LekoNTT.com: Membaca Dahulu, Berkomentar Kemudian
Archive for 2022

Kegagapan Najwa Shihab Membaca Sejarah Timor Leste

Sebuah tanggapan kritis atas liputan Narasi saat perayaan kemerdekaan Timor Leste 2022

Oleh: Ivo Matio Goncalves*


Najwa Shihab saat di Timor Leste (Tangkapan layar YouTube Najwa Shihab).

LEKO NTT - Jika kemerdekaan itu adalah hadiah dan kebaikan hati kaum kolonial (colonial benevolence). Maka, sejarah gerakan pembebasan Timor Leste harus ditulis ulang, atau mungkin gerakan pembebasan itu sendiri memang tidak pernah eksis.

Tidak pernah ada yang namanya korban ratusan ribu jiwa, tidak pernah ada pemerkosaan, tidak pernah ada anak-anak terlantar yang ditinggalkan orang tua mereka karena tewas di medan perang, tidak pernah ada desa-nya para janda.

Tidak pernah ada ratusan pemuda yang gugur di Santa Cruz dan pemuda-pemuda lainnya yang hilang sampai saat ini. Tidak pernah ada yang namanya tahanan politik yang mengalami penyiksaan berat, ada yang mati, dan ada yang raib sampai saat ini.

Tidak akan pernah ada yang namanya gerakan solidaritas di Indonesia dan di belahan dunia lain yang mendukung kemerdekaan Timor Leste. Najwa Shihab pun tidak akan pernah berkunjung ke Timor Leste. Karena Timor Leste akan menjadi sebuah pulau kecil tanpa sejarah. People without history, meminjam kalimat sejarahwan Eric Wolf, karena sejarahnya sudah diciptakan oleh kaum kolonial.

Narasi sejarah seperti di atas tidak pernah eksis. Kaum kolonial sudah sangat berbaik hati menghadiahkan kemerdekaan untuk Timor Leste, tidak perlu perjuangan apalagi pengorbanan.

Inilah akibatnya kalau tidak mempelajari dan memahami sejarah dengan benar. Menggunakan jargon secara salah kaprah dan kelihatan sok tahu tapi sebetulnya tidak tahu.

Baca Juga: 21 Tahun Bukti Cinta kepada Indonesia, WNI Eks Timor-Timur Terabaikan

Baca baik-baik, para kaum terpelajar Indonesia tidak pernah menganggap bahwa Politik Etis yang dicetuskan oleh Ratu Wilhelmina (1901-1942) dan diterapkan oleh penguasa kolonial Belanda sebagai sesuatu yang mulia setelah penjajahan, eksploitasi kekayaan alam dan penindasan selama bertahun-tahun.

Para pendiri Resistência Nacional dos Estudantes de Timor Leste RENETIL (Gerakan Perlawanan Mahasiswa Nasional Timor Timur) pada tahun 1988 di Bali, tidak pernah menganggap bahwa beasiswa yang mereka peroleh dari pemerintah daerah sebagai 'kebaikan hati' kaum kolonial.

Para pemuda martir yang diberondong peluru oleh aparat Indonesia di pekuburan Santa Cruz pada 1991, sebagian besar adalah pemuda-pelajar yang mendapatkan akses ke sistem pendidikan kolonial.

Saat itu pemerintah Indonesia sedang menggalakkan pembangunan di segala bidang, dan pendidikan adalah salah satunya dalam memuluskan integrasi tentunya. Apakah para pemuda ini tunduk terhadap ideologi pembangunan rezim kolonial? Tidak!

Para pegawai negeri Timor Leste yang dipekerjakan oleh struktur administrasi kolonial tidak pernah menganggap bahwa kolonial itu baik hati. Buktinya, para pegawai ini kemudian mengubah tempat kerja mereka sebagai pusat klandestin dan menyumbang sebagian dari penghasilan mereka demi kontinuitas perjuangan itu sendiri.

Tidak ada yang mulia dari kaum kolonial, selain sarat kepentingan politik untuk mempertahankan hegemoninya atas negara jajahan.

Baca Juga: Korban Pelecehan Seksual oleh Uskup Belo Penerima Nobel Perdamaian, Angkat Bicara

Sebagian besar dedengkot gerakan anti kolonial mulai dari Asia, Afrika dan Latin Amerika dikenal dengan kosmpolitanisme atau menurut istilahnya Dane Kennedy Anticolonial Cosmopolitanism. Karena mereka adalah para jebolan sistem pendidikan kolonial, atau setidaknya mendapatkan akses ke luar negeri.

Mulai dari Gandhi yang Sarjana Hukum-nya di Inggris, Jawaharlal Nehru kuliah di Cambridge. Pemimpin gerakan pembebasan Kenya Jomo Kenyatta kuliah di London dan memperoleh gelar Doktor di bidang antropologi.

Ho Chi Minh, tinggal di luar negeri selama lebih dari 30 tahun, di Perancis (1911, 1919-23), di Amerika (1912-13, United Kingdom (193-1919), Uni-Soviet (1924, 1933-1938), dan China (1924-1927, 1931-1933, 1938-1941), tapi akhirnya dia kembali ke Vietnam dan membangun gerakan perlawanan.

Amilcar Cabral (Guinnea-Bissau) pernah kuliah di Portugal dan kemudian muncul sebagai seorang pemikir paling handal di benua Afrika. Begitupun dengan Agustinho Neto (Angola) dan Eduardo Mondlane (Mozambique).

Sampai Frantz Fanon, seorang psiakiater anti-kolonial ternama yang lahir di Martinique dan kemudian berjuang untuk pembebasan Algeria. Fanon merupakan pemikir hebat yang karya-karyanya digunakan sebagai referensi utama di berbagai universitas ternama sampai saat ini.

Baca Juga: Vatikan Mengaku telah Menjatuhkan Sanksi kepada Uskup Belo, Tokoh Timor Leste yang Diduga Melakukan Kekerasan Seksual

Para mahasiswa Timor Leste yang berangkat ke Portugal atas beasiswa kaum kolonial pada tahun 1960-an dan akhir 1970-an, adalah juga para dedengkot gerakan pembebasan.

Apakah akses terhadap pendidikan yang mereka peroleh pada zaman kolonial ini mengubah cara mereka berpikir terhadap rezim kolonial dan kemudian menjadi patuh dan memuji-muji kaum kolonial? Tidak!

Silahkan kau puji itu Najwa setinggi langit. Tapi saya sepakat dengan Nug Katjasungkana dari beberapa pertanyaan yang diajukannya kepada narasumber kelihatan bahwa "orang ini buta sejarah!" Yah, dia buta sejarah.

Selain itu, memang ada sesuatu yang benar-benar keliru dengan sistem pendidikan kita, terutama pendidikan sejarah. Hal-hal seperti ini yang harus diperbaiki. Ini adalah sebuah generasi yang benar-benar buta akan sejarah bangsanya sendiri.

Untuk Najwa Shihab, saya kutip kalimat dari mendiang Pramoedya Ananta Toer "Anda tidak bisa bertanya kepada seorang budak apakah dia ingin merdeka." Karena itu adalah pertanyaan paling konyol.

Seumur-umur saya belajar sejarah. Baru pertama kali saya mendengar ada generasi yang bersyukur karena dijajah negara asing.

Saya pastikan, kamu tidak akan lulus kalau mau test masuk jurusan sejarah, bahkan di Indonesia sekalipun. 'Anak-anak seperti ini' oleh Najwa dianggap sangat memahami sejarah bangsanya dengan baik. Sejarah pro-kolonialis maksud loe, Na.***

Liputan Najwa di Timor Leste yang ditanggapi Ivo: 20 Tahun Timor Leste: Cerita Setelah Merdeka

*Penulis: Ivo memulai PhD di Australia National University pada tahun 2017. Penelitian pos doctoralnya mengkaji tentang sejarah aktivisme Timor Leste dengan fokus pada sejarah pergerakan mahasiswa, judulnya Sekolah Revolusi: Peran Pendidikan dalam Perjuangan Kemerdekaan Timor Timur. Sejarahwan muda Timor Leste ini, memiliki minat penelitian seputar bidang sejarah dan memori, antropologi budaya, etnografi, sejarah gerakan mahasiswa, sejarah pembentukan kelas, studi dampak sosial dan gerakan sosial. Ivo menyelesaikan gelar sarjana pada 2011, jurusan Studi Pembangunan dengan tesis berjudul Dampak Brigade Medis Kuba pada Perawatan Kesehatan Akar Rumput di Timor Timur.

Related Posts:

Bolehkah Perusahaan Melarang Sesama Pekerjanya Menikah? Ini Penjelasannya

Ilustrasi Izin Menikah oleh hukumonline.com

Leko NTT - Anda mungkin pernah melihat kejadian di mana sebuah perusahaan melarang sesama pekerjanya menikah. Atau, jika mereka menikah, salah satu dari mereka, baik yang laki-laki atau yang perempuan, harus diberhentikan.

Aturan itu sering menjadi sesuatu yang diresahkan oleh kaum muda yang jam kerjanya padat. Mereka tidak punya waktu yang banyak untuk berkencan dengan orang di luar jam kantor, dan seringkali jatuh cinta justru pada teman sekantor. Jika mereka ingin menikah, salah satu dari mereka harus kehilangan pekerjaan atau di-PHK. Dengan kata lain salah satu dari mereka akan dipecat dari perusahaan.

Larangan untuk menikah dengan teman sejawat ini didasarkan pada Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 153 ayat (1) huruf f yang menyebutkan: Pengusaha dilarang melakukan pemutusan hubungan kerja dengan alasan pekerja/buruh mempunyai pertalian darah dan/atau ikatan perkawinan dengan pekerja/buruh lainnya di dalam satu perusahaan, kecuali telah diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama.”

Baca juga: Ini Hak-Hak Pekerja Perempuan, Kamu Harus Tahu

Dalam praktiknya, para pekerja seringkali menandatangani perjanjian untuk tidak menikah dengan teman sekantor.

Kabar baik yang jarang diketahui orang adalah, pada tahun 2017, delapan orang pekerja yaitu Jhoni Boetja, Edy Supriyanto Saputro, Airtas Asnawi, Syaiful, Amidi Susanto, Taufan, Muhammad Yunus, dan Yekti Kurniasih, mengajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi terkait hal tersebut.

Mahkamah Konstitusi kemudian mengabulkan permohonan mereka dan menyatakan bahwa frasa "kecuali telah diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahan, atau perjanjian kerja bersama" dihapus karena dinilai bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

Sehingga melalui Putusan MK 13/2017, Pasal 153 ayat (1) huruf f UU Ketenagakerjaan direvisi menjadi berbunyi:

Pengusaha dilarang melakukan pemutusan hubungan kerja dengan alasan pekerja/buruh mempunyai pertalian darah dan/atau ikatan perkawinan dengan pekerja/buruh lainnya di dalam satu perusahaan.

Dengan demikian, perusahaan tidak boleh lagi melarang sesama karyawannya untuk menikah melalui surat kontrak atau perjanjian apapun.

Melapor Ke Mana?

Meski begitu, praktik pelarangan pegawai yang menikah ini masih saja sering ditemukan. Maka, jika perusahaan masih melarang pernikahan dengan rekan kerja dan masih membuat perjanjian kerja dengan isi dilarang menikah dengan rekan kantor, kemanakah harus melapor?

Dilansir dari hukumonline.com, jawabannya adalah, tidak perlu ada upaya hukum, karena perjanjian kerja tersebut dapat diabaikan, dan tidak memiliki akibat hukum pada diri Anda dan calon pasangan Anda.

Namun jika di kemudian hari perusahaan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap Anda dan pasangan karena alasan pernikahan antar sesama pekerja, berdasarkan Pasal 153 ayat (2) jo. Pasal 153 ayat (1) huruf f Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, PHK itu harus batal demi hukum dan perusahaan wajib mempekerjakan kembali Anda atau pasangan Anda yang diberhentikan.

Baca juga: Nasib Wartawan, Siapa Peduli?

Jika anda mengalami hal tersebut, suarakan hak anda sebab telah dilindungi oleh hukum. Hubungilah lembaga hukum terdekat untuk berkonsultasi agar hak anda sebagai pekerja tidak dilanggar oleh perusahaan.

Sifat Putusan MK Deklaratoir dan Menganut Asas Erga Omnes

Menurut Jimly Asshiddiqie (Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia periode 2003-2008) putusan MK langsung berlaku dan tidak perlu ada eksekusi. Misalnya jika MK menyatakan suatu undang-undang (“UU”) bertentangan dengan UUD 1945, maka UU itu secara otomatis tidak mempunyai kekuatan mengikat. "Eksekusinya langsung. Suatu UU tidak mengikat lagi bila sudah dikatakan tidak mengikat oleh Mahkamah Konstitusi. Otomatis ketika diputus tidak mengikat lagi," ujar Jimly.

Hal serupa dikatakan Teras Narang, anggota komisi II DPR periode 1999-2004. Menurut Teras, putusan MK bersifat deklaratoir, yaitu menyatakan. Karena sifatnya yang hanya menyatakan, maka otomatis putusan MK langsung berlaku dan tidak perlu dieksekusi. "Putusan itu final dan binding. Sehingga untuk UU tidak perlu ada pencabutan lagi. Tidak ada eksekusi, karena itu deklaratoir," kata Teras. (SS/LekoNTT)

Related Posts:

Diumumkan 6 Oktober, Ini Calon Kuat Penerima Nobel Sastra 2022. Siapa Jagoan Kamu?



Leko NTT - Pada tahun 2021 lalu, sejumlah media sempat memberitakan bahwa Komunitas Puisi Esai diundang oleh The Swedish Academy, penyelenggara Nobel Sastra, untuk mengajukan Denny Ja, seorang pemilik lembaga survey yang menyebut dirinya pencetus puisi-esai, sebagai nominasi untuk Hadiah Nobel Sastra. 

Hadiah Nobel Sastra adalah salah satu kategori dalam penghargaan internasional yang diberikan oleh Akademi Swedia, bersama dengan empat kategori lain yaitu Fisika, Kimia, Fisiologis atau Kedokteran, dan Perdamaian. Hadiah ini diberikan untuk memperingati Alfred Nobel, penemu bahan peledak.

Namun kabar itu segera dibantah oleh The Swedish Academy. Seperti dilasir dari Kompas.com, The Swedish Academy menegaskan bahwa mereka tidak diperbolehkan mengumumkan nominasi nobel ke publik. Nominasi itu baru akan diumumkan sesudah 50 tahun.

Demikian pun mereka tidak pernah mengundang Komunitas Puisi Esai untuk memberikan nominasi. Sebab proses nominasi tidak memerlukan surat undangan dan bisa dilakukan baik oleh institusi dan komunitas sastra, guru besar sastra, penerima hadiah nobel sebelumnya, atau ketua organisasi penulis yang memenuhi syarat sebagai perwakilan produksi sastra di suatu negara.

Lalu siapa saja calon kuat penerima Hadiah Nobel Sastra 2022, yang akan diumumkan tanggal 6 Oktober 2022?

Penulis Javier Marias Franco asal Spanyol dan Dame Hilary Mary Mantel asal Inggris sempat masuk dalam bursa nominasi. Namun mereka meninggal dunia di tahun 2022. Sir Ahmed Salman Rushdie direkomendasikan oleh beberapa penulis penting sesudah kasus penikamannya, juga di tahun ini.

Dan di samping tiga nama itu, ada puluhan nama lain yang berpotensi menjadi perhatian Akademi Swedia tahun ini. Sayang sekali pencalonan nama Denny JA belum disebutkan oleh media internasional, kecuali media di dalam negeri.

Berikut adalah prediksi yang dikumpulkan dari beberapa majalah dan pengamat sastra dari beberapa negara. Siapa jagoan anda?

Nama

Negara

Genre

Zoë Wicomb (lahir 1948)

 Afrika Selatan

novel, cerita pendek, esai, kritik sastra

Ivan Vladislavić (lahir 1957)

 Afrika Selatan

novel, cerita pendek, esai

Ismail Kadare (lahir 1936)

 Albania

novel, puisi, esai, drama, naskah film, cerita pendek

Cormac McCarthy (lahir 1933)

 Amerika Serikat

novel, drama, naskah film, cerita pendek

Garielle Lutz (lahir 1955)

 Amerika Serikat

cerita pendek, puisi, esai

Thomas Pynchon (lahir 1937)

 Amerika Serikat

novel, cerita pendek, esai

Don DeLillo (lahir 1936)

 Amerika Serikat

novel, cerita pendek, drama, naskah film, esai

Stephen King (lahir 1947)

 Amerika Serikat

novel, cerita pendek, esai

Colson Whitehead (lahir 1969)

 Amerika Serikat

novel, history, cerita pendek, esai

Edmund White (lahir 1940)

 Amerika Serikat

novel, cerita pendek, memoirs, esai

Joyce Carol Oates (lahir 1938)

 Amerika Serikat

novel, drama, puisi, cerita pendek, esai, kritik sastra

Martha Nussbaum (lahir 1947)

 Amerika Serikat

Filsafat

Robert Coover (lahir 1932)

 Amerika Serikat

novel, cerita pendek, drama

Wendell Berry (lahir 1934)

 Amerika Serikat

novel, cerita pendek, esai

William T. Vollmann (lahir 1959)

 Amerika Serikat

novel, cerita pendek, esai

Marilynne Robinson (lahir 1943)

 Amerika Serikat

novel, esai

Jamaica Kincaid (lahir 1949)

 Antigua & Barbuda
 Amerika Serikat

novel, esai, cerita pendek

César Aira (lahir 1949)

 Argentina

novel, esai, cerita pendek, translation

Gerald Murnane (lahir 1939)

 Australia

novel, cerita pendek, esai, puisi, memoirs

Murray Bail (lahir 1941)

 Australia

novel, cerita pendek, esai

Georgi Gospodinov (lahir 1968)

 Bulgaria

novel, puisi, drama

Yan Lianke (lahir 1958)

 China

novel, cerita pendek

Xi Xi (lahir 1938)

 China

novel, puisi, cerita pendek, esai

Can Xue (lahir 1953)

 China

novel, cerita pendek, kritik sastra

Yu Hua (lahir 1960)

 China

novel, cerita pendek, esai

Edwidge Danticat (lahir 1969)

 Haiti
 Amerika Serikat

novel, cerita pendek, esai

Edwidge Danticat (lahir 1969)

 Haiti
 Amerika Serikat

novel, cerita pendek, esai

László Krasznahorkai (lahir 1954)

 Hungaria

novel, cerita pendek, translation

Péter Nádas (lahir 1942)

 Hungaria

novel, drama, esai

Amitav Ghosh (lahir 1956)

 India

novel, esai

Salman Rushdie (lahir 1947)

 Inggris Raya

novel, cerita pendek, esai, autobiografi

Ali Smith (lahir 1962)

 Inggris Raya

novel, cerita pendek, drama, esai

Robert Macfarlane (lahir 1976)

 Inggris Raya

Esai

Martin Amis (lahir 1949)

 Inggris Raya

novel, esai, memoir, naskah film

Inaam Kachachi[12] (lahir 1952)

 Irak

novel, esai

Mahmoud Dowlatabadi (lahir 1940)

 Iran

Novel

Shahrnush Parsipur (lahir 1946)

 Iran

novel, cerita pendek, translation

Sebastian Barry (lahir 1955)

 Irlandia

novel, puisi, drama

Edna O'Brien (lahir 1930)

 Irlandia

novel, memoir, drama, puisi, cerita pendek

David Grossman (lahir 1954)

 Israel

novel, esai

Claudio Magris (lahir 1939)

 Italia

esai, translation, novel, cerita pendek

Linton Kwesi Johnson (lahir 1952)

 Jamaica
 Inggris Raya

puisi, songwriting

Haruki Murakami (lahir 1949)

 Jepang

novel, cerita pendek, esai

Botho Strauss (lahir 1944)

 Jerman

drama, novel, esai

Anne Carson (lahir 1950)

 Kanada

puisi, esai

Margaret Atwood (lahir 1939)

 Kanada

novel, cerita pendek, puisi, esai, kritik sastra

Ngũgĩ wa Thiong'o (lahir 1938)

 Kenya

novel, drama, cerita pendek, esai

Claudia Lee Hae-in (lahir 1945)

 Korea Selatan

puisi, esai

Ko Un (lahir 1933)

 Korea Selatan

puisi, esai

Hwang Sok-yong (lahir 1943)

 Korea Selatan

novel, cerita pendek

Dubravka Ugrešić (lahir 1949)

 Kroasia

novel, esai

Homero Aridjis (lahir 1940)

 Meksiko

puisi, novel, drama, cerita pendek, esai

Mia Couto (lahir 1955)

 Mozambik

novel, cerita pendek, esai

Chimamanda Ngozi Adichie (lahir 1977)

 Nigeria

novel, cerita pendek, esai

Jon Fosse (lahir 1959)

 Norwegia

novel, cerita pendek, drama, puisi, esai

Dag Solstad (lahir 1941)

 Norwegia

novel, cerita pendek, drama

Karl Ove Knausgård (lahir1968)

 Norwegia

novel, autobiografi

Ryszard Krynicki (lahir 1943)

 Polandia

puisi, translation

António Lobo Antunes (lahir 1942)

 Portugal

novel, cerita pendek

Michel Houellebecq (lahir 1956)

 Prancis

novel, puisi, esai

Pierre Michon (lahir 1945)

 Prancis

novel, cerita pendek

Annie Ernaux (lahir 1940)

 Prancis

novel, memoir, autobiografi

Emmanuel Carrère (lahir 1957)

 Prancis

novel, esai, biografi, naskah film

Hélène Cixous (lahir 1937)

 Prancis

esai, kritik sastra, filsafat, drama, puisi

Maryse Condé (lahir 1937)

 Prancis

novel, drama, esai

Marie NDiaye (lahir 1967)

 Prancis

novel, cerita pendek, esai, drama, naskah film

Ivan Klíma (lahir 1931)

 Republik Ceko

novel, drama, memoirs

Milan Kundera (lahir 1929)

 Republik Cheko
 Prancis

novel, cerita pendek, puisi, esai, drama

Mircea Cărtărescu (lahir 1958)

 Romania

novel, puisi, cerita pendek, kritik sastra, esai

Lyudmila Ulitskaya (lahir 1943)

 Rusia

novel, cerita pendek, naskah film

Scholastique Mukasonga (lahir 1956)

 Rwanda
 Prancis

novel, cerita pendek, memoirs

Boubacar Boris Diop (lahir 1946)

 Senegal

novel, esai, drama, naskah films

Charles Simic (lahir 1938)

 Serbia
 Amerika Serikat

puisi, esai

Nuruddin Farah (lahir 1945)

 Somalia

novel, drama, cerita pendek, esai

Salim Barakat (lahir 1951)

 Syria

novel, puisi, cerita pendek, autobiografi

Adunis (lahir 1930)

 Syria

puisi, esai, translation

Salim Barakat (lahir 1951)

 Syria

novel, puisi, cerita pendek, autobiografi

Serhiy Zhadan (lahir 1974)

 Ukraina

puisi, novel, esai, terjemahan

Andrey Kurkov (lahir 1961)

 Ukraina

novel, esai, naskah film

 

Related Posts: