LekoNTT.com: Membaca Dahulu, Berkomentar Kemudian| Vaksinasi COVID-19 Aman, Hidup Nyaman
Archive for Agustus 2021

Komentar Para Laboran Atas Surat Salah Prosedur Terkait Penutupan Lab Biokesmas NTT


Kadang untuk menemukan kebijaksanaan kita perlu belajar dari mereka yang muda. Kerja anak-anak muda ini tak bisa dipandang sebelah mata. Tak jarang mereka bekerja dari pagi hingga pagi lagi. Mulai dari jam 10 pagi dan selesai jam 3 pagi keesokan harinya.

Semangat untuk memberi yang terbaik di masa pandemi mereka tunjukkan dalam kerja rutin lebih dari satu tahun terakhir, terhitung sejak persiapan di pertengahan Bulan Juni 2020. Tidak kurang 80% laboran yang bekerja di laboratorium ini adalah lulusan dari Universitas Nusa Cendana, dan mereka sudah memeriksa 15 ribu sample dengan kombinasi metode pool test yang melayani buruh migran, warga difabel, pekerja kemanusiaan, anak sekolah, pasien darurat medis, para dokter dan perawat, dan para pegawai di berbagai instansi.

Berikut ini adalah komentar para laboran Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT (Lab Biokesmas Provinsi NTT):

Jack Alfren Frans, Fakultas Sains dan Tehnik Kimia Undana (2012)

Waktu beta baca, beta kesal dan emosi. Undana itu institusi yang penuh dengan orang-orang pintar, tapi kepintarannya itu tidak sejalan dengan tindakan yang dilakukan. Orangnya sampai S2 dan S3, harusnya kepintarannya itu dipakai sama-sama untuk bangun Undana, dan bantu masyarakat.

Hilda P. Mantut, Fakultas Sains dan Tehnik Biologi Undana (2020)

Kebanyakan yang dipaparkan Rektor Undana ke media tidak sesuai fakta, tidak ada kerja sama. Sejak awal kita minta Undana untuk kirim SDM untuk pelatihan di laboratorium tapi hanya datang satu orang dan kemudian hilang. Terkait permintaan Rektor Undana agar dokter patologi klinis untuk menandatangani surat hasil PCR Pool Test, apa mungkin itu dilakukan oleh seorang dokter patologi klinis yang tidak mengakui pool test.

Saya rasa ini sangat konyol sekaligus kasihan. Tidak mungkin kita sudah periksa 15 ribuan sample, dan sekarang baru minta izin. Kenapa baru tanya sekarang? Seharusnya Rektor itu tahu bahwa ini situasi pandemi. Dalam situasi pandemi tidak ada yang memperebutkan aset. Kenapa tidak duduk baik-baik dan kerjasama? Tindakannya tidak wajar. Sebagian besar kami dari sarjana sains, ijazah itu hanya kertas, tapi soal skill kita bisa uji.

Kami yakin tidak banyak orang yang mau kerja dari pagi hingga pagi di luar sana. Kami tidak pikir diri sendiri, kami pikir masyarakat. Kami perlakukan setiap sample seperti keluarga kami sendiri yang mungkin sakit. Kami datang dengan latar belakang yang berbeda, dengan hati yang sama, untuk melayani masyarakat NTT. Raga kami ada untuk masyarakat NTT.

Angela R. Maria Poe, Fakultas Sains dan Tehnik Biologi Undana (2019)

Saya merasa terganggu sebab kita sudah melayani banyak masyarakat NTT, tetapi kenapa baru sekarang menjelang pemilihan rektor baru muncul isu ini, ada apa? Puncaknya hari ini ada surat penutupan laboratorium. Ada beberapa hal yang dipermasalahkan. Laboratorium ini diresmikan oleh Menteri Kesehatan, kenapa soal izin malah ditutup pemerintah kota Kupang. Ini ambisius. Katanya tidak ada yang punya STR? Analis. Padahal nyatanya kita punya.

Samrit Edison Kause, Fakultas Sains dan Tehnik Kimia Undana (2017)

Sejak awal laboratorium ini kolaborasi tiga pihak: Forum Academia NTT, Pemerintah Provinsi dan Undana. Sejak awal saya tidak melihat ada dukungan yang baik dari Undana. Sejak November 2020 saya tidak melihat kerja sama yang baik dari Undana. Saya kaget ini sedikit lucu. Kalau Pak Rektor mau tutup, harusnya Gubernur yang tutup, bukan rektor. Dukungan Undana juga kecil sekali cuma 0,1 %, itu menunjukkan tidak ada dukungan yang baik dari Undana.

Theodor Caesar, Fakultas Sains dan Tehnik Kimia Undana (2010)

Menurut beta mempertontonkan bahwa seorang akademisi tidak bersikap akademisi, seharusnya jika saya sebagai Rektor saya akan melibatkan mahasiswa untuk terlibat dalam laboratorium. Terkait surat Dinas Kesehatan Kota Kupang, Dinas Kesehatan Kota Kupang sedang mempermalukan diri mereka sendiri, sebab pada surat tanggal 23 Oktober 2020 itu ada surat dari Litbangkes Kementrian Kesehatan kepada Dinas Kesehatan Kota.

Jadi kalau tidak tahu itu aneh. Bahkan 19 Oktober 2020 itu ada surat dari Gubernur NTT. Selain itu ada Permenkes bahwa ahli biomolekuler bisa mengepalai laboratorium. Ini hanya arogansi professor. Jika ingin menguasai setidaknya ada akademisi yang menguasai pemikiran ini. Selain itu terkait poin pengolahan limbah, jika tidak dikelola limbahnya, lalu mengapa Undana membayar biaya pengolahan limbah. Undana sedang mencari-cari cara tanpa berusaha. Ini sangat memalukan.

Sisilia Blegur, Fakultas Sains dan Tehnik Biologi  Undana (2021)

Saya baru masuk, saya tidak tahu kronologi. Mereka datang tanpa permisi, mereka cek-cek sampai ke sini. Undana itu universitas besar, seharusnya tidak perlu merasa terganggu dengan Lab Biokesmas NTT sebagai laboratorium baru. Dan orang ini orang besar, dengan pendidikan yang bagus. Mereka kekanakan, mereka tidak ikut kerja, tapi mau punya. Itu lucu. Semua hal di sini tidak ada atas nama Undana, kecuali gedung dan kursi. Lab Biokesmas itu ada karena inovasi Bu Fima. Lalu kenapa mau tutup? Kalau tidak tahu apa yang dikerjakan, kenapa mau tutup?

Heri Arianto Ipi, Fakultas Sains dan Tehnik Kimia Undana (2018)

Soal penanganan limbah itu kita dibilang tidak sanggup, padahal kita sudah bersurat ke Dinas Lingkungan Hidup dan Undana yang bayar. Kalau memang kita tidak bisa Kelola dan urus limbah seberat 450 Kg, mengapa Undana yang bayar? Itu menjilat ludah sendiri.

Yohani A. Selan, Fakultas Bioteknologi Universitaa Kristen Duta Wacana (2019)

Beta sendiri sangat kecewa dan marah. Bagaimana nasib masyarakat yang butuh PCR gratis? Nasib mereka akan bagaimana? Begitu banyak orang susah yang datang dan memohon diperiksa. Seluruh dokumen pendirian laboratorium itu ada dasarnya. Poin-poin itu sudah jelas sejak awal. Surat rektor dan dinas kesehatan kota yang datang itu amat tidak tepat. Harusnya akademisi itu bisa berpikir dan ambil kebijakan yang tepat.

Lintang A. Dima, FKIP Biologi Universitas Kristen Artha Wacana (2020)

Saya jengkel sekali tapi sekaligus rasa lucu. Beta seperti nonton sinetron Azab-nya Indosiar. Yang menunggu kapan azab tiba. Selama bekerja di sini, orang tua beta juga mendoakan pelayanan ini. Beta tahu ini laboratorium adalah wadah yang disediakan Tuhan untuk melayani. Tapi beta juga tahu untuk bekerja di jalan Tuhan tidak ada yang mulus. Beta percaya ini lah jalan Tuhan untuk melakukan pelayanan. Di sini kita benar-benar dilatih. Kami lihat kakak-kakak meski sudah ditunjuk-tunjuk tapi masih bisa bersabar. Saya cuma menunggu apa pesan Tuhan untuk mereka.

Ermi Sustika Remijawa, FKIP Biologi Univ.Kristen Artha Wacana (2019)

Kalau dari beta, ini sangat lucu. Poin yang mereka sampaikan tidak masuk akal, karena semua yang sudah disampaikan sudah ada dasarnya. Soal nama, apa lah arti sebuah nama, ketika laboratorium itu tidak bermanfaat untuk orang lain? Sebab kalau mau jujur laboratorium ini tidak menguntungkan kami sama sekali secara pribadi. Semua ini demi semua masyarakat untuk mendapatkan hak yang sama. Agak miris setelah periksa 15 ribu sample dengan validasi dari Kemenkes, baru ada yang mau klaim. Saya ingat, waktu saya mau pinjam remote AC di Undana, mereka malah minta suruh pinjam remote AC ke Dinas Kesehatan Provinsi NTT. Wajarkah kini Undana kini mau ambil alih laboratorium?

Remi Oeleu, Akper Maranatha (2012)

Kalau mau tutup kemana masyarakat mau pergi? Lab Biokesmas sangat didukung masyarakat, kalau mau ditutup kemana mereka ini? Ini hanya soal keegoisan demi kepentingan pribadi. Demi pergantian rektor semata. Selama di sini saya lihat masyarakat puas. Terkait tanda tangan dokter, kita di sini Cuma memeriksa sample. Aset negara itu mau diambil alih, memangnya itu untuk kepentingan siapa? Menurut pengakuan Gubernur di sini anaknya bagus-bagus. Bahkan kita di sini juga mampu Kelola database pendonor plasma darah. Mereka yang positif kita minta untuk mendonorkan darah jika sudah sembuh. Kita ini layani bukan Cuma di Timor saja, bahkan kita layani permintaan plasma darah dari Sumba.

Fima Inabuy, Fakultas Biologi ITB (2006)

Beta ingat kata-kata Bapak soal ‘to have’ dan ‘to be’. Semua orang bisa mendapatkan aset negara ini, ini bukan soal kepemilikan tapi itu untuk apa? Ini poin penting soal aset. Seharusnya aset negara itu dipakai seluas-luasnya dan sehemat-hematnya demi kepentingan orang banyak.

Related Posts:

Binasa Bersama di Tangan Intelektual dan Petinggi yang Tak Berpikir

Ilustrasi: Progralicious

Oleh: Lodi Kini*


Bukan pertama kali ruang dialog akademik tertutup oleh arogansi brutal dan vulgar para petinggi yang berpihak bukan kepada rakyat. “Saya hanya berurusan dengan Pemerintah Provinsi. Saya tidak bersedia bekerja sama dengan FAN. Saya minta FAN keluar dari aset Undana, sekarang!” kata Rektor Undana Fred Benu dalam pertemuan di laundry room Rumah Sakit Undana pada Selasa (24/08/2021).

Kritik dan keluh kesah FAN sebagai bagian dari masyarakat atas kebuntuan mencari jalan keluar dari krisis pandemi yang meremukkan ekonomi ditanggapi sebagai serangan personal. Keengganan upaya mencari jalan keluar bersama justru terlihat dari pimpinan lembaga pendidikan yang sewajarnya mengabdi kepada pencarian akan kebenaran agar setidaknya manusia-manusia yang berpikir itu bisa berguna bagi raga lain. Sepertinya tujuan mulia pendidikan itu tak tersisa sedikitpun dari ruang kebijaksanaan orang penting yang bersih keras menghentikan aktivitas Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT itu.

Di tengah krisis, gantinya sibuk berpikir dan bekerja untuk keselamatan orang banyak, kepala lembaga justru sibuk menyelamatkan egonya. Begitu kuat argumentasi diarahkan kepada tim lab yang jelas-jelas kerja gila tanpa ada sedikitpun bukti bahwa mereka sedang memperkaya diri. Tidak ada keinginan baik untuk melihat kesulitan di depan mata.

Apakah karena ia digaji negara dan bisa dengan mudah mengakses layanan kesehatan? Mereka lupa bahwa ada masyarakat yang jika harus mengeluarkan uang 100-200 ribu rupiah bahkan jutaan untuk memeriksakan kesehatan mereka dan keluarga, lebih memilih menerima risiko penyakit dengan lapang dada sambil berharap Tuhan dan umat-umatnya yang mengaku beriman akan memberikan jalan keluar dari himpitan ini.

Lab Biokesmas NTT mengambil posisi berdiri untuk kita semua yang lemah, dalam mengusahakan akses layanan kesehatan bagi semua orang. Tapi di manakah posisi Unviersitas Nusa Cendana sebagai institusi pendidikan? Sudah lebih dari satu tahun inisiatif baik ditunggu oleh rekan-rekan di Lab Biokesmas. Tetapi sedari awal hingga saat ini, inisiatif baik yang harapannya bermuara pada kerja sama memberi diri untuk bersama-sama keluar dari krisis, tidak pernah lebih dari sekedar upaya untuk menunjukkan kuasa. Tidak ada ruang diskusi, hanya ada kemarahan yang premanis.

Ruang diskusi diperlakukan seakan ruang arena perkelahian antar kampung. Lebih parahnya dijadikan personal antara Elcid Li vs Fred Benu. Dalam konferensi pers, seorang wartawan bertanya, “Apakah benar ada pemukulan dilakukan?”. Tentu saja jawabnya tidak ada. Mereka yang bekerja siang dan malam untuk mengurus sample-sample saudara-saudari di NTT yang terindikasi sakit COVID, tidak berkelahi pada level itu.

Ini bukan tentang Fima Inabuy atau Hilda Mantut yang tidak sanggup menahan air mata ketika menceritakan realitas di Lab termasuk bagaimana sedari awal pihak Undana tidak menunjukkan kemauan baik untuk bekerja sama. Bahkan Dokter yang hendak ditugaskan ‘mengurus’ lab pung tidak mempercayai keabsahan metode pooled-test. Anche juga menambahkan, laboran yang juga lulusan Undana ini memberika penekanan bahwa yang mereka lakukan sama sekali tidak ada urusannya dengan memperkaya diri. Ia bekerja dari jam 10 pagi hingga jam 3 pagi, “memberi raga untuk raga lain,” katanya.

Metode pooled-test bukan metode yang lahir dari hasil membual. Metode ini sudah diakui. FAN dalam upaya pergerakkannya sedari awal telah melalui proses yang panjang dalam mewujudkan ide ini dan memastikan metode ini absah serta dapat dioperasikan tanpa melanggar acuan yang berlaku. Namun, alasan yang digunakan untuk penutupan Lab adalah karena tidak ada Dokter Ahli Patologi Klinis. Namun dijelaskan bahwa posisi ini dapat digantikan dengan dengan Dokter Umum yang terlatih atau Ahli Mikrobiologi Klinik.

Selanjutnya juga mengenai analis kesehatan, FAN telah memastikan laboran sesuai dengan peraturan yang beraku yaitu dengan latar belakang pendidikan analis/biologi/kedokteran hewan/biomedis dan ilmu lain yang berkaitan. Padahal, para lulusan Undana lah yang dilatih oleh Fima Inabuy hingga sekarang menjadi laboran yang handal. Hanya di lab Biokesmas saja PCR ratusan sample dapat diuji dalam waktu tunggu satu hari, secara gratis.

Pada akhirnya kita akan binasa bersama-sama karena arogansi. Mereka yang mengambil keputusan penting hanya melihat dari posisi mereka yang mujur. Tidak melihat sekeliling, bahwa ekonomi remuk hancur lebur bagi mereka yang tidak makan uang negara. Sampai kapan kita membiarkan krisis ini berlarut-larut. Tanpa kerja yang sungguh, kita akan semakin lama berada pada krisis ini. Tidak terasa dua tahun hampir terlewati. Upaya keluar dari krisis yang bermuara pada pembangunan Lab Biokesmas bukan tentang unjuk diri. Ini tentang celah tipis antara hidup mati orang banyak, yang seharusnya diisi dengan upaya intelektual, bukan sekedar permainan kekuasaan.

* Lodi Kini adalah warga Kupang yang bekerja sebagai peneliti di Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC).

Related Posts:

Sembilan dari 37 Pekerja Migran yang Dipulangkan Positif COVID-19

Dokumentasi tim laboran Lab Biokesmas NTT

Kupang, LekoNTT.com -  Sebanyak sembilan dari 37 Pekerja Migran Indonesia yang dipulangkan dan difasilitasi oleh BP3MI dinyatakan positif oleh Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT. Kesembilan PMI yang ditemukakan positif masing-masing berasal dari Kabupaten TTS (4 orang), Alor (2 orang), Malaka ( 1 orang), Lembata (1 orang) dan Kupang (1 orang). Kesembilan PMI saat ini ada dalam penanganan BP3MI dan akan diarahkan menjalani karantina terpusat di Kota Kupang. Pernyataan ini dikeluarkan Laboratorium Biomokuler Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT pada 23 Agustus 2021 malam, setelah hasil pemeriksaan muncul.

“Meskipun sudah dikarantina di pintu embarkasi antar negara, besar kemungkinan mereka tertular dalam perjalanan ke Kupang dengan menggunakan kapal laut,” ujar Fima Inabuy, Kepala Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT ini.

“Testing untuk memastikan agar pekerja migran tidak membawa virus COVID-19 kepada keluarga mereka perlu dilakukan, kita tidak ingin mereka menulari, dan ini sudah terbukti penting, sebab di Bulan Juni lalu, salah satu sample positif yang dikirimkan ke Eijkman dari Lab Biokemas NTT terbukti merupakan varian delta yang sangat cepat menyebar,” kata Fima Inabuy menekankan pentingnya melakukan pengawasan. Ia juga menyebutkan seharusnya ada 37 pekerja migran yang diperiksa, tapia da 5 orang yang langsung dibawa pulang secara paksa oleh keluarga.

Hingga saat ini Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT merupakan satu-satunya laboratorium yang melakukan pengawasan terpadu yang memantau pemulangan para pekerja migran. Kerjasama ini dilakukan dengan BP3MI, Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Dinas Koperasi Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). Program pengawasan pemulangan pekerja migran merupakan program insiatif Lab Biokemas Provinsi NTT.  

Selain pemulangan yang diketahui olen BP3MI, para pekerja migran yang pulang lewat jalur yang tidak difasilitasi pemerintah atau jalur mandiri juga dihimbau untuk melakukan test sebelum pulang ke rumah. Menurut Fima Inabuy dengan angka positivity rate yang sedang menurun ini, sebaiknya NTT tetap menjaga pintu-pintu perbatasan, agar angka infeksi tidak meledak dan tidak tertangani. Antisipasi pintu masuk juga penting untuk memetakan mereka yang baru tiba agar tidak membawa varian baru virus.

Selain itu menurut pemantauan Elcid Li, salah seorang moderator Forum Academia NTT yang juga menjadi Wakil Ketua Tim Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT, kendala pengambilan swab dari pekerja migran belum dilakukan oleh pemerintah daerah selain dilakukan oleh Lab Biokemas Provinsi NTT di Kota Kupang.

“Minimnya ketersediaan laboratorium PCR di daerah seharusnya dijembatani oleh Dinas Kesehatan di daerah untuk mengirimkan sample ke Laboratorium Biokemas NTT di Kota Kupang, tapi itu pun tidak mereka lakukan,” kata Elcid memaparkan kondisi di daerah. Menurutnya kehadiran laboratorium biomolekuler kesehatan masyarakat di daerah NTT seharusnya menjadi fokus dari berbagai kabupaten.

“Kalau anggaran yang dikeluhkan, seharusnya tiga atau empat kabupaten bisa berkolaborasi mendirikan satu laboratorium, tetapi anehnya antisipasi ini pun tidak dilakukan oleh para kepala daerah, jangankan di kabupaten, di Kota Kupang saja walikota tidak memprioritaskan pendirian laboratorium dan hingga hari ini pemerintah Kota Kupang tidak punya laboratorium biomolekuler, sulitnya lagi jajarannya malah ingin menutup laboratorium yang diresmikan oleh Menteri Kesehatan,” kata Elcid menambahkan. Menurutnya jika pemerintah Kota Kupang tidak mampu membuat laboratorium, jangan lah menutup upaya masyarakat yang mendapatkan pengakuan nasional.

Menurutnya kemampuan birokrat untuk mengantisipasi krisis memang jauh dari kata cukup. “Para birokrat sekarang beda dengan era El Tari, dulu para birokrat bisa merasakan penderitaan rakyat, saat ini mereka lebih banyak sibuk berdagang, akibatnya salah hitung melulu dan tidak tahu aturan, mana ada Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang wewenangnya di atas Menteri Kesehatan,” tutur Elcid.

Laboratorium yang menekankan konteks kesehatan masyarakat, mengutamakan pencegahan hanya ada di Kota Kupang dan merupakan inisiasi dari Forum Academia NTT, salah simpul masyarakat sipil NTT yang aktif bergerak menangani pandemi. Saat ini kebanyakan laboratorium fungsinya hanya menunggu orang sakit atau bergejala dan membuat ongkos penanganan pandemi membengkak dan tidak ada kepastian kapan akan berakhir.

Hingga saat ini sebanyak 15 ribuan sample warga telah diperiksa secara gratis di Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT. “Kemampuan untuk memeriksa gratis karena dengan metode pool test, ada inovasi yang dilakukan di dalamnya, dan terbukti beban biaya bisa dihemat tujuh kali lipat,” kata Fima Inabuy.

Banyak daerah yang kini mengeluhkan ketiadaan anggaran untuk menangani pandemi COVID-19 jangka panjang tetapi enggan melakukan inovasi, dan mendukung riset pengambangan yang dilakukan oleh para ilmuwan.  “Agak aneh logika prioritas anggaran pemerintah daerah, kadang mereka lupa kita sedang berhadapan dengan pandemi, dan butuh kemampuan menangani emergency yang berkepanjangan ini secara memadai, yang muncul kebanyakan agenda reaktif yang kurang terpadu, dalam satu rapat lintas lembaga misalnya, ada kepala dinas yang bertanya ‘kenapa kita harus khawatir’, ” kata Elcid Li.

Menurutnya tidak semua birokrat paham tanggungjawab mereka untuk melindungi warga, tanpa terkecuali. Melindungi artinya bukan berarti kita bisa mencegah kematian 100 persen, tetapi kita mengurangi tingkat kematian atau tragedi yakni kondisi kematian tanpa pengharapan untuk warga. (red)

Related Posts:

Media Sosial dan Kabar Duka Pandemi

Oleh: Dominggus Elcid Li



Kematian yang datang bertubi-tubi bukan lagi kematian biasa, tetapi telah berubah menjadi tragedi. Berhadapan dengan tragedi yang sudah dilihat sejak awal tidak mudah. Kematian bisa saja diletakkan sebagai sekedar informasi dari jauh, yang tidak mempunyai efek kedekatan. Namun, era jaringan sosial membuat kita saling terhubung satu dengan yang lain. 

Karena begitu banyak berita kematian, facebook (FB) cuma saya buka seminggu sekali. Sebagai generasi FB, media sosial yang satu ini membuat saya merasa punya teman banyak, dan terhubung harian. Namun belakangan ini teman-teman berguguran, tanpa ada penjelasan yang memadai. Setiap keluarga di Indonesia mengalami kondisi kehilangan ini. Tanpa bisa dikontrol badan bereaksi lain terhadap kabar duka yang bertubi-tubi. Seolah marah, karena sekian saran kepada pemerintah (pusat) maupun elit legislatif (pusat) terutama, tidak didengar. Butuh waktu mengurai kabar duka agar badan pun bisa menerima dengan damai. 

Para birokrat di daerah kebanyakan tidak ada inovasi. Pikiran buntu. Untung masih ada Gubernur NTT yang mendukung laboratorium untuk testing massal sejak awal. Untung masih ada pemimpin daerah yang ada nalarnya. Jika tidak di kampung pun, kita akan sangat merasa terancam. Meskipun harus diakui NTT butuh empat buah laboratorium kesehatan masyarakat sejenis yang mampu melakukan testing secara massal. Desain dalam konteks NTT sudah dipaparkan detil alasannya sejak Juni 2020. Namun para bupati/walikota bergerak terlalu lambat. Bahkan tidak bisa melihat bahwa dengan kondisi semacam ini, sampai dengan tahun 2024 kita akan ada dalam situasi yang tidak menentu, dan selalu dihantui virus COVID-19. Cukup aneh, setelah satu tahun banyak pimpinan daerah tidak bisa membedakan antara testing dan contact tracing. Pun tidak mampu membedakan kualitas antigen dan PCR. 

Laboratorium test massal yang digagas Forum Academia NTT dinamai Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT. Dinamakan ‘Kesehatan Masyarakat’ karena target pengawasannya adalah masyarakat, untuk test massal, sebagai bagian dari komponen pengawasan (surveilance) sebagai langkah pencegahan. Dengan cara ini mereka yang rentan, punya penyakit bawaan dan lain-lain bisa kita lindungi. Jika diketahui lebih awal, perawatan bisa dilakukan lebih dini, dan angka kematian bisa dicegah, dan angka yang terpapar bisa diperkecil. Keluarga pun bisa membawa berapa pun sanak saudara mereka untuk dites, untuk memastikan tidak terpapar, tanpa harus ketakutan harus bayar berapa untuk mendapatkan hasil tes PCR. 

Saat ini ada dua jenis laboratorium, laboratorium klinis dan laboratorium komersil. Laboratorium klinis dikelola pemerintah dan menyelenggarakan tes untuk mereka yang bergejala. Mereka yang sakit. Untuk pencegahan kita perlu menyasar mereka yang tidak bergejala. Yang bagian ini masih kosong. Laboratorium komersil tidak ada nalarnya, mereka membantu menyediakan alat tes untuk orang yang mampu membayar, tetapi tidak dalam skema ‘war against non human actor’. Itu cuma pedagang biasa, menyediakan jasa, jika dibayar. Ya, membantu warga, tetapi tidak ada strategi. 

Ruang dagang ini harus diperkecil—jika dirasa terlalu berat. Tetapi jika mampu berpikir hingga detil, ruang ini bisa dibikin gratis. Penguasaan atas detil value chain, alat testing ini harus dipunyai. Di level menteri kesehatan pun, hal ini harus diperjelas. Harus dibuka road map hingga tahun 2024. Buka strateginya sehingga bisa dikritisi, tanpa embel-embel buzzer atau apa lah. Kita ini mau selamat sama-sama, tidak peduli siapa yang memutuskan. Ini bukan saatnya berpose bagus, pada saat keputusan terbaik belum muncul.

Malapetaka yang dihadapi sekarang, seharusnya bisa dicegah tingkat kematiannya. Sayangnya waktu yang diperlukan untuk bergerak disia-siakan. Waktu adalah kunci ketika berhadapan dengan pandemi. Keputusan yang tepat dan strategis adalah kunci. Dengan strategi yang salah perang melawan non human actor jauh dari kemungkinan bertahan ataupun menang. 

Susah sekali memberitahu yang berwenang bahwa testing itu harus gratis. Jika tidak gratis, orang-orang yang pembawa virus, namun tidak bergejala tidak merasa perlu untuk dites. Siapa yang mau tes, jika 900 ribu hingga 1,5 juta, bahkan 2,5 juta harga tes PCR? Penghasilan warga yang menurun drastis seharusnya membuat pemerintah berpikir, bagaimana mengendalikan para super spreader yang tidak bergejala. 

Saat ini contact tracing hanya menyasar mereka yang bergejala. Mereka yang tidak bergejala tidak menjadi fokus dari tes. Jika pun ada tes dibikin formalitas semata, tidak ada desain yang komprehensif untuk tes massal dalam skala kota. Semakin lambat bereaksi, semakin banyak yang harus dites. Duit yang dibutuhkan pun membengkak. Kritik dan sekali lagi kritik tidak lah tabu sejauh untuk kepentingan bersama. Sebab Anda yang memimpin bertanggungjawab untuk melindungi yang di depan mata, hingga yang ada di pelosok.

Bahwa COVID-19 belum ada obatnya, memang benar, vaksin pun terbatas karena mutasi terus berlangsung. Namun, tugas seorang pemimpin adalah menghindari tragedi. Menghindari kematian beruntun tanpa ada kemampuan mencegah. 

Laboratorium Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT adalah model laboratorium yang bisa dikerjakan di seantero Indonesia, jika mau. Laboratorium ini didukung oleh pemerintah daerah provinsi, pemerintah pusat lewat Kementrian Kesehatan, yayasan kemanusiaan, universitas, jaringan academia, dan masyarakat. Dengan model ini dari HET test PCR yang ada, bisa ada penghematan tujuh kali. Jika kita didukung dengan berbagai aspek bisa lebih rendah lagi, sehingga testing gratis seharusnya tidak membebani pemerintah, jika kita mau berusaha. Hingga hari ini (15/8/2021) setidaknya 15 ribu orang sudah dites secara gratis. 

Ketika menerima layanan gratis, para warga pun berusaha agar layanan tetap bisa jalan. Jika ada bahan, alat, logistik yang kurang warga pun saling bantu meringankan. Bahkan dengan skema yang ada, list golongan darah diadakan, dan mereka yang sembuh diwajibkan untuk donor darah kepada yang membutuhkan di kemudian hari. Kesatuan batin segala elemen untuk bertahan hidup di masa pandemic sangat diperlukan. 

Tes PCR gratis harus bisa diterima oleh seantero warga. Jika inovasi dilakukan di berbagai lini, harga tes PCR bisa ditekan sekecil mungkin. Jika research and development dikerjakan dengan sungguh-sungguh inovasi bisa muncul. Untuk pengalokasian anggaran terhadap kerja para ilmuwan, butuh keputusan politik. Ini yang tidak dimiliki seluruh elit pemimpin Indonesia saat ini. Tidak mungkin akan ada Pemilu serentak 2024, jika situasi pandemi tidak bisa dikontrol. Risiko akan menjadi terlalu tinggi untuk keselamatan warga. Australia yang ketat saja, menargetkan tahun 2023 baru bisa dibuka, bagaimana dengan kita yang gerak strategisnya melambat? 

Buruknya lagi di era pandemi, pemimpin cenderung anti kritik. Situasi emergency dengan mudah menjadi tidak terkendali dan berlarut-larut jika pemerintah enggan duduk bersama dan membahas jalan keluar secara saksama. Tegas itu penting, tetap memastikan bahwa itu adalah keputusan terbaik ruang diskusi intensif berkualitas terbaik harus mampu diadakan oleh para pembuat keputusan di level negara. Seperti kata-kata bijak orang tua kita Teuku Jacob di tahun 2004: “Pemimpin harus dapat memilih pembantu-pembantu dan kawan-kawannya yang tepat dalam melaksanakan mimpi-mimpi yang seolah-olah mustahil menjadi kenyataan.” 

*Penulis adalah anggota Forum Academia NTT (FAN)

Related Posts:

Translate

Populer Dalam Minggu Ini


Youtube

Facebook