak muda yang tak mampu bersekolah tinggi. Kebanyakan di antaranya tidak menamatkan pendidikan atau bahkan tidak bersekolah samasekali. Karena tidak mampu bersekolah, mereka memilih untuk menjadi nelayan atau pekerja kasar.

Kondisi ini yang membuat Musrin tergerak untuk memberikan contoh yang nyata bagi anak-anak muda, agar mampu bangkit dan berdiri sendiri. Tidak lagi tergantung pada orang lain, atau orang tuanya. Dengan kehadiran program MATA KAIL, Musrin mampu untuk memulai usahanya sendiri sehingga ia tidak lagi bergantung atau membebani siapapun.

***

Penulis: Ardy Milik

Related Posts:

Persiapkan Murid Belajar Luring, SLB Pembina Kupang Ikut Surveilens Sekolah Bebas Covid-19

 

Kupang, LekoNTT.com - Sebagai salah satu satuan pendidikan yang terpilih untuk mengikuti program Surveilens Sekolah Bebas COVID oleh Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat (Lab Biokesmas) NTT, Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Kupang hari ini (19/05/2021) menjalani tes swab secara pooled-test terhadap 93 warga sekolahnya. Jumlah ini yang terdiri atas 60 orang guru dan 33 orang murid, mengikuti tes tersebut, bertempat di gedung aula sekolah.

Antusiasme, penasaran dan juga rasa khawatir tampak menyelimuti ruangan aula yang dipenuhi oleh staf, guru, beserta murid yang didampingi oleh orang tuanya. Banyak yang belum pernah mengikuti pemeriksaan swab dan tampak was-was terhadap reaksi penolakan dari anaknya.

“Awalnya saya merasa takut anak saya akan di-swab, tetapi saya memberanikan diri untuk mendaftarkan, karena saya tahu kegiatan ini sangat penting demi proses belajar anak saya,” ujar salah satu orang tua murid, Monika Henukh. “Saya berharap dengan pengambilan swab seperti ini, kami pihak orang tua tidak akan khawatir lagi untuk membiarkan anak kami belajar di sekolah secara offline.

Kegiatan ini dimulai sejak pukul 9:00 WITA di bawah koordinasi panitia sekolah. Salah seorang guru, Supriati mengaku deg-degan mengikuti tes swab. ”Deg-degan mengikuti swab tapi deg-degan juga mengetahui hasilnya”. Lebih lanjut ia mengatakan "meskipun demikian, dengan menjalani tes, kami staf pengajar dapat memastikan kondisi kesehatan kami sebelum akan memulai pembelajaran secara luring di sekolah.”


Kepala Sekolah SLB Negeri Pembina Kupang, Elisabeth Paledan yang mengawasi langsung berjalannya kegiatan swab menyampaikan bahwa selama pandemi, telah setahun lebih pembelajaran di SLB Negeri Pembina Kupang dilakukan secara jarak jauh sehingga cenderung kurang efektif dan cukup banyak pengeluhan dari orang tua. “Inilah alasan utama mengapa sekolah kami memutuskan untuk ikut dalam program ini.”

“Kebanyakan orang tua sangat setuju dengan pembelajaran secara offline yang terbatas dan terkontrol ini, sedangkan bagi orang tua murid yang belum setuju, anaknya tetap akan kami layani secara jarak jauh,” lanjutnya.

Ia juga menambahkan bahwa saat ini sekolah telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut pembelajaran secara offline, di antaranya menyediakan tempat untuk mencuci tangan dan pengawasan ketat terhadap pematuhan protokol kesehatan. “Terima kasih kepada pihak Lab Biokesmas NTT dan Dinas Pendidikan Provinsi NTT yang telah mengikutsertakan sekolah kami dalam program ini, sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap pendidikan khususnya pendidikan untuk sekolah luar biasa.”

Stormy Vertygo, salah seorang staf laboran Biokesmas NTT yang hadir di lapangan, mengatakan bahwa pengambilan sampel swab hanyalah merupakan salah satu tahap atau bagian dari Surveilens Sekolah Bebas COVID-19, sebuah program pendampingan yang digagas Fima Inabuy, Ketua Tim Lab Biokesmas. Program ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi NTT, khususnya Dinas Pendidikan Provinsi NTT.

Tindak lanjut dari tahap ini adalah diadakannya edukasi dan pendampingan terhadap pelaksanaan Protokol Kesehatan (prokes) di area sekolah. “Prokes diharapkan bukan hanya dilihat sebagai sebuah aturan, melainkan kesadaran,” ungkap Stormy.


Warga sekolah mematuhi prokes bukan karena takut tidak akan diperbolehkan memasuki kawasan sekolah, tetapi juga karena telah menyadari betapa pentingnya menjaga keselamatan individu dan juga orang di sekitar mereka dari ancaman virus ini, "inilah salah satu tujuan utama dari program kami yang sebenarnya,” ujarnya.

Selanjutnya ia juga mengucapkan terima kasih kepada pihak sekolah atas kerja sama yang sangat baik selama proses pengambilan swab berlangsung dan berharap agar pembelajaran luring di sekolah dapat berlangsung secara efektif dan maksimal nantinya.

Fima Inabuy selaku Ketua Tim Lab Biokesmas, mengungkapkan bahwa tujuan program ini bukanlah menjamin bahwa setiap warga sekolah tidak akan terkena Covid-19, tetapi menjamin bahwa sekolah tidak akan menjadi cluster penularan Covid-19. “Pada akhirnya kedisplinan prokes masing-masinglah yang dapat menjamin setiap warga sekolah akan aman dari Covid-19”, ujarnya.

Lab Biokesmas NTT masih membuka pendaftaran bagi sekolah-sekolah, dan juga kampus, di Kota Kupang untuk mengikuti program Surveilens Bebas COVID-19. (red)

Related Posts:

Pulang ke Dada Ibu Sebab Rindu Tak Dibayar Negara | Pilihan Puisi Silviona W. Pada

Tanpa Titik Temu

Kita melalui hari
Tanpa permisi
Tanpa bukti
Tanpa isi
Sedangkan temu seperti waktu
Segera berlalu, 
Seperti udara
Menjadi debu
Seperti api
Menjadi abu.

Kupang, 22 Februari 2020


Pulang

Aku ingin pulang
Pada seseorang yang rindunya selalu dipendam
Di hadapan malam yang gelap
Doanya terus membentang.

Aku ingin pulang
Di saat sabana mengering; malam yang dingin
Waktu yang tepat aku memeluk punggungnya.

Aku ingin pulang
Ke dada ibu yang berbau tanah ladang
Tempat aku berpegang.
Di sana rindu yang bersemayam, menjelma doa yang tak henti berdendang.

Kupang, 23 maret 2020


Mencintaimu #1

Mencintaimu adalah kesiapan
Menjadi tangguh dalam mengagumi
Menjadi rapuh di lain waktu.

Kupang, 15 Maret 2020

Mencintaimu #2

Mencinta, kata kerja
Bila tak serasa
Setidaknya pernah membuatmu terjaga.

Waingapu, 2021


Rindu #1

Beberapa pencandu rindu lupa, bahkan ketika sudah diadu, rindu yang terlalu menggebu berakhir jadi debu.

Waingapu, 2021


Rindu #2

Jika setiap merindu dibayar negara
Maka aku adalah orang yang paling kaya.

Waingapu, 3 Maret 2021


Gagal

Kau berharap menjadi puisi,
Tapi tidak pernah sudi

Mati, dan jadi abadi.

Waingapu, 4 Maret 2021


Seteru Baru

Kerap kali berseteru perihal temu,
Bukankah cinta memang begitu?
Kau diharuskan keliru dan dipenuhi cemburu 
Sebelum merindu dan diizinkan bertamu.

Waingapu, 26 Maret 2021

***

Silviona W. Pada, penggiat Komunitas Leko Kupang, apoteker yang terlanjur jatuh cinta kepada puisi.

Related Posts:

Jembatan di Kampung Sendiri Seusai Seroja

 

Bencana seroja melanda Nusa Tenggara Timur sejak 4 April 2021. Seroja memporak-porandakan wilayah Kota Kupang dan sekitarnya. Seroja menghancurkan rumah, menghilangkan nyawa, menumbangkan pepohonan hingga membatasi jalan menuju berbagai tempat yang ingin dituju.

Bencana seroja merupakan bencana terbesar semenjak beberapa tahun belakangan. Bagi warga Nusa Tenggara Timur, bencana ini merupakan pukulan berat yang menghantam sendi perekonomiannya. Badai yang melanda Provinsi Nusa Tenggara Timur kali ini merupakan badai terdasyhat sepanjang puluhan terakhir.

Dampak yang terasa bukan saja secara material tetapi juga non-material. Kerusakan fisik dan mental yang terjadi, terasa mengguncang jiwa dan raga manusia-manusia di NTT.

Badai Seroja ini juga turut menghantam salah satu kampung di pedalaman Kabupaten Kupang. Jarak kampung ini dari pusat Ibukota sekitar 30 Km. Namanya Kampung Sendiri.

Kampung Sendiri terletak di RT 17, Desa Pukdale, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang. Penduduk di kampung ini berjumlah lebih dari 100 jiwa. Rerata pekerjaan penduduk di kampung ini adalah petani. Sehari-hari mereka mengandalkan hidupnya dari hasil pertanian.

Saat badai Seroja mengepung NTT, Kampung Sendiri terisolir karena kali yang menghubungkan kampung ini dengan kampung di sebelahnya mengalami banjir hingga masyarakat kesulitan pasokan bahan makanan dan lain sebagainya.

Kampung Sendiri pernah mengalami banjir pada tahun 2006. Setelah tahun 2006 ada normalisasi kali dari pemerintah. Kemudian, pada tahun 2011 sempat terjadi banjir lagi. Sejak 2011 sampai 2020 karena curah hujan yang jarang, kali tersebut menjelma hutan. Ketika bencana terjadi, air tidak dapat mengalir dengan lancar karena terhalang pepohonan yang tumbuh di sekitar areal kali, dan air naik ke pemukiman warga.

Leksi Delu, Ketua RT 17 Kampung Sendiri Desa Pukdale, Dusun IV, menjelaskan “ada bencana batong sonde bisa berbuat apa ya begini sudah. Dari tanggal 3 sampai tanggal 4 batong paling setengah mati di sini. Beta sebagai RT, semua masyarakat itu datang kepada beta di sini.”

Pasokan listrik ke Kampung Sendiri terhenti sejak adanya Badai Seroja. Selain kekurangan pasokan listrik, tempat ini juga mengalami kesulitan air bersih. Selama masa bencana masyarakat mengonsumsi air mineral-bantuan dari berbagai donatur. Bantuan lain yang diperoleh berupa minyak goreng, dan beras.

Warga Kampung Sendiri terancam kehilangan mata pencaharian sebab sawah yang hampir dipanen telah dilanda oleh badai sejak 4-5 April 2021. Ketua RT bersama masyarakat giat membicarakan sepanjang satu tahun ke depan akan mencari makan ke mana atau di mana. Uang yang tersedia telah dipakai untuk membeli pupuk, obat dan lain sebagainya.

"Setelah panen itu, kami akan tanam kurus (lombok, red) jagung, tomat, dan lain-lain. Yang dibutuhkan sekarang ini air bersih, sabun, dan odol. Kami akan susah karena kehilangan mata pekerjaan. Sawah yang sementara menghijau sudah rusak semua. Selokan untuk mengalirkan air pun telah putus. Jadi kalau tidak ada perhatian dari pemerintah ke depan untuk memperbaiki yang rusak, katong sonde akan ada pekerjaan lagi.” terang Leksi Delu.

Jembatan yang dibangun awalnya adalah swadaya masyarakat. Jembatan itu berupa bangunan semen yang melintasi permukaan kali.

Pada tahun 2010, masyarakat mengerjakan jembatan penghubung secara swadaya. Saat mengerjakan jembatan sederhana bertepatan pula dengan pembangunan bendungan. Masyarakat setempat bernegosiasi dengan kontraktor untuk menyumbangkan semen sebanyak 10 sak agar dapat membantu pekerjaan jembatan secara swadaya.


Menurut Kepala Desa Tetebudale, Okto Lesiani, angin seroja yang melanda desa pada hari Sabtu itu, tidak menimbulkan kerusakan berat. Badai yang datang di hari berikutnya, itulah yang menimbulkan banyak kerugian. “Bencana susulan itu yang berat, rumah-rumah hanyut dan rata dengan  tanah. Rumah yang rusak itu ada 605 yang rusak dari 127 KK,” terang Kepala Desa.

Untuk pelayanan di sebelah kali, pemerintah desa setempat memyuplai beras, sayur-sayuran dan dapur. Salah satunya di Posko yang terdapat di Gereja GMIT, Jemaat Mizpa Tetebuddale. Aktivitas posko menerima bantuan pada pagi dan siang hari, sementara masyarakat yang terdampak bencana tetap beraktivitas seperti biasa memperbaiki rumah yang rusak dan hancur.

"Sembako sejauh ini masih tercover, obat-obatan juga. Kita manfaatkan di depan desa. Termasuk yang dari luar, LSM mendatangkan obat-obatan. Sejauh ini kita gotong-royong, kita tunggu bantuan dari pemerintah. Kita upayakan segala hal tidak ada. Sejauh ini kita sudah Musrembang tapi belum ada hasil. Itu ada 31 rumah yang terdampak," tutup Oktovianus.

Penulis: Ardy Milik

Related Posts:

Translate

Populer Dalam Minggu Ini