LekoNTT.com: Membaca Dahulu, Berkomentar Kemudian
Perawan yang Berlayar dengan Tinja dan Kesabaran | Puisi - LekoNTT

Perawan yang Berlayar dengan Tinja dan Kesabaran | Puisi

Perawan yang Berlayar dengan Tinja dan Kesabaran

Layar

Telah lama kita melarung dalam gelombang biru, dalam pikiran baru,dalam hati yang layu. Telah lama kita menyendiri, melawat diri, melampau diri sendiri menjadi sepi-sepi yang lebih pribadi.
Kau adalah nahkoda, akupun sama. Kemudian kita gelar dua layar, untuk kapal yang tak sama. Layar berkembang dalam tiupan angin, dalam penyeberangan yang lain. Layar disentuh udara, kita berkembang dalam pelayaran yang tidak sama. Kita adalah nahkoda lain dalam menyeberangi lautan yang lain

Tentu saja layar kita bukan cadik yang satu, layar kita kusam dan badan yang tak satu. Tapi kita sama-sama berlayar bukan? kita berlayar dengan kapal yang berbeda, dengan tujuan yang tak sama. Kita adalah pengasingan diri pada pribadi yang lebih pribadi

Aku dan kamu sepenuhnya lain, kita adalah sebuah pelayaran dengan tujuan yang lain. Kita adalah oase atas kemenarikan alam pikir, kita sepenuhnya berpikir. Layar kapal mengembang, kapalmu berlayar

Dirimu terbawa sampai laut, sampai maut

Kapalku menepi, diriku sepi sampai mati. Kita adalah masing-masing yang berlayar sampai akhir, sampai berakhir. Dan pantai adalah titik semu, jembatan temu.

Ilustrasi: Merlin Mare.

Pagi Adalah Perawan

Pagi adalah perawan yang masih mencari keberadaan kekasihnya di saku lipatan baju yang tertumpuk di dalam almari kayu. Rindu adalah embun pagi yang basah, yang tak pernah luput menyambut rumput di pelataran rumah. Datang, pamit, pergi dan pulang adalah kesamaan wabah, ia adalah kremasi kematian atas bait puisi yang terangkai majas biasa, yang tungkul, yang memukul. Maka pagi adalah perawan yang menyambut kremasi kematiannya sendiri, yang selalu ia rindukan dalam kesendirian. Rindu  olehnya disebut jarak yang menyeka garis waktu dengan air mata, rindu yang karenanya mampu mengurai sajak lamunan menjadi kutuk yang membuat wajahnya tertunduk. Karena pagi adalah perawan yang  basah, yang hadir dari buih aksara bisu, belenggu dan perasaan rindu.

Tinja

Pikiranku adalah risak tinja yang mengendap. Ia adalah  bau busuk yang menusuk. Dia adalah risau dengan belenggu tanpa upaya mencari tahu. Pikiran adalah tinja, keberadaannya adalah curiga dengan segala duga. Tinja adalah kehadiran, tinja adalah keniscayaan. Dan tinja adalah isi pikiranku atas  kekhawatiran yang membelenggu nalar, atas kecurigaan yang mengotori pikiran.

Sabar

Kesabaran  adalah omong kosong atas candu diri yang terlalu diamini. Dia adalah alasan untuk tinggal dari kemungkinan yang mengganjal, yang akan pergi dan meninggalkan. Sabar, kesabaran atau bersabar adalah racun yang dibuat sebagai penghibur, dirangkai dalam bingkai diri.  Sabar adalah sajak yang dibangun dengan syukur yang kerap hadir tanpa ukur. Sabar sekali lagi adalah candu pilu dari orang-orang yang tak menghendaki untuk mampu.


November

November adalah kekasih yang mampir membawa sepi, yang menyiram rindu dengan basah, yang membawa ngilu tulang saat  diguyur air hujan. November adalah semi  padi  yang ditanam  petani pada gembur tanah dengan benih cinta kekasih . November adalah puisi, sajaknya  adalah mantra lewat kata. Ia ucap yang menancap, basahnya adalah rindu yang mengikat. November adalah kerinduan,  ia adalah ikrar sepi atas rindu malam yang disapu tetesan air  hujan.
Maka rindu adalah basah yang tak mengenal kerontang tanah. Ia biru laut dengan pemandangan berpasir Senggigi yang menawan. Kapan tepatnya aku lupa, tapi rinduku padamu adalah mata lari-lari pada pada pesisir yang menampung perahu di kanan-kiri.  November adalah genangan, guyuran hujan adalah kenangan. Basah mampir pada pelipis muka, hujan lewat pandangan dengan lembut menyapu debu kaca, dia rancau ucap yang lewat pada uap teh. Maka November adalah guyuran hujan yang menggugah ingatan.


Dian Meiningtias adalah perempuan biasa yang memutuskan menjadi pengangguran gadungan. Ia sibuk jalan-jalan, meminum kopi dan mengurai sajak.



Related Posts:

2 Responses to "Perawan yang Berlayar dengan Tinja dan Kesabaran | Puisi "