LekoNTT.com: Membaca Dahulu, Berkomentar Kemudian| Vaksinasi COVID-19 Aman, Hidup Nyaman
Archive for 2020

Jalan Panjang Menuju Tersingkapnya Tabir Mega Proyek Awololong

Oleh: Vivin da Silva*


"Aku mengenali mereka yang tanpa tentara mau berperang melawan diktator, dan yang tanpa uang mau memberantas korupsi."

Demikian tulis Soe Hok Gie dalam sajaknya yang berjudul “Pesan” yang diterbitkan oleh Harian Sinar Harapan pada 18 Agustus 1973. Gie adalah salah seorang aktivis Indonesia keturunan Tionghoa yang menentang kediktatoran pada masa Orde Lama dan Orde Baru. Menurutnya makin redup idealisme dan heroisme pemuda, makin banyak korupsi, sehingga tak heran ia menjadi salah seorang cendekiawan yang dikenal paling vokal mengkritik kinerja pemerintahan di masa Orde Lama hingga runtuhnya pada tahun 1966.

Tanpa semangat Gie dan kawan-kawan pemuda di masa itu, maka tak mungkin demokrasi hari ini kita nikmati. Itulah beban yang dipikul oleh pemuda setiap generasi, membuat perubahan untuk memastikan bangsa ini terus bertahan di masa depan. 

Setelah bertahun-tahun runtuhnya masa Orde Lama dan Orde Baru hingga memasuki era reformasi, keadaan Indonesia tak jauh berbeda. Meskipun salah satu agenda reformasi saat itu adalah memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme. Namun seperti yang dilihat, korupsi kian bertumbuh subur di ladang kebhinekaan. Komisi Pemberantasan Korupsi tak pernah beristirahat untuk menjemput para narapidana. Bahkan belum lama ini, di tengah pandemi ada dua menteri yang dijadikan tahanan akibat korupsi.

Tak hanya di tingkat Nasional, isu korupsi berhembus hingga ke tingkat daerah. Salah satunya adalah Kasus Dugaan Korupsi Pekerjaan Pembangunan Jembatan Titian Apung dan Kolam Apung Beserta Fasilitas Lain di Pulau Siput Awololong, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dugaan Korupsi berkedok pembangunan destinasi wisata ini dibaca dengan lugas oleh beberapa kelompok pemuda yang giat melakukan pengawalan isu pembangunan ini sejak awal. 

Kilas Balik Pemuda di Medan Perjuangan 

Pemuda merupakan golongan yang tak pernah absen mengawal setiap kebijakan yang lahir dari pemerintahan. Tak heran bahwa akhirnya pemuda-pemuda turut andil dalam runtuhnya berbagai orde pemerintahan akibat tak adanya keberpihakan pada rakyat.


Perubahan masif ini tentu lahir dari berbagai diskursus dalam ruang-ruang intelektual yang membentuk watak pemuda yang progresif dan revolusioner. Senada dengan itu, Karol Aida Carolia Olivia, seorang tokoh perempuan di balik Revolusi Pinguin Chili pernah berkata, “Menjadi muda tapi tidak revolusioner adalah sebuah kontradiksi biologis.”

Mengapa harus pemuda? Karena pemuda memiliki instrumen-instrumen yang jika dimaksimalkan dapat menjadi sarana membuat perubahan secara revolusioner. Diantaranya adalah umur yang masih muda, pikiran yang masih segar dan tubuh yang masih bugar.

Sebagai tanggung jawab moril atas status kepemudaan ini, para pemuda yang tergabung dalam berbagai kelompok/organisasi kepemudaan dengan progresif bersama-sama mengusut dugaan kasus korupsi proyek Awololong sejak awal. Di antaranya adalah Front Mata Mera (Mahasiswa Lembata Makassar Merakyat), Amppera – Kupang (Aliansi Mahasiswa Pemuda Peduli Rakyat Lembata) dan Amatata (Aliansi Mahasiswa Lembata Jakarta), Astagah-Lembata, Sparta, dan Amarah.

Selain tak adanya kejelasan AMDAL selama pembangunan, tidak maksimalnya penyerapan dana ditunjukkan oleh mangkraknya pembangunan tersebut yang tentu menimbulkan kecurigaan banyak pihak. Di antaranya, Apperal-Lembata, Sparta-Jakarta, FP2L, PMKRI Cabang Kupang, LMND Kota Kupang, GMNI Komisariat Hukum Undana dan HMI Cabang Kupang.

Percaya bahwa kedaulatan tertinggi dalam demokrasi ada di tangan rakyat, bermodalkan semangat idealisme yang membara para pemuda ini terus berupaya melakukan berbagai aksi. Hal itu demi adanya eskalasi tekanan publik terhadap kebijakan yang diambil pemerintah terkait proyek Awololong.

Upaya yang dilakukan untuk mencapai kesempurnaan (dibaca keadilan) diantaranya adalah melakukan aksi demonstrasi menolak pembangunan proyek Awololong, diselenggarakan mimbar bebas, melakukan kajian melalui diskusi dengan berbagai pihak seperti praktisi hukum, politisi, masyarakat sekitar dan akademisi. Bahkan di tengah pandemi pun diskusi-diskusi daring dijadikan salah satu langkah  strategis untuk tetap merawat semangat penolakan ini.

Tak hanya sampai di situ, melihat belum adanya kejelasan proses hukum yang berjalan, Amppera Kupang dan Front Mata Mera Makassar kemudian menginisiasi Festival Jeritan Awololong pada Agustus 2020 kemarin. Dalam festival itu, aksi-aksi teatrikal pun dilakukan, penandatanganan petisi penolakan secara umum, mimbar bebas, aksi seribu lilin dan doa bersama. Setelah itu, proses audiensi dengan POLDA NTT dilakukan untuk mengkawal proses hukum yang berjalan. Sebab strategi-strategi liar seorang demonstran sudah seharusnya terus bergerilya hingga mencapai tujuan.

Supriyadi Lamadike, Presiden Front Mahasiswa Lembata Makassar Merakyat (Mata Mera – Makassar) mengisahkan bagaimana sejak awal mengumpulkan teman-temannya untuk ikut beraliansi mengkawal isu pembangunan Awololong.

"Saat proyek Awololong menjadi perbincangan hangat di publik, kami kemudian berinisiatif untuk melakukan pergerakan dengan membentuk sebuah organ taktis demi menolak pembangunan Awololong. Karena berlandaskan semangat perjuangan dan tujuan yang sama, pendekatan yang dilakukan secara perorangan maupun organisasi untuk mengumpulkan teman-teman tidak begitu lama dilakukan,” ungkap Supri.

Revolusi memanglah seperti sebuah seni. Yang moral dalam dirinya adalah hasrat menjangkau yang sempurna dengan tubuh dan sarana yang tak sempurna. Ketika polemik pembangunan ini semakin ramai menjadi buah bibir di khalayak, Front Mata Mera tidak tinggal diam beberapa kali mereka melakukan aksi teatrikal, demonstrasi bahkan mimbar bebas di tempat mereka menempuh pendidikan yaitu Makassar.


Bermodalkan nekat untuk menduduki kantor DPRD Kabupaten Lembata dan menolak pembangunan melalui aksi demonstrasi, dengan uang seadanya sepuluh orang anggota Front Mata Mera kemudian membeli tiket kapal sampai ke Maumere untuk pulang ke Lembata. Meninggalkan perkuliahan demi agenda kemanusiaan, menggunakan uang pribadi untuk semua kebutuhan perjalanan.

Karena tiketnya hanya sampai ke Maumere mereka kemudian bersembunyi di kapal demi meneruskan perjalanan ke Lembata “Tidak sedikit tantangan yang kami dapat setelah sampai di Lembata, ditargetkan oleh intel hingga mendapat tekanan berupa ancaman dari berbagai pihak entah dari keluarga maupun pemangku kepentingan. Namun meski dihadang dengan situasi apapun seperti ancaman fisik yang menekan psikologi perjuangan, aksi saling dorong dengan aparat dan lainnya kami tetap bergerak bersama sesuai dengan semangat tagar yang kami gunakan yaitu #BakuBawaSampeMenang,” tambah Supri.

Sementara itu, Emanuel Boli Koordinator Umum Aliansi Mahasiswa Pemuda Peduli Rakyat Lembata (Amppera – Kupang) menceritakan kejadian seputar demonstrasi yang dilakukan, yang sangat berkesan baginya saat Amppera bersama aliansi pemuda-mahasiswa yang lain berusaha menemui Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur. Sejatinya pemimpin dipilih untuk melayani, menemui rakyat-mendengar langsung keluh kesah rakyat.

Merasa aspirasi rakyat tidak tersampaikan dengan baik, para pemuda-mahasiswa ini kemudian mendatangi langsung para pemangku kebijakan untuk mendiskusikan berbagai isu. Tapi sayang, bagai cinta bertepuk sebelah tangan. Dalam setiap aksi yang dilakukan, bertemu  dengan pemimpin Lembata itu untuk bertatap muka saling memberikan pandangan demi kemajuan Lembata adalah sesuatu yang tak pernah terjadi.

“Kami akhirnya bersepakat untuk datang langsung mengunjungi bupati di rumah jabatannya di Kuma Resort. Aliansi dibagi dalam dua kelompok yang menempuh perjalanan darat dan laut ke Kuma Resort. Namun sayang kami tetap dihadang oleh aparat,” ungkap Eman.

Ia mengatakan bahwa hal itu dilakukan dengan pertimbangan, jika di jalur darat mereka dihadang oleh polisi maka di jalur laut mereka bisa lolos menemui bupati. Semua berjalan di luar ekspektasi, di jalur darat mereka bertemu polisi dan di jalur laut mereka bertemu dengan Satpol PP. Ketika massa dan aparat keamanan disulut emosi seperti itu pertikaian pun terjadi. Berdebat sengit, saling dorong dan saling lempar tentu tidak dapat dihindari. Aksi hari itu berakhir nihil lagi.

Kronologi Proses Hukum

Meski hidup di negara hukum, tidak dapat dipungkiri bahwa segala urusan akan berbelit-belit jika dibawa ke ranah yang satu ini. Seperti kata sastrawan Goenawan Mohamad, bahwa hukum tak identik dengan keadilan. Hukum bahkan ruang tertutup dan keadilan tak selamanya betah di dalamnya. Dengan semangat dan idealisme membara, para pemuda ini tetap mengharapkan sebuah kesempurnaan dengan sarana dan prasarana yang tak sempurna. 

Pada Jumat, 18 Oktober 2019 Aliansi Mahasiswa Pemuda Peduli Rakyat Lembata (Amppera – Kupang) melakukan audiensi sekaligus pengaduan dugaan korupsi atas pembangunan destinasi wisata dengan dana pembangunan sebesar Rp 6.892.900.000,00. Pengaduan ditujukan ke Kapolda NTT saat itu, Irjen Pol. Drs. Hamidin, S.I.K didampingi  Direskrimsus Kombes Pol. Heri Tri Maryadi, Dirkrimum Kombes Pol. Yudi Sinlaeloe, Dirintelkam Kombes Pol. Joudy Mailoor, S.I.K dan Ditresnarkoba di ruang kerja Kapolda NTT.

Berdasarkan data yang ditemukan, pada saat itu proyek ini telah menghabiskan sekitar 85% dari jumlah total dana pembangunan di atas yakni berjumlah Rp 5.542.580.890,00. Namun sayang, pembangunan belum terlihat menunjukkan penyerapan dana sebesar itu. Hal ini menjadi keresahan tersendiri untuk masyarakat Lembata secara luas. 


Langkah-langkah yang dilakukan oleh Ditreskrimsus Polda NTT diantaranya adalah membuat dan menerbitkan surat perintah tugas, melakukan interogasi kepada 13 saksi, melakukan pengumpulan dokumen terkait, audit keteknikan bersama Tim Politeknik Negeri Kupang , melakukan pemeriksaan saksi ahli keteknikan Politeknik Negeri Kupang, gelar perkara hasil penyelidikan (16 Mei 2020 di Mabes Polri jam 10.00 WIB s/d 20.00 WIB).

Selanjutnya, perkara tersebut dinaikkan statusnya dari penyelidikan ke penyidikan sejak tanggal 20 Mei 2020 oleh penyidik Polda NTT  Langkah berikutnya adalah melakukan pembuatan mindik penyidikan, pemeriksaan saksi-saksi secara pro justicia (sebanyak 31 Saksi di Lembata, 11 Agustus sampai 22 Agustus 2020) serta penyitaan barang bukti (2 box), melakukan permintaan penetapan penyitaan barang bukti ke pengadilan Tipidkor Kupang, melakukan pemeriksaan ahli LKPP 12, melakukan pemeriksaan pabrikasi proyek Awololong di Bandung dan Surabaya. 

Kemudian untuk membuktikan kerugian secara pasti dan nyata, langkah yang ditempuh adalah permintaan audit PKKN ke BPKP perwakilan NTT, gelar perkara penetapan tersangka yang telah dilakukan pada Senin, 21 Desember 2020. Setelah ini akan dilakukan tahapan pemeriksaan tersangka dan penyusunan berkas perkara sebelum melangkah ke tahap selanjutnya.

Gelar Perkara Penetapan Tersangka 

Bagai awal dari hasil perjuangan yang panjang, salah satu hari yang dinanti-nanti pun tiba. Konferensi pers oleh Direktorat Kriminal Khusus Polda NTT dilakukan pada 21 Desember 2020. Tepatnya pada pukul 11.00 WITA bertempat di ruang rapat Ditreskrimsus Polda NTT untuk giat gelar perkara kasus tindak pidana korupsi.

Bahwa sesuai dengan pemeriksaan yang telah dilakukan pada pekerjaan pembangunan jeti apung dan kolam renang beserta fasilitas lain pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lembata Tahun anggaran 2018 dan 2019, ditetapkan dua tersangka dalam kasus dugaan korupsi ini.

Kanit II Subdit III Ditreskrimsus Polda NTT AKP Budi Gunawan mengatakan, dua tersangka itu yakni Silvester Samin selaku pejabat pembuat komitmen (PPK) dan Abraham Yehezkibel Tsazaro selaku kontraktor pelaksana. "Statusnya sudah tersangka tapi belum ditahan, saat pemeriksaan baru akan ditahan," ungkapnya pada Senin (21/12/2020).

Berdasarkan laporan hasil audit perhitungan kerugian negara, kerugian yang dialami sebesar Rp 1.446.891.718,27. "Sejumlah dokumen kita sita dan 37 saksi kita periksa. Saat ini masih dua tersangka, tapi tidak menutup kemungkinan masih ada penambahan tersangka," pungkasnya.


Seumpama Covid-19, dua orang ini mungkin masuk ke dalam bagian kluster pertama, sehingga tidak menutup kemungkinan akan ada kluster-kluster berikutnya. Kedua tersangka dijerat pasal 2 ayat 1 Subsider pasal 3 UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindakan Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat 1 KUHP dengan ancaman empat tahun penjara.  

Sejak pagi sekitar pukul 10.00 WITA perwakilan dari Amppera Kupang telah bersiap-siap memasuki ruang rapat, cuaca yang mendung tak dapat memadamkan kobaran api yang membara dalam diri para pemuda pencari keadilan ini. Hal ini tergambar jelas dalam raut wajah mereka, bahwa penetapan tersangka hari ini adalah titik terang proses panjang yang menjadi kepuasan tersendiri untuk kelompok-kelompok yang selama ini berdarah-darah di medan perjuangan.

Koordinator Umum Aliansi Mahasiswa Pemuda Peduli Rakyat Lembata (Amppera - Kupang), Emanuel Boli mengapresiasi Penyidik Tindak Pidana Korupsi (Tipidkor) Polda NTT atas kerja-kerja luar biasa (extra ordinary) dalam mengungkap secara terang benderang kasus dugaan korupsi Pekerjaan Pembangunan Destinasi Wisata ini. Emanuel menegaskan, agar Penyidik Tipidkor Polda NTT terus melakukan langkah hukum selanjutnya untuk menyeret pihak-pihak terkait sampai aktor intelektualnya yang diduga terlibat namun belum ditetapkan sebagai tersangka. 

Senada dengan itu, Supriyadi Lamadike, Presiden Front Mahasiswa Lembata Makassar Merakyat (Mata Mera – Makassar)  saat dihubungi oleh Leko NTT menyampaikan bahwa setelah ini langkah strategis yang akan dilakukan oleh mereka adalah terus mengkawal persoalan ini, karena yakin bahwa tersangka bukan hanya dua orang. Namun masih ada aktor lainnya sehingga persoalan tersebut harus diusut hingga tuntas.

“Kami juga berharap agar kita tidak hanya peka untuk mengurus masalah Awololong, sebab masih banyak kasus lain di Lembata. Jadi kita harus terus berjuang dan mengawal kebijakan-kebijakan Pemda yang tidak pro terhadap kesejahteraan rakyat. Oligarki harus terus dilawan,” kata Supri.

*Penulis adalah Pustakawati Komunitas Leko, Alumni Forum Indonesia Muda, dan Aktivis GMNI.

Related Posts:

Teknologi Mendekatkan Air di Sumba Timur

Oleh: Diana Timoria*


Agnes Danga Lila (25 tahun) dan beberapa warga Desa Rakawatu, Kecamatan Lewa, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur berjalan membawa jerigen bekas minyak goreng berukuran lima liter. Mereka berjalan menyusuri jalanan setapak di tepian bukit dengan kerikil-kerikil kecil. Mereka menggunakan jerigen tersebut untuk mengambil air di sebuah bak penampung yang terletak sekitar 50 meter dari pemukiman mereka.

“Dulu kalau ambil air harus jalan jauh sampai ke sebelah bukit. Sekarang sudah tidak lagi. Sudah lebih dekat dan jalannya juga tidak terlalu curam,” kata Agnes atau yang biasa dipanggil Mama Amel.

Sejak awal tahun 2020, penduduk Desa Rakawatu terbantu oleh pompa hidraulik ram (hidram) yang membantu mengalirkan air bersih ke desa tersebut. Pompa ini dibangun atas kerja sama pemerintah desa dan komunitas peduli sesama serta warga di Desa Rakawatu.

Pertama kali dikembangkan di Perancis pada tahun 1700-an, teknologi pompa hidram memanfaatkan tekanan air untuk mengalirkan air dari tempat rendah ke tempat yang lebih tinggi. Pompa ini banyak digunakan di negara berkembang untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Nepal adalah salah satu negara yang menggunakan pompa hidram di wilayah pedesaan yang sulit mendapatkan air, seperti Distrik Dhading.

Direktur Yayasan Marada Pilipus Mbewa Yanggu, yang juga menjadi koordinator lapangan pembuatan pompa hidram di Desa Rakawatu, mengatakan teknologi ini dapat menjadi solusi berkelanjutan untuk pemenuhan kebutuhan air masyarakat. Pompa ini dapat beroperasi memompa air hingga ketinggian 70 meter tanpa listrik atau BBM. Air dialirkan ke tiga penampungan air di sekitar penampungan warga.

“Selain bahannya mudah didapat, pompa ini tidak akan mengganggu kualitas lingkungan. Teknologi ini mengandalkan tekanan air untuk beroperasi sehingga tidak membutuhkan energi lain yang perlu melepaskan zat berbahaya ke udara atau lingkungan,” kata Ipu Yanggu.


Pompa hidram ini bukan yang pertama kali dibangun oleh Ipu Yanggu. Awal tahun 2019 lalu, ia juga pernah membuat pompa hidram di desa Mbidi Hunga yang masih beroperasi hingga sekarang. Ia bahkan telah merencanakan untuk membangun lebih banyak pompa hidram lagi di Sumba Timur.

Salah satu syarat pompa hidram ini dapat bekerja optimal adalah keterjagaan debit air di sumber. Pompa di Desa Rakawatu saat ini menggunakan tiga mata air yang berbeda. Di musim kemarau, debit cenderung turun walaupun masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Kami akan melakukan penanaman pohon yang cocok untuk menjaga debit air. Seluruh warga juga sudah sepakat untuk mel`akukan itu dan akan segera kami lakukan dalam waktu dekat di musim hujan ini,” kata Kepala Desa Rakawatu, Sem Mb. Haramburu.

Naser Randa, salah satu anak muda di Desa Rakawatu, merasa senang atas kehadiran pompa hidram ini. Ia tumbuh dalam kondisi minim akses air bersih di desa. Ia dan orangtuanya harus berjalan jauh untuk menimba air melalui jalanan yang curam.

“Saya dan warga lainnya akan membantu untuk melakukan penanaman pohon. Ini penting untuk terus mendapatkan air yang sehat dan dekat dengan kami, maka kami juga perlu menjaganya,” kata Naser.


Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumba Timur, Mikael Jakalaki, mengatakan bahwa kekeringan selalu menjadi ancaman di wilayah Sumba Timur. Perubahan iklim dianggap sebagai penyebab musim kemarau menjadi semakin panjang di daerah ini. Curah hujan pun menjadi menurun ketika musim hujan. Setiap tahunnya, pemerintah mendistribusikan air bersih ke desa-desa yang mengalami krisis.

“Pandemi [COVID-19] membuat kebutuhan air menjadi lebih banyak. Bukan saja untuk minum dan mencuci pakaian, air bersih juga dibutuhkan untuk cuci tangan pakai sabun,” kata Mikael. Ia menambahkan pemerintah juga membutuhkan kerja sama banyak pihak untuk memenuhi kebutuhan air di Sumba Timur.

Amel, seorang ibu berharap pompa hidram ini bisa tetap digunakan di desa agar sumber air yang bersih dan sehat ini bisa terus mereka akses dengan mudah. “Kalau ada air yang dekat dan bersih, kami pasti sehat."


*Penulis NTT asal Waingapu, Sumba Timur. Alumni Indonesia Young Leader Program (IYLP) 2019 di New Zealand.

Related Posts:

Perpustakaan Pantai, Tawaran Wisata Yang Unik

Pantai identik dengan tempat wisata. Di mana-mana, pantai senantiasa diburu para pengunjung ataupun wisatawan. Di akhir pekan, masa liburan atau di waktu luang, orang-orang akan berkunjung ke pantai, bermain-main di pasir, mandi di pinggir laut, berselancar, menikmati senja atau menyambut fajar, dan segala sesuatu yang identik dengan keindahan pantai.

Beberapa aktivitas tersebut, umum dilakukan banyak orang. Kali ini, Aleksa berbagi informasi tentang pantai sebagai tempat wisata sekaligus tempat nyaman untuk membaca. Berikut adalah beberapa pantai yang selain terkenal dengan keindahan, tapi juga memberi ruang baca kepada pengunjung/wisatawan dengan adanya perpustakaan pantai.

Albena Beach Library, Bulgaria


Albena Beach Library (ABL), sebuah perpustakaan pantai Laut Hitam, Albena, Bulgaria. Perpustakaan pantai ini dibangun pada tahun 2013, didesain oleh Herman Kompernas, arsitek berkebangsaan Jerman.

ABL sebagaimana dilansir Far Out Magazine, memiliki koleksi lebih dari 6.000 bacaan dengan ragam bahasa (lebih dari 15 bahasa) di dunia. Buku-buku ataupun bacaan disusun secara rapi di 140 rak putih. Rak-rak buku didesain dengan bahan yang tahan terhadap panas matahari, angin kencang maupun hujan. Secara khusus di musim hujan, rak-rak buku ditutup dengan karpet vinyl.

Para pengunjung atau wisatawan yang berkunjung ke pantai ini, dapat membaca buku-buku secara gratis. Pengunjung pun dipermudah karena buku-buku telah disusun berdasarkan bahasa dan/atau negara. Kewajiban pengunjung adalah mengembalikan buku pada tempatnya seusai membaca. Pengelola perpustakaan pantai ini pun menerima buku-buku yang disumbangkan oleh pengunjung.

Adanya perpustakaan pantai ini selain untuk memberikan kesan unik, pengunjung pun bisa manambah wawasan ataupun pengetahuan lewat membaca. Lebih dari itu, pertukaran budaya pun bisa terjadi lewat aktivitas membaca.

Kimolos Beach Library, Cyclades, Yunani

Dilansir Greece High Definition, di pantai Kimolos, kepulauan Cyclades, Yunani, terdapat perpustakaan yang bisa diakses pengunjung/wisatawan. Perpustakaan pantai di Kimolos dibikin unik, rak buku berbentuk perahu.

Perpustakaan ini dibangun oleh Eleni Teknopoulou, seorang pelukis. Eleni membuat perpustakaan ini dalam empat desain berbeda. Proyek perpustakaan pantai ini hadir berkat donasi dari AK Laskaridis Charitable Foundation dalam program Sea Change Greek Islands pada tahun 2019 lalu. Tujuan dari program ini adalah mengurangi sampah plastik sekali pakai, menjaga laut dan pantai agar tetap bersih.


Dalam program tersebut, orang-orang Kimolos (Kimolist) diberdayakan untuk mengelola secara baik lokasi wisata pantai. Para Kimolist-lah yang berperan penting bahwa melalui ruang baca dengan desain yang menarik, yang dibangun di pinggir pantai dapat mengurangi sampah. Rak sebagai tempat menyimpan buku yang dapat dibaca secara gratis, memampukan pengunjung untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Metzitzim Beach Library, Israel

Di Kota Tel Aviv, Israel, terdapat sebuah perpustakaan pantai di Pantai Metzitzim. Seperti perpustakaan pantai lainnya, tujuan didirikan perpustakaan ini untuk menciptakan ruang baca gratis bagi wisatawan.

Dilansir The Jerusalem Post, perpustakaan di Pantai Metzitzim berupa kereta roda dua yang ditempatkan di kawasan pejalan kaki dengan menampung lebih dari 600 buku. Umumnya, koleksi buku-buku berbahasa Ibrani, Arab, Inggris, Rusia, dan Prancis. Selain buku-buku cetak, pemerintah setempat juga menyediakan Wi-Fi gratis yang bisa dimanfaatkan wisatawan untuk mengakses bacaan-bacaan elektronik (e-Book).

Adanya perpustakaan ini pun bertujuan untuk menyadarkan orang-orang untuk menjadikan buku sebagai sahabat di waktu-waktu luang. Buku tidak dilihat sebagai suatu yang benda yang asing, tapi harus dekat dengan manusia dan bisa diakses di mana-mana.

Menariknya, di Perpustakaan Pantai Metzitzim tidak ada petugas khusus ataupun pustakawan yang mengawasi perpustakaan tersebut. Wisatawan bebas mengambil buku-buku untuk dibaca secara gratis. Hanya butuh kesadaran dan tanggung jawab wisatawan untuk mengembalikan buku pada tempatnya setelah dibaca.

Sharjah Beach Library, Uni Emirat Arab

Di Uni Emirat Arab, ada sebuah gerakan yang bertujuan untuk membiasakan semua kalangan masyarakat gemar membaca. Pantai sebagai tempat wisata dimanfaatkan untuk membangun perpustakaan pantai. Gerakan yang dinamakan Sharjah Beach Library Initiative ini pertama kali diwujudkan di Al Khan, sebuah daerah (destinasi wisata budaya) di pinggiran selatan Kota Sharjah.

Seperti dilansir Gulf News, gerakan ini merupakan kerja sama Sharjah World Book Capital Office (SWBC Office) dengan Knowledge without Borders (KwB), Sharjah Municipality, Sharjah Investment and Development Authority (Shurooq), dan Sharjah Ladies Club (SLC). Gerakan ini bertujuan mendorong anak-anak dan orang tua untuk memanfaatkan lebih banyak waktu dengan membaca yang sudah dikampanyekan sejak tahun 2010.


Berawal dari Pantai Al Khan, pantai-pantai di Kota Sharjah seperti For Fakkan, Kite Beach, Jumaira Beach (Dubai), dan pantai lainnya pun kemudian dibangun perpustakaan. Terdapat lebih dari 100 judul buku di setiap pantai yang bisa diakses pengunjung. Beberapa aturan yang perlu diperhatikan pengunjung adalah menjaga buku agar tidak basah, mengembalikan buku pada rak setelah dibaca, tidak merusak/membawa pulang/menghilangkan buku, dan tidak diperkenankan menambah koleksi bacaan tanpa sepengetahuan pengelola.

Atas inisiatif itu, pada tahun 2019 lalu UNESCO menobatkan Sharjah sebagai Ibukota Buku Dunia. Penobatan itu sebagai apresiasi karena berbagai pihak di Kota Sharjah telah giat dalam mendukung dan mengkampayekan pentingnya membaca.

Perpustakaan Pantai Etretat, Normandi, Prancis

Pantai Etretat, sebuah tempat wisata yang terletak di Haute-Normandia, Prancis. Pantai ini terkenal dengan keindahan tebing dan lengkungan yang alami. Tiga lengkungan yang terkenal di antaranya, Porte d'Aval, Porte d'Amont, dan Manneporte.

Pada tahun 2018, perpustakaan pantai dibuka di Etretat berupa pondok. Terdapat lebih dari 1.000 buku yang disimpan di sana. Perpustakaan pantai itu merupakan kelanjutan dari program Read At The Beach pada tahun 2005 dengan tiga perpustakaan pantai. Dilansir The Jakarta Post, pada tahun 2017 data pembaca mencapai lebih dari 38.000 orang.

Selain Etretat, terdapat perpustakaan pantai lainnya di Prancis seperti pantai di Gruissan dan Herault. Di Herault sendiri, pada tahun 2017 terdapat lebih dari 21.000 pembaca.

Santa Monica Public Library, California, Amerika

Santa Monica Public Library (SMPL) terletak di tepi laut California Selatan. Diktutip dari situs Santa Monica Public Library, perpustakaan pantai ini digagas oleh Community & Cultural Services and Santa Monica Public Library dan didukung oleh Friends of the Santa Monica Public Library.

Perpustakaan pantai ini pun menyediakan perpustakaan online yang bisa diakses pengunjung lewat situs smpl.org ataupun aplikasi SMPL Mobile. Di situs ini, pengunjung ditawarkan berbagai e-Book, e-Audiobook, streaming film dan musik, koran digital dan majalah. Menariknya, para penggiat pun bisa mengantar langsung bahan bacaan kepada para peminjam buku.

Perpustakaan Pantai Bondi, Australia


Pantai Bondi merupakan salah satu tempat yang bagi wisatawan untuk berselancar. Bondi sendiri merupakan kata dalam Bahasa Aborigin "Boondi" yang berarti air yang pecah di antara bebatuan. Pantai dengan ombak yang demikian memang sangat cocok untuk berselancar. Selain itu, di pantai yang paling sibuk di dunia ini pun para pengunjung bisa mengakses bahan bacaan secara gratis.

Pada tahun 2010, IKEA, sebuah perusahaan multinasional merancang rak-rak bongkar pasang yang siap dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan buku. Rak dimaksud terletak di Pantai Bondi di dekat Kota Sydney, New South Wales, Australia. Rak-rak tersebut dipenuhi dengan lebih dari 6.000 buku. Selain Pantai Bondi, perpustakaan sejenis pun dapat dijumpai di Cooge Beach.

***

Sebenarnya, di dunia ada lebih dari tujuh perpustakaan pantai. Namun kali ini, Aleksa batasi pada tujuh perpustakaan pantai di atas. Kiranya dengan artikel yang diolah dan foto-foto yang dihimpun dari berbagai sumber ini dapat memberi inspirasi bagi kita semua, di mana saja berada.

Di Indonesia, pemerintah dan berbagai lembaga non pemerintah ataupun LSM dalam beberapa tahun terakhir giat mengkampanyekan berbagai destinasi wisata (promosi wisata). Namun demikian, kampanye tersebut tampak monoton. Paling-paling seputar kuliner, ragam busana tradisional, produk-produk komersial, hingga vila/ hotel-hotel mewah.

Menurut catatan perjalanan beberapa orang yang tergabung dalam Lost Packer (Lihat Indonesia) pada 2014 lalu, terdapat sebuah rumah bambu (gedheg) di tepi Pantai Kondang Merak, Malang, Jawa Timur, yang dimanfaatkan sebagai perpustakaan. Perpustakaan ini dikelola oleh dua warga setempat yakni Andik dan Edy.

Keduanya ingin mendekatkan bacaan kepada anak-anak di sekitar sebab jarak ke sekolah terlalu jauh untuk dijangkau, apalagi ingin membaca di waktu-waktu luang. Bisa dipahami bahwa inisiatif itu terlepas dari konsep pariwisata.


Pariwisata kita belum dibarengi dengan kampanye literasi (membaca) seperti yang sudah dilakukan oleh negara-negara lain di dunia dengan membuka perpustakaan alternatif-yang tidak kaku seperti perpustakaan pantai. Artinya, selain mengejar pendapatan bagi daerah ataupun negara, masyarakat/wisatawan pun bisa mendapat pengetahuan lebih dengan membaca.

Lewat membaca, tidak hanya obyek wisata yang dikenal. Tetapi pengetahuan lain termasuk di dalamnya sosial, budaya, sastra, politik, ekonomi dan lain-lain bisa diketahui pengunjung dengan aktivitas membaca. Tentu untuk sampai pada capaian tersebut, refrensi bacaan perlu diperbanyak, diseleksi, yang kiranya dapat menjangkau semua kalangan.

Nusa Tenggara Timur sebagai salah satu provinsi yang memiliki banyak obyek wisata bahkan ada 'wisata super premium', butuh kreativitas lebih untuk dikelola. Para pengelola, pelaku wisata atau apapun namanya, perlu berpikir dan berbuat melampaui wisata itu sendiri. Akan menjadi luar biasa kalau pengembangan pariwisata berbasis masyarakat, marak dikampanyekan dibarengi dengan kampanye literasi (membaca). Dengannya, 'peradaban' dapat dibangun dan jadi kokoh.

Kupang, 15 Desember 2020
Aleksa

Related Posts:

Aksi Damai Peringati Hari HAM, WNI Eks Timor Timur Diduga Ditembak Oknum Polisi

Tuapukan, LekoNTT.com - WNI eks Timor Timur di Tuapukan, Kabupaten Kupang melakukan aksi damai dalam rangka memperingati Hari HAM Internasional pada Kamis (10/12/2020). Aksi ini dilatarbelakangi oleh ketidakpastian hak atas tanah bagi WNI eks Tim-Tim.

Hingga hari ini, ada lebih dari 600 keluarga dari masyarakat yang mengungsi dari Timor Leste pada tahun 1999, hidup tanpa tanah, tanpa lahan yang bisa digarap. Mereka tersebar di beberapa kamp seperti Noelbaki, Tuapukan, Naibonat, Haliwen, dan Ponu.

Sebagian besar masih menghuni rumah darurat yang dibangun sejak tahun 1999 dengan dinding bebak yang miring dan lapuk, juga atap yang bocor. Mirisnya, ada dua hingga tiga keluarga tinggal dalam satu rumah.

Karena hal tersebut, aksi damai kembali dilaksanakan pada hari peringatan Hak Asasi Manusia 10 Desember 2020, di Kamp Tuapukan. Aksi ini bertemakan Berikan Kepastian Status Tanah bagi WNI Eks Pengungsi Tim-Tim.

Kejar-Kejaran, Lemparan hingga Tembakan Dilepas

Ramos Paz, salah satu massa aksi dalam keterangan tertulis mengatakan, aksi kali ini mendapatkan tindakan represif dari oknum aparat. "Satu orang massa aksi tertembak dan lima orang lainnya terluka," katanya.

Ramos pun membeberkan kronologi dari aksi yang berakhir ricuh. Sekitar pukul 09.00 WITA, massa aksi kurang lebih berjumlah 100 orang bergerak menuju tempat aksi, yaitu mimbar bebas di jalan Timor Raya sambil meneriakkan yel-yel. Polisi pun mendatangi tempat acara.

Orasi dilaksanakan secara bergiliran. Pukul 10.10 WITA, polisi berusaha membubarkan massa dengan paksa. "Salah seorang masyarakat atas nama Egidius dipukul hingga terjatuh dan kepalanya bocor."

Aksi saling dorong pun tak terhindarkan. Oky, massa aksi yang lain bersaksi, polisi memukuli massa laki-laki dan perempuan, dan mulai melepas tembakan peringatan. "Satu orang tertembak peluru tajam dan beberapa lainnya luka, diantaranya perempuan," kata Oky.

Ia menuturkan, polisi terus melepas tembakan dan membuat massa berlarian. Di lain pihak, para polisi pun berlarian menghindari lemparan batu dari massa aksi. Berikut beberapa korban:

1. Bribato Soares (29), tertembak di lutut bagian kanan.
2. Egidio Soares (36), luka di dahi dan hidung.
3. Armindo Soares (46), luka robek di kepala.
4. Ramoz Paz (30), bengkak di bagian perut.
5. Armindo Soares (40), luka di lutut.
6. Deolinda Belo (45), luka di bagian kepala sebelah kanan.

Selain itu, kaca mobil Polsek Kupang Timur pun pecah akibat lemparan batu. Arus lalu lintas sempat macet, sebagian warga pengguna jalan raya memilih putar (balik) arah menghindari kerusuhan.

Hingga saat ini, kondisi di Tuapukan sudah kondusif. Namun video-video dan foto-foto di lokasi kejadian terus berseliweran di media sosial. Banyak massa aksi yang mengalami luka dengan tubuh penuh darah akibat ricuh bahkan ditembaki, seorang polisi ditendang seorang pemuda hingga ajakan berduel, dan banyak dokumentasi lainnya yang menggambarkan situasi di Tuapukan.

Semuanya dilatari oleh tuntutan yang telah disampaikan selama bertahun-tahun namun tidak digubris yaitu kepastian hak atas tanah, rumah layak huni hingga lahan garapan. Tuntutan yang kembali disampaikan bertepatan dengan peringatan Hari HAM Internasional. (klk)

Related Posts:

Inklusif dan Aksesibel, Catatan Penting di Hari Disabilitas Internasional 2020

Internasional, LekoNTT.com - Tanggal 3 Desember diperingati sebagai Hari Disabilitas Internasional. Peringatan ini dipelopori Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak tahun 1992 dalam Resolusi 47/3.

Tujuan peringatan ini untuk mengembangkan wawasan dan kesadaran masyarakat akan persoalan-persoalan yang terjadi berkaitan dengan kehidupan dan memberikan dukungan untuk meningkatkan martabat, hak, dan kesejahteraan para penyandang disabilitas. Selain itu melalui momen ini, stigma terhadap penyandang disabilitas dapat dihilangkan.

Tahun 2020, Hari Disabilitas Internasional diperingati di bawah tema "Building Back Better: toward a disability inclusive, accesible and sustainable post Covid-19 world" (Membangun kembali kehidupan yang lebih baik, lebih inklusif, lebih aksesibel dan berkelanjutan pasca pandemi Covid-19). Di bawah tema tersebut, masyarakat global termasuk di Indonesia melalui Kementerian Sosial mengharapkan masyarakat untuk:

  1. Lebih mengenal keragaman jenis disabilitas;
  2. Menunjukan ragam kehidupan disabilitas yang unik dan menarik;
  3. Tidak mengekploitasi kekurangan para penyandang disabilitas;
  4. Apa yang kita lakukan merupakan sebagai respons positif kepada para penyandang disabilitas sebagai bagian dari kita;
  5. Respons dari yayasan dan keluarga sebagai sebuah langkah rehabilitasi terhadap mereka;
  6. Apresiasi karya dan potensi yang dimiliki para penyandang disabilitas;
  7. Meningkatkan awareness masyarakat untuk lebih peduli kepada penyandang disabilitas;
  8. Pemanfaatan ICT dan media digital dalam mengembangkan karya penyandang disabilitas;
  9. To respect, to fulfill, to protect.

Sejarah Singkat

Hari Disabilitas Internasional sendiri berawal dari masa lalu yang buram bagi para penyandang disabilitas. Dahulu, mereka tidak mendapat pengakuan secara nasional bahkan internasional; nyaris dalam berbagai bidang kehidupan. Di saat-saat itu, kecacatan dipandang sebagai sesuatu yang harus 'diobati', dan oleh karena itu hal itu paling sering dilihat melalui kacamata medis, bukan dari sudut pandang sosial sosial seperti saat ini.

Di tahun 1970, Inggris mengesahkan Undang-Undang Orang Sakit Kronis dan Penyandang Disabilitas. UU ini memuat pengakuan untuk hak-hak para penyandang disabilitas. Termaktub di dalamnya penyediaan bantuan kesejahteraan, perumahan, dan hak yang sama atas fasilitas rekreasi dan pendidikan.

Namun demikian, hak para penyandang disabilitas tidak diakui secara internasional hingga tahun 1971. Di tahun ini, muncul proklamasi yaitu Konvensi PBB tentang Hak-Hak Orang yang Menderita Mental. Empat tahun setelah itu, tepatnya pada 1975 muncul proklamasi Konvensi PBB tentang Hak-Hak Penyandang Disabilitas. Dengannya, hak-hak sosial, politik, sipil dan hak asasi manusia dari para penyandang disabilitas baru diakui secara internasional

Selanjutnya pada 1983 hingga 1992 pemerintah dan organisasi global menyelenggarakan The United Nations Decade of Disabled Person dengan tujuan menempuh langkah dalam meningkatkan aspek kehidupan para difabel di seluruh dunia. Pada 14 Oktober 1992, Hari Disabilitas Internasional atau International Day of Disabled Persons ditetapkan oleh Majelis Umum PBB.

Pada 18 Desember 2007, Majelis Umum PBB mengubah nama International Day of Disabled Persons menjadi International Day of Person with Disabilites. Nama baru ini pun mulai digunakan sejak 2008 hingga saat ini.

Di Indonesia sendiri, komitmen pelaksanaan penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak penyandang disabilitas terwujud dalam lahirnya UU 8/2016 tentang Penyandang Disabilitas.

Tema Tahunan

Setiap tahun, PBB mengajak masyarakat global untuk memperingati Hari Disabilitas Internasional dengan tema-tema tertentu. Tema yang diangkat memberikan fokus menyeluruh tentang bagaimana masyarakat dapat berjuang untuk inklusivitas melalui penghapusan hambatan fisik, teknologi, dan sikap untuk penyandang disabilitas. Berikut beberapa tema tahunan yang dihimpun dari berbagai sumber:

  • 2010: "Keeping the promise: Mainstreaming disability in the Millennium Development Goals towards 2015 and beyond"
  • 2011: "Together for a better world for all: Including persons with disabilities in development"
  • 2012: "Removing barriers to create an inclusive and accessible society for all"
  • 2013: "Break Barriers, Open Doors: for an inclusive society and development for all"
  • 2014: "Sustainable development: The promise of technology"
  • 2015: "Inclusion matters: access and empowerment for people of all abilities"
  • 2016: "Achieving 17 Goals for the future we want"
  • 2017: "Transformation toward sustainable and resilient society for all"
  • 2018: "Empowering persons with disabilities and ensuring inclusiveness and equality"
  • 2019: "Promoting the participation of persons with disabilities and their leadership: taking action on the 2030 Development Agenda"
  • 2020: "Building Back Better: toward a disability inclusive, accesible and sustainable post Covid-19 world"

Beberapa Fakta

Dari masyarakat-populasi dunia, sebanyak 10 persen atau 650 juta orang di dunia merupakan penyandang disabilitas. Sebanyak 20 persen dari orang miskin dunia adalah penyandang disabilitas.

Persentase anak-anak penyandang disabilitas yang tidak bersekolah sangat bervariasi, antara 65-85 persen di beberapa negara Afrika. Angka kematian untuk anak-anak disabilitas mungkin mencapai 80 persen di negara-negara dimana angka kematian balita secara keseluruhan telah menurun hingga di bawah 20 persen.

Di banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah, hanya 5-15 persen penyandang disabilitas yang bisa mendapatkan akses bantu seperti perangkat teknologi.

Di Indonesia, berdasarkan data berjalan 2020 dari Biro Pusat Statistik (BPS), jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 22,5 juta atau sekitar lima persen. Sebelumnya pada tahun 2018, data Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018 mengungkapkan bahwa akses informasi penyandang disabilitas dalam penggunaan ponsel atau laptop hanya 34,89 persen, sedangkan non-disabilitas 81,61 persen. Adapun, akses internet penyandang disabilitas 8,50 persen sedangkan non disabilitas 45,46 persen.

(alk)

(Diolah dari berbagai sumber)

Related Posts:

Siapkan Kader Handal, KEMMAS Gelar Pelantikan BP dan MPAB

Kupang, LekoNTT.com - Demi menjaga eksistensi organisasi kedaerahan, Kelompok Mahasiswa Maumere Sa'ate (KEMMAS) Kupang kembali  menyelenggarakan kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru (MPAB) Periode 2020/2021. Kegiatan yang diikuti anggota baru sebayak 37 orang ini berlangsung di Aula Homestay Tunas Muda Junior, Penfui, Kota Kupang.

MPAB dilaksanakan selama dua hari, dimulai pada Sabtu (21/11) hingga Minggu (22/11). KEMMAS sendiri merupakan organisasi kedaerahan dari Kabupaten Sikka yang menghimpun lima kecamatan yakni: Paga, Mego, Tanawawo, Megepanda dan Palue.

Anggota organisasi yang bergabung adalah mahasiswa yang berasal dari lima kecamatan tersebut. Selain itu, ada juga simpatisan dari kecamatan ataupun kabupaten lain yang saat ini sedang menempuh pendidikan tinggi di Kota Kupang.

Ketua Panitia MPAB, Sebastianus Nggino dalam laporannya menyampaikan, kegiatan tersebut merupakan proses pengkaderan yang siap melahirkan kader handal serta sebagai wujud persiapan dalam menyikapi perubahan zaman. "Pembekalan kader bukan sekedar halusinasi belaka melainkan implikasi kesadaran personalia secara ekstrinsik dan  intrinsik," ungkapnya.

Ia juga menandaskan, tujuan dari MPAB ini untuk menghimpun semua mahasiswa dari Kecamatan Paga, Mego, Tanawawo, Magepanda dan Palue di Kupang menjadi anggota KEMMAS. Sementara itu, Ketua Umum KEMMAS Kupang Periode 2020/2021 Yohanes Bolo mengatakan, pihaknya mengapresiasi kerja panitia pelaksana yang mampu mengorganisir peserta kegiatan hingga 37 orang.

Yohanes mengaku bangga karena kegiatan tersebut tidak hanya diikuti oleh mahasiswa yang berasal dari ke-5 kecamatan tersebut, namun ada juga berasal dari kecamatan lain di kabupaten Sikka bahkan dari  kabupaten lainnya. "Di era milenial ini, kita diperhadapkan dengan berbagai tantangan dan dinamika sosial, politik hingga isu sara di kalangan masyarakat,” ungkap Yohanes dalam pidato pembukaan kegiatan MPAB.

Berhadapan dengan persoalan-persoalan ini, sebagai agent of change bangsa dan tanah air, ia mengajak anggotanya untuk turut prihatin serta mengawal segala fenomena persoalan di masyarakat baik yang mencakup isu  dalam  skala nasional, daerah hingga kabupaten sikka secara khususnya. “Kehadiran mahasiswa dan upaya pengawalan kinerja elit-elit  penguasa di tengah masyarkat itu sangat penting, karena selama ini masyarakat hanya dijadikan kambing hitam di berbagai hajatan demokrasi negeri ini."

Ia pun berharap, dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan, mahasiswa harus memprioritaskan kepentingan umum, bukan pribadi atau golongan tertentu. “KEMMAS tentunya, pada momentum MPAB ini terus menggelorakan semangat  Sa'ate (Satu hati) dengan spirit bhoka ngere hi, bere ngere ae, sebagai warisan nilai-nilai kekeluargaan,” tutup aktivis GMNI Cabang Kupang itu. (ESR)

Related Posts:

Kota yang Terekam, Hasrat yang Diterka

Oleh: Tim Nongkrong*


“Tugas seniman adalah berada di garis paling depan dalam pencarian jenis-jenis kategori baru dalam keberagaman yang sesuai dengan pengalaman masyarakat yang aktual, sebelum para filsuf mengonseptualisasikannya, sebelum para ilmuwan menelitinya, sebelum para pebisnis memodifikasinya, dan sebelum pemerintah mengaturnya” St. Sunardi.

Keberadaan sebuah kota tak dapat dipisahkan dengan fungsi dasarnya sebagai  lokasi dari tempat berlangsungnya kegiatan perekonomian, sebuah pasar. Kota adalah pusat pemenuhan kebutuhan. Pusat penggantungan harapan-harapan. Dalam sebuah kota modern, hidup bergerak dengan ritme yang cepat, mendesak-desak, dan cenderung menuntut. Hubungan antara individu mendapat bentuk-bentuk yang baru, hubungan manusia dengan alam mendapat pemaknaan yang beragam dan cenderung membawa manusia ke dalam berbagai keterasingan.

Berbincang tentang penggambaran sebuah kota, simaklah bagaimana seorang penulis Italia, Italo Calvino, di dalam bukunya “Invisible Cities”, menggambarkan kota-kota yang ditemui dalam perjalanan Marco Polo di bentang luas kerajaan Kublai Khan. Deskripsi berikut ini tentang kota bernama Zora, sebuah terjemahan yang sangat bebas dari edisi berbahasa Inggris.

“Di balik enam sungai dan tiga pegunungan, berdirilah Zora, sebuah kota yang tak bisa dilupakan siapapun yang telah menjumpainya. Tapi bukan karena seperti kota-kota yang penuh kenangan, Zora meninggalkan gambaran yang tak biasa saat dikenang. Zora dapat dengan ampuh tinggal di ingatan kita berupa tiap-tiap bagiannya; Jalan-jalan utamanya, rumah-rumah di pinggir jalan,pintu-pintu rumah dan juga jendelanya yang sebenarnya tak punya kecantikan khusus. Rahasia Zora terletak pada susunan musik tak tergantikan yang terdengar saat kita melemparkan pandangan pada bagian-bagian kotanya.“

Musik seperti apa yang anda didengar saat  berada di Kota Kupang? Lagu-lagu pop daerah yang asli maupun yang dikemas ala modern dari pemutar musik di angkutan-angkutan umum, Bemo, yang hilir mudik di urat nadi transportasi kota ini? Tembang kenangan dari stasiun radio swasta yang tua dan penyiarnya memiliki logat khas? Lagu-lagu dari radio-radio lain dengan penyiarnya yang berdialek Ibukota? Atau musik-musik dari akun-akun media sosial berfitur video yang sepertinya sangat mudah ditemui di tiap sudut kota.

Siapa yang bisa bicara sebagai wakil paling tepat untuk sebuah kota? Pemerintahan dan aparat-aparatnya? Penduduk dengan kelas-kelas sosialnya dan pola kehidupan ekonomi mereka?, Penduduk yang masih belum bisa lepas dari identitas muasal (etnis dan agama) mereka? Penduduk berdasarkan kelompok-kelompok umur yang masing-masing punya cara sendiri memaknai diri mereka sebagai orang kota? Para rohaniawan? Para akademisi? Politikus? Pedagang; dari yang punya kuasa menentukan arah perkembangan ekonomi dan sosial kota hingga yang menggantungkan diri seutuhnya pada kemungkinan- kemungkinan? Para seniman? Budayawan?

Pertanyaan di atas bisa dijawab: semua yang disebutkan, masing-masing bisa berpendapat tentang kota dan dari  jawaban-jawaban itu usaha kita untuk memahami sebuah kota mungkin bisa menjadi lebih dekat.

Memori di Pabrik Tua

Dalam pameran “Merekam Kota” yang diadakan oleh SKOLMUS  (17-31 Oktober 2020) bertempat di Pabrik Es Minerva, Kota Kupang menjadi sebuah sumber inspirasi dan tema besar bagi para seniman dan penggiat seni visual bidang fotografi ini. Kota Kupang dibongkar dari sudut memori yang dimilikinya.


Tim pameran menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mengumpulkan arsip-arsip terkait apa yang mereka nilai sebagai sejarah Kota Kupang, dan di tengah pandemik Covid-19 yang membawa kegamangan tersendiri bagi masyarakat kota Kupang, di tengah suasana masyarakat yang juga tengah berdebat soal mana lebih penting, taman-taman kota atau ketersediaan air bersih, di tengah alur kehidupan kota yang tergagap mengadaptasi media-media digital untuk bekerja, dan bersekolah, dilaksanakanlah pameran arsip ini.

Berlangsung selama dua minggu, pameran ini memiliki angka kunjungan yang tinggi (tercatat 1200 pengunjung). Karya-karya yang ditampilkan merupakan arsip-arsip, sebagian besar berupa foto, dan beberapa jenis lainnya berupa dokumen-dokumen tertulis. Sumbernya dari pihak pribadi-keluarga dan institusi, seperti salah satunya: Badan Arsip dan Perpustakaan kota Kupang.  Bila ingin melihatnya sebagai sebuah karya, mungkin bisa didekati pada cara tim pameran membahasakan kumpulan arsip-arsip tersebut.

Apa yang ada di kepala mereka, saat tangan mereka, sebagai seniman fotografi atau paling tidak individu yang asyik memainkan wacana seni pameran, menata pameran ini?

Saya menghindari bertanya “Pameran ini maksudnya apa?”, karena menurut saya itu tidak sopan. Kalau mereka bisa dengan langsung nan gamblang membeberkan maksud-maksud itu, buat apa mereka berlelah-lelah membuat pameran?

Sebagian besar anggota SKOLMUS, adalah seniman fotografi. Pada pameran ini, pelaksanaan teknis pameran ada pada Tim Arsip yang kiprahnya dapat dilihat dan terkemas dengan baik di akun media sosial pameran (@merekamkota) dan juga situs www.merekamkota.org. Membuat pameran tentu saja adalah sebuah hal tersendiri. Kita bisa menerka, apakah arsip-arsip terbahas dari aspek-aspek fotografi, misalnya teknis dan wacananya? Realita memori seperti apa yang disasar Tim Arsip?


Dalam kunjungan langsung, katalog pameran dibagikan kepada pengunjung, sapaan pertama untuk masuk dalam suasana “percakapan” yang ingin dibangun pameran. Linimasa yang ada terlihat lebih seperti karya instalasi seni yang mekanisme pemaknaannya bisa saja memerlukan refleksi-refleksi tersendiri.

Arsip-arsip foto memiliki bentangan waktu yang panjang. Ada foto rapat para raja atau bangsawan lokal di jaman kekuasaan politik berada di tangan Belanda di pintu masuk, dan pada pintu keluar terdapat foto-foto para mahasiswa sedang berbaris berdasarkan jurusan masing-masing di lapangan kampus. Mereka semua sedang berkumpul, dan tentu saja banyak percakapan yang telah terjadi di sana. Selamat menerka, bagaimana bunyi percakapan itu di kepala Anda sebagai pengunjung?

Pengunjung: Lintas Teknologi, Lintas Generasi

Soal para pengunjung, para penyimak, para tamu di pameran ini, apa yang sebenarnya membuat mereka datang? Di masa normal (lama), Kota Kupang bukanlah tempat yang punya banyak kegiatan seni-senian, apalagi di masa “normal baru”. Apa bagian dari pameran yang membuat para pengunjung ini datang?

Saya mengunjungi pameran ini beberapa kali, untuk menyimak isi pameran, dan juga untuk nongkrong dengan kawan-kawan dari komunitas-komunitas minat dan seni di Kupang. Kelompok-kelompok yang salah satu cara bersilaturahminya adalah saling mengunjungi bila ada komunitas yang berkegiatan. Celetukan “Wah, ini yang datang kotong-kotong lagi!” seperti biasa kembali terdengar, namun untuk kali ini sepertinya  tidak terlalu tepat, karena ternyata pengunjung yang datang punya latar belakang beragam, bukankah memang  kota ini isinya bukan “kotong-kotong” saja?

Para pengunjung usia muda cukup menarik perhatian, dari segi jumlah maupun cara mereka melihat pameran. Para Millenials. Pengemasan pameran dengan memakai gedung Pabrik Es Minerva (yang tentu saja sudah sekian dekade tak beroperasi) memberikan daya tarik tersendiri bagi pengunjung muda. Mereka tumbuh dengan tradisi eksistensi di media digital yang kuat.


Bisa dipastikan, informasi tentang pameran mereka dapatkan lewat jejaringan media sosial, dan juga tentu saja foto-foto dengan latar belakang suasana pameran yang bagi kaum ini punya nilai estetis tersendiri atau mungkin lebih tepatnya eksistensi.

Membuat kita bertanya, jadi sebenarnya sebuah tempat menjadi menarik untuk dijadikan latar belakang foto karena pada dasarnya tempat itu benar-benar bagus (pembahasan tentang kebagusan dan keindahan bisa sangat panjang, jadi tak usah jauh berpikir soal ini) atau karena banyak orang berfoto di situ? Atau karena ada orang terkenal (dalam arti-arti keterkenalan yang ada di media sosial), yang berfoto atau bervideo di situ? Keindahan tempat dalam artian tertentu, dan juga eksistensi di media sosial, bila bisa diterka seperti itu, menjadi hasrat utama dari kaum ini.

Dalam pengamatan yang tak sempurna-sempurna amat, terlihatlah jenis pengunjung yang lain. Mereka yang bukan dari komunitas silaturahmi. Mereka yang memang memiliki minat-minat pada isi dan tema pameran. Orang-orang tua yang merupakan hasil dari sistem pendidikan yang berhasil membuat mereka menghargai nilai-nilai kebudayaan.

Kepentingan mereka bisa diterka berupa aktualisasi diri. Wacana-wacana yang membentuk konsep kota, tentulah erat juga dengan wacana-wacana kebangsaan. Generasi ini tumbuh di era ketika kebangsaan dibentuk dengan amat percaya diri dan menitik beratkan pada nilai-nilai kemanusiaan. Angkatan ini terlihat mapan, berkarakter, tak kena polusi budaya dan media pop, dan sejarah menjadi jalan yang tenang untuk berefleksi. Untuk melihat sudah sejauh mana diri melangkah.

Para seniman, dan pegiat seni sendiri? Bagaimana melihat kehadiran pameran ini? Saya berbincang dengan beberapa kawan penggiat seni saat nongkrong-nongkrong di luar pabrik, tempat yang dipoles sedikit bisa menjadi lokasi kongkow kebudayaan yang menyenangkan. Beberapa teman menjadi terpantik dengan adanya pameran ini dan bahkan secara spontan ingin membuat karya berupa instalasi.

Pembicaraan tentang isi pameran bergulir seputar kekaguman atas foto-foto yang ada, pengalaman kepemilikan arsip dan foto seperti yang dipamerkan, memori tentang suasana Kupang di tahun 90-an (bagi saya misalnya), fakta sejarah perang yang ternyata kalau dilihat-lihat berjalan dengan kejam dan brutal. Penguasa-penguasa yang bisa membuat keputusan-keputusan yang menyangkut kepentingan orang banyak, kisah-kisah perangnya orang Belanda, di mana orang Timor yang turun bunuh-bunuhan. Penduduk di pedalaman yang dipaksa tinggalkan kampung dan kehidupannya untuk agenda-agenda penguasa di kota. Ini bisa jadi sumber ide untuk berkarya.

Saya sendiri berharap bisa masuk lebih dalam lagi, siapa tahu ada hal-hal mengasyikan yang bisa kita temui dari memori-memori kolektif kota ini. Misalnya, siapa yang lebih berkuasa mengatur kota ini? Pemerintah atau para pemilik modal besar? Apakah dari sejarah itu kita bisa belajar sudah pernahkah keadilan yang merata dirasakan di kota ini? Atau jangan-jangan kenyamanan kota hanya milik tingkatan-tingkatan sosial tertentu? Bila ada istilah “American Dream” maka seperti apa gambaran dari “Impian Kupang”?


Terkaan saya tak jauh-jauh dari keamanan finansial, menjadi PNS (syukur-syukur punya jabatan tinggi), dan mengidentifikasi diri sebagai warga kota dengan simbol-simbol seperti kepemilikan rumah, mobil, dan status sosial yang bisa diwakili dengan bentuk-bentuk penampilan. Hal-hal yang makin mengukuhkan kota sebagai sebuah pasar.

Apakah bahasa utama di kota ini adalah uang bagi kepentingan personal? Lalu apakah ada keadilan sosial? Apakah kepelikan hidup masyarakat kota dan masalah-masalahnya harus dibuat terus “ada”? Supaya ada dana penuntasannya? Sebagai terkaan ini sangat mungkin untuk salah.

Bicara soal seniman dan karya seni, untuk kota dengan acara kesenian yang jarang diadakan, sulitlah untuk menerka-nerka seni seperti apa yang menjadi minat utama di kota ini. Apakah seni rupa dilihat sebatas sebagai hanya sebuah hiasan? Buah-buah karya keterampilan tangan yang akan jadi pemanis dari kehadiran diri maupun kelompok.

Karya seni jarang dimaknai sebagai suara untuk menggambarkan realita-realita yang dapat disampaikannya dengan caranya yang khas pada media-media lahiriahnya, melainkan dilihat hanya pada sisi-sisi bombastis seperti kemampuan-kemampuan meniru bentuk secara sempurna, dan sisi-sisinya sebagai hiburan remeh-temeh. Sekali lagi ini hanya terkaan.

Akhir kata, pameran yang sudah cukup memberi warna Kota Kupang  di masa pagebluk ini diharapkan akan mendapat respon. Bentuk respon dan pihak-pihak yang mengadakannya  tentulah beragam, dan tak ada satu cara yang paling benar soal itu. Diskusi dan nongkrong akan makin hidup dengan respon-respon yang tumbuh. Hidup akan terus berlangsung, memori akan menjejak, dan masa depan mungkin akan sedikit menghibur bila seni dipakai untuk menerkanya.***

*Tim Nongkrong adalah penulis (Armando Soriano, seorang guru SMP yang tinggal di Kupang) dan beberapa koleganya yang hobi “baomong pi sana-sini” (daring maupun luring) sampai jauh malam.

Foto-foto: Tim Dokumentasi Pameran Arsip Publik.

Related Posts:

KFK Tuan Rumah Jogja-NETPAC Asian Film Festival di Kota Kupang

 

Kupang, LekoNTT.com - Mengusung tema Kinetic, Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF KINETIC) diselenggarakan di 29 negara dan 15 kota di Indonesia. Melalui tema tersebut, diharapkan adanya gerakan-gerakan yang berasosiasi dengan kekuatan maupun energi. Dinamika gerakan ini mewakili usaha-usaha para penggiat sinema yang tidak larut dan menyerah pada situasi pandemi.

Presiden JAFF Budi Irawanto dalam keterangan tertulis mengatakan di tengah situasi pandemi, Kinetic menggarisbawahi pentingnya merawat gerak sinema Asia demi mencapai kebesarannya. "Masyarakat bersama JAFF 15 dapat terlibat aktif bagi mereka yang paling membutuhkan bantuan di tengah krisis, dengan mengarungi gelombang perubahan oleh pesatnya perkembangan teknologi dan transformasi mendasar dalam ekologi media kontemporer," kata Budi.

JAFF sendiri merupakan festival film di Indonesia yang digelar setiap tahun sejak 2006 saat terjadi gempa di Yogyakarta. Festival ini lahir untuk mendekatkan sineas dengan masyarakat.

Oleh sebab itu, dengan semangat yang demikian JAFF KINETIC menyasar pada 29 negara Asia Pasifik. Negara-negara dimaksud antara lain: Australia, Cambodia, China, Denmark, Germany, Hongkong, India, Indonesia, Iran, Japan, Kazakhstan, Laos, Lebanon, Malaysia, Myanmar, Norwegia, Philippines, Qatar, Serbia, Singapore, Sri Lanka, South Korea, Taiwan, Thailand, Tibet, Turkey, USA, Uzbekistan, dan Vietnam.

Sedangkan 15 kota di Indonesia antara lain: Yogyakarta, Aceh, Padang, Lampung, Bandung, Tegal, Jember, Klungkung, Balikpapan, Makassar, Palu, Sumbawa, Lombok Timur, Kupang, dan Papua. Di kota-kota ini, JAFF KINETIC bekerja sama dengan komunitas-komunitas film setempat.

Sebanyak 128 film (57 feature dan 71 film pendek) siap ditayangkan yang terbagi dalam beberapa program, antara lain Asian Perspectives, JAFF-NETPAC, Light of Asia, Indonesian Films Splash, Special Program dengan Shanghai IFF 2020 dan Kemenparekraf, serta kolaborasi bersama 15 komunitas film tersebut.

Komunitas Film Kupang Siap Gelar JAFF KINETIC di Kota Kupang

Kupang, Nusa Tenggara Timur adalah salah satu dari 15 kota di Indonesia yang dipilih untuk menggelar 15Th JAFF KINETIC. Dalam melangsungkan pergelaran film tersebut, JAFF bekerja sama dengan Komunitas Film Kupang (KFK).


Koordinator 15Th JAFF KINETIC di Kupang, Irwan Sableku kepada Leko NTT mengatakan, ada 36 film yang akan diputar pada 15th JAFF-Kinetic di Kota Kupang. "Di Kupang, kita akan putar 36 film. Ada 2 film dari KFK, 4 Film karya teman-teman Sineas NTT, 16 Film karya sutradara Indonesia dan Asia yang dikurasi oleh tim JAFF-NETPAC, dan 14 film dari Komunitas penyelenggaran 15th JAFF-Kinetic di 14 Kota lainnya," kata Irwan yang juga penggiat film di KFK.

Irwan menjelaskan, malam pemutaran akan dilaksanakan selama dua hari mulai tanggal 27 hingga 28 November 2020 di Ruko F-Square Perumnas, Lantai 2. "Kita akan memberlakukan protokol kesehatan mulai dari seluruh panitia hingga penonton."

Hal itu pun ditegaskan Adriana Ajeng Ngailu penggiat KFK. Ajeng mengungkapkan dalam memberlakukan protokol kesehatan, jumlah penonton akan dibatasi. "KFK batasi penonton, hanya 30 orang per slot, ruangan pun akan dipersiapkan dengan baik mulai tanggal 26 November dengan semprot disinfektan, ruangan benar-benar steril," katanya.

Selain itu, ruangan yang dijadikan tempat pemutaran film pun akan disediakan tempat cuci tangan, hand sanitizer dan kursi-kursi diatur berjarak. Penonton juga diharapkan menggunakan masker.

Ajeng menjelaskan, rangkaian JAFF KINETIC di Kupang sudah dilangsungkan sejak 24 November 2020. Acara yang sudah dilangsungkan adalah Live Streaming Instagram (Live IG) di akun @komunitasfilmkupang yang membahas tema seputar dunia perfilman. Sesi pertama Live IG bertemakan Pengalaman Membuat Film Pendek dengan menghadirkan Adipapa Otanu, penggiat KFK sebagai pembicara dan dimoderatori oleh Tata Yunita, penggiat KFK.

Sesi kedua Live IG dilangsungkan pada hari ini Rabu (25/11) pukul 15.00-16.30 WITA. Hadir sebagai pembicara adalah jaringan perfilman di NTT antara lain: Kita Kefa TV (Kefamenanu, TTU), Hotu-Hotu (Atambua, Belu) dan Komunitas Kahe (Maumere, Flores) dengan tema Jejaring Perfilman Provinsi NTT. Live IG ini akan dipandu oleh Yedi Letedara, penggiat film di KFK.

Film Exhibition Hari Pertama

Pemutaran film akan dilangsungkan selama dua hari mulai tanggal 27 hingga 28 November 2020 di Markas KFK, Aula Ruko F-Square Lantai 2, Perumnas Oebobo. Pada hari pertama (27/11), pemutaran film akan dibagi dalam empat slot.

Slot pertama dilangsungkan pada pukul 13.15 - 14.45 WITA. Film yang diputar terdiri dari satu film KFK dan dua film karya anak-anak NTT.

Slot kedua dilangsungkan pada pukul 15.00 - 17.00 WITA. Film yang diputar adalah "Mekong 2030" (2020).

Slot ketiga akan dilangsungkan pada pukul 17.00 - 18.50 WITA. Di slot ini terdapat 5 Indonesian Film Splash Short 3.

Slot keempat akan dilangsungkan pada pukul 19.00 - 21.30 WITA. Ada 7 Film Forum Komunitas.


Film Exhibition Hari Kedua

Di hari kedua, Sabtu (28/11) KFK akan memutar 16 film yang terbagi dalam empat slot sebagai berikut:

Slot pertama, satu film pendek dari KFK dan dua film pendek karya anak NTT. Tiga film ini akan diputar pada pukul 13.15 - 14.45 WITA.

Slot kedua, lima film Light of Asia 3, diputar pada pukul 15.00 - 17.00 WITA.

Slot ketiga, Asian Film Perspective, diputar pada pukul 17.00 - 18.50 WITA.

Slot keempat, tujuh film Forum Komunitas, diputar pada pukul 19.00 - 21.30 WITA.


Untuk mendaftarkan diri dalam slot nonton, calon penonton bisa menghubungi kontak 0822-9877-2868 dan terus memantau akun IG @komunitasfilmkupang untuk mengakses informasi terbaru. Akan ada Film Exhibition hari kedua dan kegiatan selanjutnya seperti Live Music.

KFK dalam menggelar 15Th JAFF KINETIC didukung oleh beberapa jaringan komunitas dan media partner di Kota Kupang seperti Komunitas Sekolah Multimedia Untuk Semua (SkolMus), Komunitas Timore Art Graffiti, Komunitas Leko, AFB TV, Dian Timur, Kita Kefa TV dan Leko NTT. (klk)

Related Posts:

Panggung Para Penipu

Oleh: Dominggus Elcid Li *


Natal kelabu hampir tiba tahun ini. Bunyi petasan yang dibeli dan dimainkan sendiri oleh para penjualnya menandai penuhnya tempat tidur sekian rumah sakit di Kupang akibat  angka penderita COVID-19 yang butuh dirawat semakin merangkak naik. Sementara itu menjelang akhir tahun para birokrat sibuk menghabiskan anggaran, sedangkan COVID-19 dianggap bisa ‘sembuh sendiri’ tanpa perlu usaha. Mereka terbiasa menghafal, sehingga tidak tahu apa yang hendak dibuat meskipun air sudah tiba di batang leher.

Ya, ini memang pangggung para penipu. Para tukang tipu yang seolah bertindak sebagai ‘tukang sulap’. The Magician. Di atas panggung mereka menyebutkan kata-kata ‘Agar kita semua semakin sejahtera’ dalam setiap pertemuan yang menghadirkan para tukang dengar yang sudah mati rasa akibat terlalu sering ditipu. Agar tampak waras dikutiplah angka-angka, agar logika sederhana dikira ada. Minimal untuk beberapa detik. Agar sejenak benak orang terasa bergerak maju. Diselingi dengan cerita pengurai tawa.

Kadang mereka yang hadir tertawa mendengar lelucon di tanah kering. Lebih sering mereka pulang membawa mimpi kering dari pertemuan. 

Para penipu ini juga sering bermain orang-orangan berseragam. Berteriak keras seolah berwibawa. Kalau perlu kutip sana-sini, agar tampak tahu. Dan sebisa mungkin terlihat bijak. Beberapa jongos dipersiapkan untuk selalu membungkuk dan diberi makan untuk tetap setia. Panggung-panggung ini mereka bawa kemana pun pergi. Bahkan hingga ke rumah adat yang seharusnya sakral. Dikiranya nenek moyang butuh tipuan mereka. Bikin sesuatu juga belum, tapi lagak seperti mereka bertaruh nyawa pergi ke bulan.

Menghadapi situasi ini, para pengamat juga sibuk mencocokan dengan ‘teori mereka’. Ya, teori yang sudah gagal sebelum ditulis, karena tidak pernah sampai ke titik pengertian. Sekedar numpang tempel. Bukan apa-apa, penipuan para tukang tipu ini terlalu jelas untuk tidak dilihat, tetapi para pengamat memilih untuk menipu diri. Agar selamat. Sambil itu mereka sibuk membayangkan Q1, Q2, Q3. Ini bukan simbol film porno. Ini level jurnal ilmiah. 

Setiap tukang tipu, punya cerita pendukungnya masing-masing. Mereka begitu bersemangat untuk saling menjegal. Tipe utama politikus-pengusaha adalah mereka dicitrakan sebisa mungkin sebagai orang baik yang suka memberi. Tak hanya itu mereka amat disiplin bangun pagi, bekerja, merancang strategi untuk mencuri. Kenapa para pekerja keras ini mencuri? Ya, supaya ada duit yang dipakai untuk menggerakan sistem yang sudah mampus ini.

Coba tengok mental para pegawai. Tidak ada uang, tidak ada pergerakan. Meskipun kematian sudah di ujung hidung, tetap saja sibuk mencuri. Apakah mencuri itu tidak dosa? Lalu dia mulai bertutur ‘Kau tahu semua yang suci itu sudah saya beri, saya beli usus mereka…Rantai-rantai makanan mereka saya kasi mulai dari anak, menantu, hingga cacing dalam perut-perut mereka.’ Menurutnya semua harus mau, sebab untuk bertengger dalam ‘jabatan publik’ tidak ada yang gratis.

Di tanah kering ini para penipu bergentayangan. Berseragam pula. Apa kata dunia mendatang mengenang periode kita tentang para penipu yang gemar berseragam dan bergerombolan jika berjalan. Laksana para bebek yang sedang latihan fitness bersama-sama. Ribut sekali. Agar kelihatan serius, para setan gentayangan ini mengangkat juru bicara. Tugas juru bicara adalah mengatakan semuanya dengan cara berbicara tentang apa saja menanggapi seluruh pertanyaan, tetapi tidak berarti apa-apa. 

Tugas juru bicara adalah menipu sehalus mungkin, sehingga para jurnalis lapar tidak sadar dan sempat mengajukan pertanyaan yang ada darahnya. Ya, pertanyaan yang dilontarkan lebih sering mekanis, tiada beda. Isi tidak disentuh, apalagi mengurai penderitaan.

Ah, kamu ngomong apa? Si jurnalis juga mengaku tidak tahu apa yang ia tulis, yang penting itu berita di-klik. Agar usus tidak dikilik-kilik dan penagih hutang jauh dari muka pintu. Intinya, tidak usah bicara apa adanya jika mau selamat.

Di era pandemi ini virus penipuan makin merajalela. Tipuan harus dilakukan dengan fokus maksimal. Mengatakan yang besar-besar, sambil mulut penuh bualan, dan hadirin membuka mulut secara rutin. Entah tersenyum, tertawa lebar, dan yang paling sering menggerutu. Tapi yang terakhir ini dilakukan di toilet. Tidak ada lagi keberanian yang tersisa. Pun jika berani tidak tahu caranya bagaimana menjadi manusia merdeka. 

Di negeri para tukang tipu orang sibuk cari selamat sendiri. Konon virus tidak membunuh jika dilakukan bersama-sama dengan keyakinan yang sama. Tipuan yang diyakini amat sulit dibantah. Apalagi ditambah dengan gelegar suara, kuasa tak terbatas, artinya semua yang mungkin dibeli sudah dibeli, dan semua yang kejam sudah diambil alih, dan semua yang suci sudah takluk. 

Di atas panggung itu kuncup-kuncup bunga yang pernah dianggap akan mekar sibuk membela koruptor, para pencuri, atas nama seragam yang sama. Bagi mereka ini tak lebih dari kongsi dagang. Kebetulan pintu masuknya butuh kata sandi ‘rakyat, negara, kesatuan, dan republik’.

Di negeri yang air cebok untuk para punggawanya adalah air mineral yang dibeli dari uang hasil menjarah tanah, hutan, dan darah manusia semakin hari kata-kata tipuan diterima baik. Dengan nada hipokrit penuh kedamaian. Jika ingin selamat, tertawalah meskipun tidak lucu. Jika ingin jabatan, jilatlah meskipun penuh kotoran. Jika ingin tampil, bunuhlah semua yang indah. Mantra kematian berjalan bersamaan dengan gerak maju para penipu membelah kita.

Kupang, 17 November 2020

*Penulis: Direktur Institute of Resources Governance and Social Change (IRGSC), Anggota Forum Academia NTT.

Related Posts:

Air Mancur Jefri, Warga Menangis

Oleh: Lodimeda Kini*

Air mancur Jefri menari di atas kekeringan. Ia bagaikan seorang prajurit yang mengorbankan raga demi kesenangan mata. Bagaimana tidak? Manakala ia berfantasi menjadikan Kota Kupang enak dipandang, ia lupa bahwa kota ini haruslah nyaman ditinggali. 

Hari ini, sama seperti hari-hari sebelumnya, Kali Dendeng didatangi keluarga dan mama-mama dari berbagai tempat di Kota Kupang: Fatufeto, Air Mata, Oebobo, hingga Liliba. Mereka datang, ada yang dengan satu karung, ada yang dengan dua karung untuk mencuci pakaian kotor di Kali Dendeng.

Ada yang karena sumur, sumber airnya selama ini, mengering. Ada yang karena air leiding-nya tak lagi mengalir, dan bahkan tidak pernah mengalir. Ada yang karena tidak sanggup membeli air tangki. Ada juga yang karena mahalnya biaya pemasangan sambungan rumah, hingga hari ini memang harus mencuci di kali.

Bagaimana tidak, seorang warga yang tinggal tidak jauh dari IPAM Kali Dendeng mengatakan, bahkan walau pipa air melewati bagian depan rumahnya, ia diminta membayar 3 juta rupiah untuk pemasangan sambungan ke rumahnya. 

Air Kali Dendeng dengan kondisi bendung (weir) yang sudah mengalami kegagalan konstruksi di kanan dan di kirinya itu, tak begitu jernih, walaupun tak sekeruh ketika musim penghujan. Mama-mama, anak-anak kecil dan orang muda bertumpah ruah di sana. Selain mencuci baju, ada juga yang mandi dan sekedar bermain air.


Tidak diragukan, air kali itu kini banyak mengandung bahan kimia pencemar air. Air kali inilah yang dipompa ke instalasi pemurnian air berkapasitas 10 liter/detik, dan kemudian disalurkan kepada para penduduk Kota Kupang yang cukup beruntung karena terhubung ke pipa distribusi PDAM.

Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Kali Dendeng telah beroperasi sejak tahun 2013 untuk memasok air siap minum bagi pelanggan PDAM yang terhubung, juga memasok air ke RSUD SK Lerik. Entah bagaimana kualitasnya, saat ini masyarakat lebih peduli akan kuantitas. Menurut mereka yang penting ada air yang mengalir. 

Berbicara masalah air bersih, berdasarkan data BPS Kota Kupang (2020) penduduk kota saat ini diperkirakan berjumlah 435 ribu atau setara dengan 103 ribu rumah tangga. Pada saat ini PDAM, baik milik Kota maupun Kabupaten melayani sebanyak 12 ribu rumah tangga, jumlah ini pun masih memungkinkan adanya pen-double-an, yakni rumah tangga yang terdaftar pada kedua PDAM.

Bagaimana sisanya memenuhi kebutuhan air mereka? Kita tahu jawabnya. Untuk pemenuhan air minum, sebanyak 48% penduduk kota bergantung pada leiding maupun sumur (bor/terlindung/tidak terlindung). Sementara itu sisanya bergantung pada air isi ulang dan kemasan. Dari pemenuhan air saja, Kota Kupang bukanlah kota untuk semua orang, hanya jika kamu berduit kamu bisa hidup layak di Kota Kupang. 

Walau pemenuhan kebutuhan air sebagai kebutuhan dasar manusia belum sanggup dituntaskan oleh Pemkot Kupang. Jefri cukup berani dalam berinovasi pada kebutuhan tersier rekreatif seperti pembangunan taman dan pemasangan lampu jalan.

Jika saja Jefri melihat dan merasakan Kota Kupang sebagai penduduk, bukan sebagai pengunjung yang hanya singgah sejenak, mungkin ia akan bisa memahami dan menjawab kesulitan warganya. 

Dalam sebuah kanal Youtube berjudul Inovasi 2019 Pemerintah Kota Kupang, Jefri bercerita tentang motivasinya dalam melakukan perombakan taman-taman kota dan menghias jalan-jalan Kota Kupang. Suatu hari, ketika ia masih menjabat sebagai anggota DPR RI dan melakukan kunjungan kerja ke Kupang, waktu itu ia melintasi bundaran PU, seorang koleganya menanyakan apakah kotanya masih jauh.

Sentimen yang tidak pada tempatnya ini sungguh tidak murah harganya bagi warga Kota Kupang. Tidak kurang dari 31 miliar dana dikucurkan untuk belanja modal pengadaan penerangan jalan, tanaman dan hutan kota, dan sekitar 25 miliar lainnya untuk belanja modal pengadaan lampu jalan.

Di sisi lain, hanya sekitar 10 miliar dana yang ia alokasikan untuk penanganan air bersih di Kota Kupang pada tahun 2019. Untuk berbelanja tanaman hias saja, Jefri tidak ragu mengalokasikan dana sebesar 280 juta. Belum lagi belanja tanaman (non-hias) yang mencapai 380 juta. Namun untuk belanja pengadaan instalasi air minum dan air bersih juga pengadaan air bersih, ia sampai hati mengalokasikan 160 juta saja pada masing-masing pos.

Matematika anak SD pun bisa melihat bahwa alokasi ini jelas lebih kecil jika dibandingkan dengan 3 miliar yang ia perjuangkan untuk air mancur taman Tirosa.

Tidak akan mengagetkan bahwa ujung dari diskusi mengenai masalah pemenuhan air bersih di Kota Kupang akan berakhir dengan cerita klasik: konflik aset antara Kabupaten dan Kota Kupang. Berpikir untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah memang sulit, oleh sebab itu orang lebih suka mencari kambing hitam, karena inilah yang memang paling mudah dilakukan. Tapi apalah yang bisa kita harapkan, jika kepemimpinan hanya berdasar sentimen yang salah tempat, keengganan berpikir, dan sudut pandang dari kursi emas.

Semoga Jefri sadar, indikator kota layak huni yang teratas bukanlah lampu dan taman kota. Jika Kota Kupang adalah Kota Kasih, dan kasih itu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak sombong dan tidak mencari keuntungan sendiri, untuk apa kita bersembunyi dibalik pembangunan yang superfisial.

Hanya supaya terlihat seperti kota, kita bangun tamannya, tapi tidak memprioritaskan akses kebutuhan dasarnya. Untuk apa? Dan jika kasih itu tidak mencari keuntungan sendiri, mari duduk bersama dan rasakan pergumulan warga Kota Kupang untuk Kota Kupang yang lebih adil. 

***

*Penulis adalah peneliti IRGSC dan anggota Forum Academia NTT

Related Posts:

Camp Uiasa: Rindu Yang Terbayar, Harapan Yang Menyata

Oleh: Herman Efriyanto Tanouf

Adanya rindu mengandaikan adanya kenangan. Uiasa punya rindu, ialah kenangan-kenangan yang tertinggal di balik puing-reruntuhan dan penginapan-penginapan tua yang masih kokoh berdiri, sarat antik. Bersamaan dengan itu rindu, harapan digantung akan adanya sosok-sosok yang peduli, ialah mereka yang mampu menghadirkan kembali kenangan itu dalam wujud yang lain. Camp Uiasa adalah jawaban: rindu terbayar, harapan menyata.

***

Seperti tempat-tempat lain di Pulau Semau, Nusa Tenggara Timur, Desa Uiasa dan masyarakatnya punya banyak kisah menarik. Pada tahun 1990-an, Desa yang terletak di Kecamatan Semau Utara, Kabupaten Kupang ini menjadi target kunjungan, terutama bagi wisatawan asing. Konon, sebelum orang-orang mengenal dan berkunjung ke berbagai lokasi wisata di Pulau Semau, Pantai Uiasa adalah tempat pertama yang dikunjungi wisatawan.

Situasi itu ditandai dengan adanya penginapan-penginapan tua yang berjejer di sepanjang garis Pantai Uiasa, sebagian telah menjadi puing-reruntuhan. Penginapan dan puing-puing bangunan itu, isyarat melankolik di Desa Uiasa; desa yang seturut arti nama dalam Bahasa Helong berasal dari dua kata: ui (air) dan asa (rahang).


Air Rahang, demikian arti nama yang merupakan keterwakilan akan alam dan orang-orang yang mendiami tempat ini. Kalau air identik dengan ‘yang menghidupkan’, maka rahang adalah simbol ‘kekuatan’. Bisa dibilang, Uiasa yang juga merupakan nama dusun memang berkelimpahan air. Setiap orang yang berkunjung ke tempat ini akan menjumpai Kolam Air Tawar Uiasa, sekaligus menjadi gerbang menuju dusun dan Pantai Uiasa.

Benar, bahwa di Uiasa ada kehidupan, ada kekuatan. Ialah para penghuni dan alam yang punya daya tarik-kekuatan yang tidak bisa dipungkiri. Uiasa tidak hanya menjadi milik Marga Daulika dan Laikuni (penemu mata air), tapi milik siapa saja yang berkunjung ataupun memilih menetap di tempat ini. Penginapan dan puing-puing bangunan, itu tanda bahwa selain penduduk asli, orang-orang asing pun bisa tinggal di Uiasa; ada dan hidup bersama masyarakat, menikmati pesona pantai yang menjanjikan keindahan sunrise.


Tentang kisah melankolik, pada tahun 1997 ketika Asia termasuk Indonesia mulai dilanda krisis moneter, para wisatawan asing yang nyaman di Uiasa pun merasakan kepanikan. Situasi ini diperparah dengan terhentinya penerbangan langsung Kupang-Darwin (Australia), gejolak Timor Timur bahkan peristiwa Bom Bali I pada 2002 silam. Situasi itu menjadikan para wisatawan asing meninggalkan Uiasa, penginapan-penginapan dikosongkan. Semua jadi kenangan, masyarakat pun merasakan kehilangan terutama usaha-usaha kecil yang bisa menopang kebutuhan hidup mereka.

Ekowisata, Jawaban Bagi Masyarakat Desa Uiasa

Semenjak Uiasa ditinggalkan para wisatawan asing, masyarakat kembali pada ‘situasi normal’. Segala usaha penunjang kebutuhan ekonomi, sama seperti masyarakat pada umumnya. Mereka mengandalkan kios-kios kecil, pasar, ataupun mengelilingi kampung-kampung menawarkan barang dagangan, entah hasil kebun, hasil laut, ternak ataupun produk inovasi lainnya. Selama belasan tahun, aktivitas semacam itu yang mereka lakukan.

Sarlota Baun, perempuan paruh baya turut merasakan situasi pasang-surut itu. Ia sedikit berkisah tentang situasi dan aktivitasnya pada era 1990-an. Sebagai seorang ibu rumah tangga, ia pun punya tanggung jawab untuk menghidupi keluarga dengan menjual hasil tanaman dan produk inovasi lainnya.

Beta mulai jualan itu sebelum menikah. Kalau dulu, jualan di Kupang tapi masuk tahun ‘90 sampai 1997, katong jualan di kampung sini saja karena banyak bule yang datang ke sini. Setelah bule dong pulang, katong kembali seperti biasa, jualan di Kupang atau di kampung lain, juga di rumah saja tapi hasilnya sonde cukup,” ungkap Sarlota dengan wajah sedikit murung.


Ekpresi ceria, senang dan bahagia baru nampak di wajah Sarlota, warga Dusun Uiasa itu ketika ditanya mengenai Pengembangan Ekowisata Uiasa; sebuah program yang dijalankan oleh OCD Beach and Café di Desa Uiasa, kerja sama Global Environmental Facilities-Small Grant Program (GEF-SGP) dengan Perkumpulan PIKUL sebagai host. Seperti berendam di Kolam Air Tawar Uiasa, jawaban sejuk-segar muncul dari isi hati Sarlota.

“Bagus sekali. Katong di sini sangat senang, program ini buat katong dari bajual kecil-kecil, jual sayur atau apa saja yang bisa dong (pengunjung) beli, laku banyak. Sebelumnya katong sudah dapat pelatihan, buat minuman, kue, agar-agar, tanam sayur, terus dijual. Semua bahan dasar dari katong sendiri.”

Program tersebut telah membawa dampak baik bagi Sarlota dan masyarakat setempat. Pada tahun-tahun sebelumnya, kebanyakan masyarakat di Desa Uiasa belum berpikir tentang bagaimana menjadikan pekarangan rumah sebagai lahan untuk menanam, misalnya sayur-sayuran. Namun sejak tahun 2019 atau selama 10 bulan pengembangan ekowisata dilangsungkan di Uiasa, pola pikir dan aktivitas masyarakat mulai berubah.

“Dulu kan katong kira hanya orang yang punya tanah, punya air banyak yang bisa tanam, tapi setelah dapat pelatihan ternyata katong juga bisa. Mulai dari situ, katong bisa tanam tomat, sayur, pepaya, jual sedikit-sedikit.”

Melalui program tersebut didukung dengan adanya Camp Uiasa, dalam sehari Sarlota bisa memperoleh pemasukan sebanyak 400 hingga 500 ribu. Ia mengaku, walaupun program dari OCD Beach and Café telah berakhir pada Oktober 2020, tapi semua usaha yang telah didapat akan terus dijalankan. “Katong pasti teruskan karena itu berhasil buat katong. Lebih bagus buat katong ke depan. Semoga ada program lanjutan, biar masyarakat lebih banyak kerja sama,” tutup Sarlota yang tengah menjaga lapak jualannya di bawah pohon di pinggir Pantai Uiasa, di dekat terminal-Camp Uiasa.


Kesan yang sama pun diungkapkan oleh Feni Rosina Nope, seorang ibu yang sehari-hari menghabiskan waktunya dengan menyiram tanaman di pekarangan rumah. Sebagian tanamannya adalah hasil dari pelatihan bersama jaringan atau mitra kerja Perkumpulan PIKUL. Rumah dari perempuan yang akrab disapa Mama Rosi, memang rimbun-menghijau. Banyak tanaman seperti sirih, tomat, lombok, sayur-sayuran, sarat di pekarangan rumahnya yang berjarak kurang lebih 200 meter dari Pantai Uiasa. Seperti Sarlota, Rosi juga punya cerita.

“Dulu, akhir tahun 90-an di sini ramai sekali, tapi macet karena konflik Tim-Tim. Bule dong pulang ke Darwin, jadi itu penginapan-penginapan kosong. Dong sonde datang ke sini lagi,” kisah Rosi, perempuan kelahiran 3 September 1974.

Sejak adanya pengembangan ekowisata di Uiasa, Rosi yang juga pernah mengalami masa-masa sulit kembali produktif. Ekowisata telah menopang penghasilan perempuan dengan segudang pengalaman bersama mitra kerja Perkumpulan PIKUL. “Dengan adanya ekowisata, sangat menunjang kita punya penghasilan. Apalagi ada juga Pokdarwis yang dibentuk setelah OCD masuk, penghasilan masyarakat berjalan bagus. Pokdarwis harus harus tetap berjalan.”


Rosi menuturkan, program ekowisata sangat bagus untuk diterapkan karena ada kaitannya dengan keindahan alam. Untuk menjaga agar alam tetap indah, keramahtamahan terhadap lingkungan dan pengunjung perlu ditingkatkan. “Kalau kita mau tanam, ya pakai pupuk alam, bagian dari jaga lingkungan, hasilnya lebih bagus dan sehat. Hutan perlu dihijaukan, hutan perlu dijaga, laut dan pantai juga perlu dijaga. Ekowisata buat kita semakin sadar.”

Ia juga mengharapkan adanya kerja sama yang baik antara pemerintah desa dan masyarakat setempat demi mewujudkan Uiasa lebih baik. Uiasa dengan keindahan pantai dan panorama bawah laut seperti terumbu karang, bisa jadi contoh bagi tempat-tempat lain di Pulau Semau.

“Ke depan itu harus berkelanjutan. Setiap proyek yang datang itu baik untuk masyarakat, ya kita lanjutkan toh, lanjut terus. Kita jangan cukup sampai berakhirnya proyek. Kalau hasilnya baik, kenapa tidak dilanjutkan? Itu kan untuk kita. Setiap yayasan yang masuk itu untuk memfasilitasi kita, bagaimana kemauan kita. Apalagi sebagai orang tua, harus disampaikan ke anak-anak juga, regenerasi begitu. Kalau tidak, nanti siapa yang mau lanjutkan?”

Sebagai orang tua, Rosi pun punya tanggung jawab kepada anak-anak. Mendidik dan mengarahkan anak-anak agar lebih cerdas membaca setiap peluang ada. “Anak-anak muda sekarang harus tangkap peluang ini. Pikiran harus berubah, jangan hura-hura saja demi masa depan yang bagus. Intinya ramah tamah, jaga lingkungan supaya tetap bersih, tetap rawat terumbu karang, jangan bom ikan sembarangan. Anak-anak muda juga harus belajar Bahasa Inggris, biar bule datang bisa ajak bicara.”

Ekowisata, Orang Muda dan Anak-Anak Uiasa

Sebagaimana harapan para orang tua, misalnya Feni Rosina Nope bahwa orang muda perlu membaca peluang dengan adanya ekowisata. Sebagai kelompok yang punya semangat tinggi, orang muda diharapkan makin produktif. Mereka adalah salah satu kelompok yang bisa menjadikan program ekowisata sebagai dasar untuk berkarya, menghidupi diri dan kelompok, menjaga alam Uiasa dan segala isinya.

Di tengah persiapan Soft Launching Camp Uiasa pada 23 hingga 24 Oktober 2020, tampak orang-orang muda berperan aktif. Mereka bahkan mengurangi waktu istirahat demi peluncuran yang lebih baik. Sedari pagi hingga malam dan fajar kembali merekah di ujung barat Pulau Timor, kelompok orang muda yang mengelola Camp Uiasa tetap ceria.


Di saat banyak kesibukan, mereka masih sempat melayani para tamu yang ikut hadir dalam peluncuran itu. Mereka melayani para tamu dengan membuatkan kopi hingga menyiapkan jamuan-makan bersama. Siapa saja yang ke sini, selain keindahan, kenyamanan senantiasa diberi.

Roberto Arsika Baun, salah satu pemuda yang aktif di Camp Uiasa, bentukan OCD Beach and Café. Pemuda berusia 25 tahun ini bersama teman-temannya yang lain giat mengkampanyekan keindahan alam dan pantai Uiasa. Mereka bahkan telah mendaftar dan mengelola sebuah akun Instagram dengan nama @camp_uiasa. Di akun tersebut, mereka aktif mengeksplor sudut-sudut keindahan dan segala informasi tentang Pantai Uiasa.

Jauh sebelum adanya Camp Uiasa, pemuda yang akrab disapa Berto masih awam dengan istilah ekowisata. “Sebagai pemuda di sini, beta awalnya sonde mengerti apa itu ekowisata dan isu apa yang dibawa. Waktu OCD datang dan jelaskan, beta baru tahu kalau ekowisata itu baik untuk masyarakat, katong sonde di-anaktiri-kan. Katong punya tanah, katong punya wilayah, bermanfaat untuk katong pung hidup sendiri,” ungkap Berto yang juga berprofesi sebagai petani.


Berto dan orang muda di Uiasa telah berproses bersama OCD Beach and Café selama 10 bulan. Selama itu pun, mereka telah merasakan penting dan manfaatnya ekowisata, hingga pada Agustus 2020 bekas terminal diubah jadi Camp Uiasa. “Ini yang paling betul. Jangankan di Desa Uiasa, desa-desa di Semau harusnya seperti ini karena ekowisata basisnya masyarakat. Paling penting itu lahan lautnya. Kalau kasih ke investor, orang-orang Semau akan di-anaktiri-kan. Kasihan masyarakat asli di sini, kalau dibuat jadi wisata super mewah nanti tidak ada dampak buat masyarakat, paling hanya buat pengusaha-pengusaha besar.”

Kegelisahan Berto berangkat dari kenyataan-kenyataan yang terjadi di NTT saat ini. Semisal Labuan Bajo yang dijadikan sebagai destinasi wisata super premium, dilabel 10 Bali Baru, termasuk kawasan Taman Nasional Komodo di Pulau Rinca, Manggarai yang jadi target konsep wisata Jurassic Park. Ekowisata adalah jawaban yang sangat dibutuhkan masyarakat. “Nah, apa yang OCD juga PIKUL buat di sini, dampaknya sangat besar buat katong. Katong sendiri yang kelola, katong sendiri yang akan nikmati apa yang sudah katong kelola.”


Ia pun berkisah tentang persoalan yang seringkali dihadapi masyarakat di Desa Uiasa, baik masalah sampah maupun aktivitas penangkapan ikan secara liar. ”Soal terumbu karang, orang-orang yang bikin rusak itu bukan kami. Bom ikan sampai terumbu karang rusak itu dilakukan oleh orang-orang dari luar Uiasa. Mungkin karena aturan juga sonde ketat, jadi orang-orang bebas. Soal hutan juga, masyarakat di sini juga menanam. Mereka tanam jati, tanam lamtoro untuk pakan ternak. Sampah plastik di laut dan pantai, itu juga sampah kiriman. Kami di sini kan sonde minum air kemasan.”

Berto pun menjelaskan, ekowisata telah menyadarkan masyarakat termasuk anak muda untuk membaca peluang usaha. Di rumah-rumah, warga telah menyiapkan kamar layak huni bagi pengunjung. Hal ini yang belum diketahui banyak orang karena minimnya promosi. Oleh sebab itu, media sosial benar-benar dimanfaatkan untuk mengkampanyekan segala informasi tentang Uiasa. “Syukur kalau teman-teman media ikut membantu kami meliput, bikin berita atau tulisan tentang Uiasa, Camp Uiasa.”

Camp Uiasa, bekas terminal itu difungsikan untuk aktivitas anak-anak, pemuda, bahkan orang tua. Anak-anak bisa bermain dan belajar, orang muda dan orang tua saling berbagi cerita, bercengkrama sembari menikmati keindahan pantai dan laut di Uiasa. Pantai Uiasa, tempat bermain yang nyaman bagi anak-anak. Sebelum matahari terbit atau jelang terbenam, anak-anak berlarian di pinggir pantai, kejar-kejaran, sesekali mereka mencari cacing lalu memancing. Ikan-hasil pancingan dibakar, dan dinikmati bersama.


Berbeda dengan anak-anak yang lain, Meri Faot, gadis kecil hitam manis dengan rambut keriting kemerah-merahan, memilih menghabiskan waktu seusai sekolah dengan menjual es, bikinan mama Mery. 24 Oktober 2020 pukul 12.25 WITA di bawah terik matahari, Meri bersama adiknya yang berusia dua tahun duduk di bawah pohon mangga di dekat Camp sambil menawarkan es kepada setiap orang yang lewat.

Meri, gadis kecil berusia 12 tahun itu mulai menjual es sejak pandemi Covid-19. Sekolah diliburkan, kesempatan baginya untuk membantu kedua orang tuanya. Buah hati dari pasangan Agustinus Musfaot dan Lisa Manas Malesi itu setiap hari menjajakan es-titipan mama Mery dengan mengelilingi kampung. Sebatang seribu, sehari menghabiskan lebih dari 50 batang, Meri diapresiasi dengan uang saku senilai 15 ribu hingga 20 ribu, tergantung hasil jualan.

“Uang beta tabung, kasih ke bapak dan mama untuk beli kopi, gula, beras. Beta punya, beta pakai beli buku dan jajan di sekolah,” ungkap siswi kelas V SD GMIT Uiasa itu. Semenjak adanya Camp Uiasa, Meri lebih memilih fokus berjualan di sana. “Beta sonde capek lagi karena di sini banyak pengunjung yang suka beli es.”

Meri berjualan es tapi tidak lupa pada tugas utamanya sebagai anak sekolah yaitu belajar. “Beta jualan biasa sampai tiga jam saja. Setelah itu beta setor, dapat uang, pulang bantu orang tua, belajar dan kerja tugas-tugas sekolah.” Demikian Camp Uiasa, adanya telah bermanfaat bagi masyarakat, mulai dari orang tua, orang muda hingga anak-anak.

Camp Uiasa: Rindu Yang Terbayar, Harapan Yang Menyata

Adanya rindu mengandaikan adanya kenangan. Uiasa punya rindu, ialah kenangan-kenangan yang tertinggal di balik puing-reruntuhan dan penginapan-penginapan tua yang masih kokoh berdiri, sarat antik. Bersamaan dengan itu rindu, harapan digantung akan adanya sosok-sosok yang peduli, ialah mereka yang mampu menghadirkan kembali kenangan itu dalam wujud yang lain. Camp Uiasa adalah jawaban: rindu terbayar, harapan menyata.


24 Oktober 2020, seusai pembenaman bioreeftek (terumbu karang buatan) yang dilakukan oleh kelompok pemuda Uiasa bersama pihak-pihak terkait seperti OCD Beach and Café dan Perkumpulan PIKUL, beberapa orang tua duduk di bawah beringin sembari berkisah. Mereka berkisah seputar penginapan-penginapan yang dulu ramai dihuni oleh wisatawan-wisatawan asing pada akhir 1990-an.

Beberapa wisatawan asing atau lebih dikenal dengan bule, telah menjadi bagian dari mereka. Itu cerita yang senantiasa dituturkan kepada anak-anak kecil ketika mereka bertanya tentang puing-puing dan penginapan-penginapan di sepanjang garis pantai.

Uiasa dengan garis pantai lebih dari satu kilometer sarat pasir putih, jadi tempat favorit bagi bule dan tentu masyarakat setempat. Untuk beberapa tahun lamanya, pengalaman semacam itu jadi hilang (telah disinggung di awal tulisan). Mayarakat Uiasa rindu, dan pada tahun 2019 GEF-SGP dan Perkumpulan PIKUL melalui OCD Beach and Café hadir sebagai jawaban.

Agustinus Yesua Ati Bale (67) salah satu tetuah di Uiasa menuturkan, pada akhir  tahun 1980-an di Uiasa ada beberapa bangunan seperti Teddy’s Bar di bagian selatan, penginapan Flobamora yang berjejer di sepanjang Pantai Uiasa, terminal dan sebuah Bungalow. “Sebelum penerbangan Kupang-Darwin dilarang, banyak bule dari Australia datang ke sini. Mereka tinggal lama di sini tapi setelah dilarang, sonde pernah datang lagi,” kisahnya.

Sebagaimana mama-mama, Agustinus pun senang karena aktivitas di Uiasa kembali ramai sejak pulangnya para wisatawan asing. Situasi itu ditandai dengan masuknya proyek pengembangan ekowisata. “Katong punya usaha sempat macet, tapi setelah mereka (mitra kerja PIKUL) masuk, mereka bantu katong, melayani katong. Mereka ajar katong buat pupuk, tanam segala macam, dan katong sudah nikmati hasil. Mereka mulai perbaiki bangunan-bangunan di sini, kalau sonde sudah lapuk. Anak-cucu bisa rasakan hasilnya nanti ke depan.”

Hal senada diungkapkan Kepala Desa Uiasa, Daud Neno Keban. Sebagai salah satu karyawan yang ikut membangun penginapan Flobamora saat itu, Daud punya kerinduan untuk mengembalikan situasi masyarakat yang dulu. “Setelah OCD ke sini, saya bilang saya punya kerinduan untuk kembalikan pariwisata seperti yang dulu yang bisa dirasakan oleh masyarakat yang ada di sini. Masyarakat sudah pernah rasakan hasil dari pariwisata. Kita harus kembalikan situasi masyarakat yang dulu. Ini kami punya rindu yang terbayar,” kata Daud.

Selaku kepala desa, Daud berniat untuk terus mendorong masyarakatnya untuk mendukung setiap program yang bermanfaat bagi masyarakat itu sendiri. Misalnya ekowisata “ini juga harus didukung pemerintah Kabupaten Kupang dan Pemerintah Provinsi NTT. Apa yang sudah dimulai oleh teman-teman, harus didukung.”


Ia pun menandaskan melalui musyawarah di desa, pemerintah desa pun sudah membahas aktivitas liar seperti pengrusakan terumbu karang lewat pengeboman ikan. Hal itu akan ditindaklanjuti dengan adanya peraturan desa. “Sementara ini kita sudah ke biro hukum untuk asistensi supaya kalau bisa segera jadi aturan baku, jadi payung hukum. Itu juga sudah ditanggapi serius oleh pemerintah kecamatan.”

Intensi yang dibutuhkan saat ini ialah dukungan sumber daya kelola yang dengannya mampu meningkatkan ekonomi masyarakat. Pemerintah Desa Uiasa senantiasa membutuhkan dukungan dari instansi dan lembaga-lembaga terkait pengelolaan pariwisata. Seluruh lapisan masyarakat di Desa Uiasa sendiri sudah punya semangat dan makin produktif dalam menyambut dan melanjutkan ekowisata yang telah dibangun.

Kini dan nanti: camp, pantai dan pesisir Uiasa telah menghadirkan kembali primadona yang pernah ada. Situasi ini didukung dengan tawaran menarik seperti renang, diving, snorkeling, dan cannoe. Hasil dari bioreeftek pun menambah indahnya alam bawah laut.

Selain itu, pengunjung pun dapat menjelajahi situs sejarah seperti mercusuar. Situs peninggalan kolonial itu, satu-satunya mercusuar di Pulau Semau yang masih dimanfaatkan hingga saat ini. Dan, tentunya hasil dari pengembangan pertanian organik, konservasi daratan dan pesisir, serta produk pangan lokal dapat dinikmati. Sebab alam Uiasa dan orang-orangnya menjanjikan kenyamanan yang paling.

***

Oktober, 2020

Artikel ini sebelumnya telah dipublikasikan di website Perkumpulan PIKUL pada 3 November 2020.


Related Posts:

Translate

Populer Dalam Minggu Ini


Youtube

Facebook