LekoNTT.com: Membaca Dahulu, Berkomentar Kemudian
Payung Peninggalan Ayah | Cerpen - LekoNTT

Payung Peninggalan Ayah | Cerpen

Penulis: Kevin Alfiarizky

Seminggu yang lalu, payung itu masih belum ada di rumah. Ia masih berkelana dari pertokoan mewah, rumah ke rumah, dan tangan ke tangan, sampai ayah menemukannya di pasar loak. Kata ayah, payung itu bisa menjagaku dari segala hal. Namun payung itu yang membuat ayah pergi. Selamanya.
Ilustrasi: Merlin Mare.
Aku masih ingat betul pakaian yang dikenakan ayah saat itu. Kaos berkerah berwarna abu-abu dengan bordir bergambar penunggang kuda di dada kiri, dan celana kain berwarna hitam yang didapatnya dari pasar loak. Itu hari minggu, hari yang paling ditunggu-tunggu keluargaku. Di hari minggu, kami semua bisa bermalas-malasan. Ibu yang terlalu lelah untuk pergi berbelanja ke pasar dan lebih senang membeli makanan dari luar. ayah selalu bangun kesiangan karena lelah menjadi pegawai kantoran. Kakak lebih senang bermain game di android-nya sepanjang waktu ketimbang belajar mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian.

Aku senang. Minggu adalah sebagian doaku yang telah terkabulkan. Keluargaku bisa berkumpul bersama sehari dalam sepekan dan meluangkan waktu dari segala kesibukan. Aku jenuh ditinggal mereka di rumah.

Rumah sangat ramai hari itu, walau mereka hanya bermalas-malasan di ruang tamu, setidaknya aku bisa menamatkan wajah mereka satu persatu sembari menonton serial kartun pagi di televisi. 

Rumah adalah tempat tinggal paling nyaman bagiku, selain rumah makan padang di perempat jalan dekat rumah. Apalagi bersama mereka. Ibu, ayah dan kakak.

Biasanya, ketika ayah tidak bekerja, selalu saja ada hal yang ingin ia kerjakan. Membersihkan halaman rumah, mencuci motor, menyemir sepatu, mencukur kumis atau sekadar berjalan-jalan menghibur diri. Ayah bukan tipikal orang yang gemar berdiam diri di rumah. Walau kutahu setiap akhir pekan ia selalu sengaja bangun kesiangan, untuk membayar hutang segala tidur yang belum terlunaskan katanya.

Pagi itu ayah mengajakku pergi ke suatu tempat yang sering ia kunjungi. Tumben, pikirku. Biasanya ia enggan mengajakku pergi di hari minggu, seperti tetangga sebelah rumah yang sering melakukan hal yang sama pada anak yang usianya seumuran denganku. Mereka sekeluarga keluar rumah, berkunjung ke suatu tempat wisata yang ramai seperti pantai, kebun binatang, taman bunga, atau sekadar jalan-jalan santai di sekitar alun-alun kota.

Ibu tak pernah mau diajak seperti itu. Katanya jalan-jalan hanya membuatmu lelah dan menghabiskan uangnya. 

Kakak lebih senang menghabiskan waktu bersama teman sejawatnya ketimbang pergi bersama adik laki-lakinya. Baru kali itu ayah mengajakku keluar rumah walau aku sendiri sangsi akan tawarannya.

Sepanjang perjalanan, ayah tak berkata apapun. Tiap kali aku bertanya, ayah selalu menjawab nanti juga kamu tahu. Aku dibuatnya penasaran. Jujur saja, ini kali pertamanya aku pergi keluar rumah di hari  minggu bersama ayah. Menaiki sepeda motor tua yang baru saja ia cuci sebelumnya. Mataku berpencar segala arah, kanan–kiri–kanan–kiri–kanan–kiri. Aku melihat jalanan yang ramai, mobil-mobil menyesaki ruang jalan, orang-orang yang ingin menyebrang, pedangan asongan di trotoar dan kakek tua yang menjual koran di persimpangan.

Perjalanan baru terlewat beberapa menit saja, tetapi aku sudah merasa lelah. Mungkin benar apa kata Ibu, jalan-jalan hanya membuatmu lelah... Walau sesungguhnya kita tak benar-benar sedang berjalan, duduk di sepeda motor beberapa menit saja sudah cukup membuatku lelah.

Aku bertanya pada ayah, sampaikah kita pada tujuan yang ia pinta? Sebentar kemudian motor yang kami tumpangi menepi di kiri jalan dan ia berkata kita sudah sampai!

Aku heran. Apa yang aku bayangkan meleset dari jangkauan. Pikirku, Ayah akan mengajakku pergi ke kebun binatang. Melihat zebra, jerapah berleher panjang, ikan-ikan di akuarium besar, memberi makan kucing liar yang hidup bebas di luar kandang kebun binatang atau ke toko ikan hias untuk membeli ikan baru. Bukan! Bukan kebun binatang juga bukan toko ikan hias. Ayah mengajakku berkunjung ke pasar loak.

Dalam hati, aku berdebat dengan diriku sendiri. Sunggguh apakah ini hal yang disukai orang dewasa? Tempat rongsokan sampah tak berguna? Apa yang sebenarnya ayah cari di pasar loak ?

Sebentar saja ayah sudah melesat meninggalkanku sendiri. Menyusuri kios-kios pedagang tanpa bangunan itu. Aku masih mencoba mencari tahu sesuatu yang membuat ayah jatuh hati pada tempat seperti ini. Di ujung sana, ayah melihat-lihat barang tua. Aku melihat besi-besi berkarat yang tak lagi berkilau, rantai-rantai yang terkulai,  mesin ketik sepuluh jari yang sama persis seperti yang ada di rumah, dan berbagai alat elektronik yang mungkin masih bisa dibenahi.

Lama-lama pikirku tempat loakan itu nyaman juga. Rasanya, aku seperti sudah sama tuanya dengan ayah. Mungkin ini yang ayah rasakan, bernostalgia dengan barang-barang kuno yang mungkin pernah berjaya di masanya. Seperti mesin jahit lama, uang koin kuno, alat pembuat tepung dari batu,  kamera zaman dulu, televisi tabung dan semua hal yang mungkin hanya bisa ditemui di tempat itu.

Ayah menimbang-nimbang keinginannya, barang di ujung sana menjadi pilihannya saat itu. Payung hitam dengan pegangan kayu berukir kepala ular cobra. Payung itu tampak seperti baru, warnanya pun masih solid, mungkin payung itu masih layak pakai dan seharusnya barang seperti itu masih ada di etalase-etalase kaca pemilik toko ternama.

Cukup lama ayah bersama si tukang loak. Dimainkannya payung itu, buka–tutup–buka–tutup, memastikan barang itu masih bisa digunakan. Ayah senang melihat payung itu, dan akupun senang melihat ayah seperti itu. Maka, terjadilah pertarungan tawar-menawar harga antara ayah dan tukang loak yang berlogat Madura.

Mula-mula ayah menawar setengah harga, tetapi payung malah disimpan kembali oleh pemiliknya. Katanya, harga segitu tidak boleh menebus barang antik yang masih bagus. Payung hitam itu buatan Belanda, sudah lama usianya. Lebih tua dari usia ayah.

Ayah terlihat ragu menatapku, katanya payung itu akan sangat berguna nantinya dan mungkin ibu akan menyukainya. Ayah menaikkan sedikit tawarannya dan si tukang loak itu melepas barang dagangannya dengan nafas panjang yang keluar dari dada. Aku senang melihat ayah memenangkan pertarungan dan melihat si tukang loak setuju dengan tawaran ayah, walau aku yakin ia sedikit iba dengan tatapan ayah dan membiarkan barang bekas itu jatuh di tangannya.
            
Hari semakin tua, pasar loak memakan waktu kita. Siang itu, langit berwarna abu-abu dan ibu selalu cemas menungguku. Ayah tampak buru-buru menghidupkan mesin motor tuanya. Di berikannya payung hitam itu kepadaku.

“Ini untukmu, kau akan pantas menggunakannya. Payung ini sangat berguna nantinya, akan menjagamu dari banyak hal. Tolong jaga payung ini untuk Ayah.”

Aku melihat matanya yang berbinar terkena cahaya. Pintanya sungguh tak biasa. Aku menganggukkan kepala dan menggenggam erat payung itu dengan kedua tanganku. Kita kembali menelusuri jalan raya, bergegas pulang ke rumah sebelum ibu khawatir mencariku.

Sepanjang jalan, kita melalui jalanan yang kelabu. Orang-orang bergegas menghempas jalan sebelum turun hujan. Warung-warung tepi jalan menyiapkan diri menata plastik sebagai pelindung sebelum turunnya hujan.

Di persimpangan lampu merah, gerimis datang. Ayah kebingungan sebab tak membawa jas hujan sementara lampu merah baru saja menyala. Ayah menyuruhku membuka payung itu, untukku berteduh katanya. Aku tak mau sebab tanganku tak cukup tinggi untuk mengangkatnya, agar kita sama-sama berada di bawahnya. Ayah memaksa dan lampu hijau menyala, aku membuka payung itu dan berteduh di bawahnya seorang diri.
"Tolong jaga payung ini untuk Ayah." Ilustrasi: Merlin Mare.
Ayah memacu motor tuanya. Di balik punggungnya, aku menggengam erat payung hitam dan berpegangan sebisa mungkin pada baju ayah. Motor semakin melaju kencang, ayah acuh membiarkan tubuhnya dihempas hujan yang semakin deras, tubuhnya mengigil kedinginan sebagian hujan mengenai tubuhku dari sisi yang tak terlindungi. Lama-lama aku takut juga, aku meminta ayah tuk mengurangi kecepatan motornya. Aku khawatir, jalanan tampak begitu licin dan hujan semakin deras mengguyur tubuhnya.

Dan benar apa pikirku. Di perempatan lampu merah kedua, sebuah mobil sedan berhenti secara tiba-tiba. Ayah yang melaju sangat kencang tak sempat menginjak rem belakang. Motor menabrak bokong mobil sedan, dan ia terlempar jauh ke depan. Aku masih menggenggam erat payung hitam yang telah patah sebagian pegangannya. Tubuhku terhempas di kanan jalan, di trotoar yang menggenang air hujan. Syukur, genangan air itu hanya membuat lengan dan kakiku tergores sebagian. Aku bangun dari jatuhku, aku cemas akan ayahku yang terhempas jauh. Orang-orang mengerumuninya, kulihat motor tuanya remuk tak berbentuk lagi dan payung hitam itu, masih tetap aku jaga seperti pinta ayah sebelumnya.

Ayah meninggal dunia, ketika benturan antara kepala dan tiang listrik terjadi begitu keras hingga mengucurkan darah yang begitu deras. Orang-orang mengerumuni ayah. Aku menghampirinya, melihat tubuhnya yang terkulai seperti rantai berkarat yang kutemui sebelumnya di pasar loak. Wajahnya pucat, bibirnya beku dan tubuhnya memar terkena benturan.

Aku menangis di bawah payung hitam yang ayah dapat dari pasar loak. Payung itu melindungi tubuhnya dari hujan tetapi tidak dari air mata yang semakin bermuara di wajahku. Seseorang mencoba menenangkanku setelah sebuah mobil ambulan datang membawa ayah pulang.

Ya, setelah kejadian itu. kini aku benar-benar merasa kehilangan. Ibu tak henti-henti menangis di kamar sendiri dan Kakak laki-laki tak pernah pulang ke rumah sejak ayah meninggal. Rasanya seminggu setelah kepulangan ayah, ia masih berada di rumah. membangunkanku di pagi hari, menemaniku sarapan, bercengkrama menonton televisi dan sesekali suaranya terdengar di kamar.

Ayah, payung hitam inikah yang sesungguhnya ingin kau berikan padaku? Payung peninggalan Belanda dengan ukiran khas yang kini telah patah gagangnya? Maafkan aku Ayah, aku tidak bisa menjaganya dengan baik seperti apa yang kau inginkan. Tetapi setidaknya ucapanmu ada benarnya juga. Payung itu menjadi sangat berguna. Terakhir kali aku menggunakannya untuk melindungimu dari hujan yang membuat tubuhmu beku di kerumunan orang dan melindungiku saat mengantarkanmu menuju ke liang lahad saat itu.

Harusnya engkau ajak aku ke toko ikan hias di hari minggu itu atau kita tetap menonton televisi di rumah bersama Ibu. Mungkin ini terakhir kalinya aku pergi ke pasar loak. Setidaknya, setelah kau sempat mengenalkannya padaku, tentang barang kuno yang bernilai harganya, tentang tempat yang sering kau kunjungi setiap minggu tiba.

Ayah, sungguh aku tak ingin payung itu berada di sana. Aku tak ingin berlama-lama berlindung di bawahnya. Aku hanya ingin tumbuh dan berlindung di balik punggungmu, Ayah.


5 Januari 2018

Kevin Alfiarizky, lahir di Jakarta tahun 1998 dan tumbuh besar di Surabaya. Seorang mahasiswa di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Suka membaca dan menulis.

Related Posts:

0 Response to "Payung Peninggalan Ayah | Cerpen"

Posting Komentar