LekoNTT.com: Membaca Dahulu, Berkomentar Kemudian
Archive for 2023

Komnas Perempuan Minta Klarifikasi Polres Nagekeo Mengenai Penculikan AGFD

Audiensi Tim GALAK ke Komnas Perempuan terkait kasus penculikan anak AGFD di Nagekeo/AM/Desember 2022


Jakarta, LekoNTT.com-Komnas Perempuan baru saja merilis pendapat dan rekomendasi kepada Polres Nagekeo terkait kasus penculikan dan penganiayaan dua kali yang dialami siswi (AGFD) yang tinggal di Kabupaten Nagekeo, provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dalam rilisnya Komnas Perempuan menyatakan bahwa: pertama, Kasus penculikan berhubungan dengan aktivitas kemanusian Gregorius Daen dan menggolongkan Gregorius sebagai Women Human Rights Defender (WHRD) yang membela perempuan adat dalam kasus waduk Lambo-Nagekeo; 

Kedua, Kasus ini merupakan kasus yang pertama terkait ancaman dan teror kepada pembela Hak Asasi Manusia yang masuk pengaduan Komnas Perempuan sepanjang dua puluhan tahun; Ketiga, bahwa sebagai pembela HAM, Gregorius Daeng dan keluarganya memiliki hak yang dijamin dalam Deklarasi pembela HAM dan Komnas Perempuan menegaskan bahwa anak dan perempuan menjadi korban kekerasan paling banyak sesuai catatan pihaknya.

Komnas Perempuan juga meminta klarifikasi/informasi dari Kepala Kepolisian Resor Nagekeo u.p Penyidik Laporan Polisi LP Nomor: TPL/79/IX/2022/SPKT B/Res Nagekeo/POLDA NTT terkait dengan peristiwa penculikan yang dialami AGFD dan proses hukum yang berlangsung.

Kakak korban, Gregorius R Daeng mengapresiasi isi pendapat dan rekomendasi yang diterbitkan oleh Komnas Perempuan, utamanya terkait penegasan bahwa adiknya (AGFD) merupakan ''Korban Penculikan Anak akibat kerja-kerja/aktivitas dari Kakaknya, Sdr. Gregorius Retas Daeng sebagai Pembela Hak Asasi Manusia''.

''Kami dari keluarga menyampaikan terima kasih kepada Komnas Perempuan yang tegas mengeluarkan rekomendasi untuk Polres Nagekeo dalam hal mengklarifikasi kejelasan penanganan perkara yang menimpa adik perempuan sebagai korban. Komnas Perempuan tegas menyatakan adik AGFD merupakan korban kejahatan penculikan,'' kata Gregorius dalam keterangan tertulisnya, Rabu (21/12/2022).

Advokat jebolan LBH Jakarta ini menjelaskan, pihaknya berharap Polres Nagekeo mulai mengubah cara perlakuan dan penanganannya terhadap kasus adiknya. Sebab korban anak memang sudah seharusnya diperlakukan secara khusus dan hati-hati, sehingga penyidik sebaiknya jangan menunjukkan kesan lambat dalam bekerja.

''Rekomendasi Komnas Perempuan sejalan dengan tuntutan kami bahwa kasus ini murni kejahatan penculikan, tetapi sayangnya diarahkan ke pasal lain oleh Polres Nagekeo. Kami harap Polisi segera menangkap pelaku, menaikkan ke tahapan penyidikan, dan mengedepankan prinsip-prinsip fair trial, salah satunya perlakuan khusus terhadap anak korban kejahatan. Harapannya tidak ada kesan bahwa Polres Nagekeo itu malas bekerja,'' ujarnya.

Juru Bicara Tim GALAK (Gerakan Advokasi Anti Penculikan Anak) yang sedari awal mengadvokasi kasus ini, Muhammad Mualimin menambahkan, pihaknya berharap Polres Nagekeo fokus menyelesaikan kasus tersebut dan berhenti berpikir kakak kandung korban bersama Tim GALAK sebagai lawan, sebab pada dasarnya kepentingan Tim GALAK dan Polres Nagekeo adalah sama, yaitu pelaku kejahatan dihukum.

''Tim GALAK dan Polres Nagekeo harus bergandengan tangan membuat bagaimana caranya penculik ditangkap. Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia ini tidak boleh ada bandit bebas keliaran. Kalaupun ada kritik dari kami itu hanya cambuk supaya Polisi lebih giat lagi menuntaskan kasus. Musuh kita sama, yaitu para penjahat yang mengganggu ketentraman masyarakat,'' pungkasnya.***(AM/LekoNTT.com)


Related Posts:

Modus Operandi Penjajahan Baru

*Suroto*

Ilustrasi penjajahan baru oleh oligarki/jernih.co/AM/Januari2023


Perdana Menteri Belanda baru saja mengumumkan pengakuan dan permintaan maaf atas penjajahan dan perbudakan yang dilakukan oleh bangsanya di masa lalu. Termasuk kepada Indonesia yang telah diperbudak selama kurang lebih 250 tahun. Dalam permintaan maafnya itu juga berjanji akan kembalikan artefak kebudayaan yang dulu pernah dirampas.

Sebagai bangsa penjajah beratus tahun dan baru mengakuinya saat ini tentu sangat memalukan. Tapi setidaknya dengan permintaan maaf itu bangsa itu tidak akan mengulangi kesalahannya sebagai bangsa yang brutal dan nir kemanusiaan dalam memperlakukan bangsa lain di masa mendatang. Demi ciptakan perdamaian dunia.

Permintaan maaf saja tentu tidak cukup. Mengakui kesalahan tentu mengandung konsekuensi. Konsekuensinya, membayar kerugian yang diderita oleh bangsa-bangsa yang telah dijajah. Tak hanya kembalikan artefak karya seninya yang dirampok, Tetapi mengembalikan pembayaran utang yang baru kita lunasi beberapa tahun lalu, kembalikan seluruh kerugian materiil dan imateriilnya. 

Kalaupun harta mereka tidak cukup untuk melunasinya saat ini, maka mereka harus lunasi hingga beberapa puluh atau ratus tahun mendatang. Tidak bisa begitu saja lepas dari tanggungjawab. Kemajuan bangsa mereka hari ini adalah berasal dari rampasan bangsa kita di masa lalu.

Pengakuan kesalahan Belanda tersebut harus kita jadikan sebagai modal untuk membangun kesadaran bahwa tidak boleh dan jangan pernah memperkenankan diri secuilpun dengan berbagai upaya penjajahan baru.

Bangsa juga harus sadar, bahwa penjajahan itu bukan berarti hanya dalam bentuk okupasi wilayah, penjajahan fisik. Kita harus sadar bahwa bangsa kita hari ini itu belum berdaulat penuh dan masih dalam kondisi terjajah oleh bangsa dan negara global utara dalam bentuk yang lain.

Kita harus sadar bahwa bangsa global utara itu juga masih kuat mengikat dan menjajah kita sampai hari ini. Mereka datang dalam bentuk penjajahan non fisik. Mereka datang dalam cengkeram sistem ekonomi.

Mereka sejatinya masih menjajah kita, melalui bangsa sendiri dengan memanfaatkan struktur feodalisme lama, yaitu datang melobi elit-elit politik kita. Para raja baru yang berwujud politisi busuk dan  konglomerat bermental menumpang.

Hari ini kita belum bisa dikatakan sebagai bangsa berdaulat penuh. Sebab faktanya justru penjajahan itu semakin kuat terasa. Bangsa bangsa global utara itu masih menjajah kita melalui instrumen utang, investasi, dan konsumsi.

Implikasi Penjajahan Baru

Mereka masuk pertama tama melalui pintu utang. Utang yang dikomitmenkan untuk membangun infrastruktur bagi kepentingan memperlancar investasi mereka di sektor komoditi ekstraktif seperti tambang dan perkebunan monokultur. Utang dengan bunga mencekik empat kali lipat lebih besar dari bunga pasaran.

Utang ini sebagai pintu masuk dan ini terbukti dengan ditolaknya proposal penghapusan kemiskinan negara miskin dan berkembang termasuk Indonesia pada tahun 1980 oleh Prof Jan Timbergen, penerima Nobel ekonomi berkebangsaan Belanda ini. Proposalnya yang di dalamnya usulkan penghapusan utang negara miskin dan berkembang termasuk Indonesia dengan skema alokasikan 0,7 persen dari Produk Domestik Bruto ( PDB) negara maju itu ditolak oleh negara global utara karena mereka tahu bahwa utang sekecil apapun adalah sebagai pintu masuk utama mereka melakukan penjajahan baru.

Kemudian investasi di komoditi ekstraktif itu harga pasaranya juga mereka masih kendalikan. Sebut saja misalnya harga sawit dan batu bara contohnya. Kita produsen sawit terbesar di dunia, hingga 62 persen.  Tapi harganya bukan kita yang tentukan, melainkan mereka.  Mereka kuasai kita melalui perusahaan multinasional mereka. 

Tak hanya sampai disitu, bangsa global utara itu juga telah menjajah kita dalam bentuk ciptakan ketergantungan importasi produk. Kita dijajah dengan dijadikan hanya sebagai pasaran produk mereka dengan kekuatan kongkalikong dengan pejabat dan konglomerat nasional penguasa import.  

Perluasan izin tambang dan perkebunan yang telah mereka dapatkan dengan berkongkalikong dengan elit penguasa kita juga sebabkan penyerobotan tanah petani kita. Kemunduran penguasaan lahan terus terjadi. Petani kita dibuat gurem dengan hanya punya kuasa lahan per kapita 0,33 ha. Sementara petani kita sebagian besarnya hanya diisi oleh buruh tani  sebesar 74 persen yang hanya andalkan tenaganya.

Rakyat kita akhirnya tak lagi punya kemampuan untuk mandiri pangan. Apa yang kita makan akhirnya sangat tergantung dari importasi produk mereka. Contoh kecil saja, kedelai yang kita makan itu bergantung dari 86 persen import dari amerika serikat. Sisanya 13 persen dari Canada dan lainya.

Kita juga menjadi bangsa yang tidak berdaulat walaupun sudah deklarasi 77 tahun sebagai bangsa merdeka. Seperti yang diperingatkan oleh Bung Karno, " hati hati dengan apa yang kamu makan, sebab apa yang kamu makan itu menentukan seberapa daulat kamu".

Faktanya, tak hanya kedelai tapi beras, ubi, garam, kain, dan lain lain kita telah terjajah. Sehingga secara politikpun akhirnya kita menjadi bangsa yang rentan karena pemerintah kita menjadi begitu mudah dijatuhkan hanya dengan melalukan embargo pangan setiap saat.

Pengakuan pemerintah dan bangsa Belanda yang telah menjajah dan memperburuk nasib bangsa ini perlu kita apresiasi. Tapi kita sebagai bangsa jangan sampai terus menjadi bermental budak, slaver dan lupa bahwa kita masih dijajah dalam modus operandi yang berbeda dari bangsa lain dengan berkongkalikong dengan elit penguasa dan konglomerat hitam. Waspadalah, mereka masih terus berusaha mengkudeta kedaulatan kita dengan berbagai cara.(AM/LekoNTT)


*Penulis adalah penggiat koperasi Indonesia, yang berusaha mengembangkan model ekonomi kerakyatan di Indonesia.

Related Posts:

Perjamuan Pagi

 Oleh: Lianna Putri Sri Musniawati*


Ilustrasi: Delphin Enjolras (Prancis, 1857-1945).

LEKO NTT - Tiga orang perempuan asing duduk di kursi rotan, menghadap satu meja bundar dengan tiga cangkir kopi panas tersaji di atasnya. Mereka mulai berceloteh tentang mimpi. 

Perempuan berwajah ramah, yang di negerinya sedang terjadi wabah besar-besaran, mengawali kisah.

"Aku bermimpi, rekan kerjaku mendadak diserang flu dan gatal-gatal di kepala saat kami sedang menghadiri sebuah rapat kerja yang dipimpin oleh Yang Mulia Pemimpin Kami." 

Dua perempuan pendengar tubuhnya bergidik. 

Lantas perempuan cantik yang parasnya menjadi sayu semenjak ditinggal mati anaknya menyambung cerita.

"Semalam sebuah mimpi kembali pertemukan aku dengan anakku. Lama tinggal di surga, dia tampak semakin tampan." Mata perempuan itu berkaca-kaca. 

Dan dua perempuan pendengar matanya ikut berkaca-kaca. 

Tiba giliran perempuan terakhir menuturkan bunga tidurnya. Mukanya terlihat paling murung dan mengantuk dan mengundang rasa iba.

"Aku baru saja kehilangan banyak hal yang aku cintai, dan karenanya kupikir mestinya aku bergegas mati." 

Dua perempuan pendengar menjulurkan masing-masing satu tangan mereka untuk mengusap lembut punggung si penutur mimpi terakhir. 

"Tapi nyatanya aku belum becus menerima mati bahkan dalam mimpi sekalipun," ia melanjutkan.

"Semalam aku terbangun dua kali, beberapa mimpi menarasikan jalan kematian paling gelap namun aku terus melawan, dan perlawananku itu pada akhirnya selalu membuatku terjaga dalam keadaan tegang dan linglung belaka." 

Mereka bertiga sejenak diam. Memandang lurus ke arah meja.

Tiga cangkir kopi telah mendingin dan dikerubuti semut. Tapi mereka tetap bersulang dan menenggak kopi dingin bertabur semut itu sampai habis. 

Matahari kian ke tengah. Dari sisa ampas kopi terakhir yang berhasil mereka jilat, terbit kesepakatan: mimpi hanyalah manifestasi dari apa yang di dunia nyata sedang mereka tekan dan pikir dalam-dalam dan masa depan masih bersembunyi di balik ketiak Tuhan. 

Tiga orang perempuan asing beranjak dari kursi rotan, menghadap arah jalan pulang mereka masing-masing.***

Semarang, 13 Februari 2021

*Lianna Putri Sri Musniawati, manusia kelahiran 12 November 1998 yang menyukai sastra dan kegelapan.

Related Posts:

Kandang!

 oleh: Marinuz Kevin*

Ilustrasi kandang Natal di sebuah Gereja. AM/Desember 2019.
 

Bismillahirrohmanirrohim, Selamat Hari Natal untuk para binatang! Eh, mungkin Natal sebenarnya tidak pernah ada? Kami saja yang terlalu kreatif menciptakannyaKami menciptakan fantasi tentang Natal dan mewujudkannya. Mewujudkan sebuah ketiadaan lalu menghamba padanya!

Kami telah gagal menempatkan gengsi demi memelihara status sosial wajib se-ideal khayalan dan fantasi. Denial pada kedaifan. Agenda rutin seremonial tahunan adalah glorifikasi yang selalu kembali meminta tagihan (bill)

Mewujud kuat dalam napas kultural. Merayakan kebutuhan-kebutuhan palsu secara riil. Nihil dan monoton seperti Sisifus merepetisi absurditasKutukan ini telah mencipta sumsum menjadi karakter dan identitas.

 Ah, Marx benar; tragedi cuma terjadi sekali, seterusnya sejarah hanya mendaur ulang banyolan demi banyolan. Sebab, ketidaktahuan dan ketidakpedulian adalah pembiaran (banalitas) yang berakar. Tak berujung seperti lingkaran setan!

Mengapa hal ini terjadi, tak pernahkah dikeluhkan? Hanya menerima dan mengikuti kerumunan arus gerombolan tanpa nalar? Berulang-ulang tidakkah membuat capek dan bosan?

Pemikiran seragam, steril dari realitas beragam. Pemahaman labil-jauh dari khatamMode materialistik membuat amnesia massal akan entitas esensial. Menghamba diri digiring pada budaya konsumtif. Selera trend sentral tata kelola kapitalisme neo-liberal.

Ditafsir parsial jadinya non-sense. Makna sakral pun bergeser oleh masing-masing manifestasi citra imajiner; perilaku-perilaku hedonistik yang telah duluan meng-cover.

Distraksi-distraksi visual. Hiruk-pikuk iklan melambai; diskon, promo, dan giveaway dari berbagai platform digital dalam presentase algoritmik. Tumpah ruah insan berbelanja di mall, plaza dan pasar tradisional dengan trafik terus meningkat naik.

Coba temui ekosistem transaksional padat distorsi para kolosal kartel sembako; kartel bawang, kartel cabai, kartel telur, kartel daging, plus kartel parkiran di emperan toko bertopi Santa Claus sibuk menjaga status quo. Literatur perdagangan dalam skenario pertukaran perekonomian yang sembrono penuh libido tersedak dildo.

Sungguh kasih tak berkekurangan, ini krisis berkelimpahan nyatanya. Sungguh perayaan peringatan ini menunjang penuh pembangunan ekonomi kerakyatan yang dipimpin oleh nikmat keranjingan dalam pembelanjaan dan hiburan yang diberikan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Impulsif dan prematur! Kami butuh paduan moral untuk merevitalisasi kacamata kultus kelahiran yang minus visi kehidupan sesungguhnya.

Rutinitas ini merupakan akses pemanfaatan lintas kelas (overlapping class). Maka, sebuah tragedi menjelma transaksi komoditas. Tragedi tereduksi jadi lelucon sejarah. Tragedi merekonstruksi aktivitas kolaborasi korporasi, industri, pasar dan media dalam kerja kolektifnya untuk menjarah.

Mengentrifikasi kesederhanaan di kandang lalu dibawa ke kota-kota dan ke desa-desa sebagai alat pembenaran demi memaksimalkan keuntungan. Cerdik meramu strategi pemasaran yang tertib. Secara stabil melakukan pendekatan-pendekatan humanis lagi simultan. Lihai memanipulasi sembari membentuk kesadaran massa.

Menjaga dan merawat fantasi pelanggan setia. Mendaurulang produk-produk ilusif budaya massa. Doa-doa khusyuk dan lagu-lagu syahdu penyejuk bagi jemaat setia.

Menyimak parade crazy rich Nasrani pesta donasi. Menuntut fungsi ganda; agenda. Pemenuhan program CSR (Corporate Social Responsibility) dan purifikasi. Tak lupa cek peta demografi komunitas filantropis! Asyik, propaganda isu-isu mulia dalam kerja pro bono secara sporadis. Sekali bergerak, naluri mendistribusi investasi sosial dan artis sociopreneur yang sintetis.

Saham kopong investasi bodong. Kami berteriak minta tolong. Sebab, dari hasil menjangkau sepotong-sepotong. Kami berbondong-bondong masuki Kandang gelap. Mengajak serta Rumi ikut berwisata agar lebih bijak meraba-raba dengan cakap menerka-nerka dengan sigap.[1]

Apa isinya? Semut di seberang pulau atau gajah dipelupuk mata? Atau sepucuk alegori kisah cinta buta Qais kepada Layla[2]? Menjamah satu entitas yang nyata kondisinya terpisah; isinya terdiskreditkan dan kemasan artifisial hasil fabrikasi dengan narasi yang diromantisasi. Bersama tumpukan-tumpukan keyakinan buta berjejer menanti dimonetisasi.

Ekspansi modal dari jiwa kapital monopolis mendeklarasikan sabda populis nan puitis via mikrofon. Dalam isinya wajib ada kisah sedih sekaligus sukses untuk dijual ke penonton.

Semisal drama palungan yang menohok berhasil masuk konten FYP (For Your Page) di beranda TikTok. Kemudian dibaluri dengan kisah rohani inspiratif sekaliber Tiongkok yang jadi biang kerok pematok ulang draft aturan main rantai pasok.

Kerja dan Kandang

Kini, tentang problematika rendahnya upah kerja koster dibanding kisah kasih malam Natal yang kesejahterannya merata dan berlimpahKemudian terselamatkan berkat sokongan THR (Tunjangan Hari Raya) dan cashback 10 persen dari isi kotak derma. Seraya menyanyikan lagu dalam playlist Spotify nomor 233 [3]

Ora et Labora, harta, tahta, tak punya-hanya Omnibus Law Cipta Kerja. Ah, tanya Taylor [4] untuk adaptasi kinerja metodelogi praktek manajemen ilmiahSemoga Koster tak kena Pemutusan Hubungan Kerja. Tergerus pasar tenaga kerja kontrak dan sistem alih-daya seperti nasib pelajar menengah-bawah lulusan Sekolah Menengah Kejuruan.

Alhamdulillah! Semoga segala usaha istiqomah penuh rahmat dan barokah. Semoga tak kehilangan hidayah

Inovasi ekraf tanpa batas mengolah emas, kemenyaan dan mur. Kontan temukan hasrat baru yang syur. Membuat adab kian menjadi kabur tak terukur. Para Majus entrepreneur tak perlu lagi repot-repot untuk bermil-mil ke Betlehem. Persembahan tinggal ditransfer. Kandang adalah pabrik mesin produksi multifungsi-bisa berupa ATM (Anjungan Tunai Mandiri). 

Kandang adalah aset multitasking-bisa berupa bisnis model skema piramida multi level marketing. Menjual pohon Natal, pernak-pernik hiasannya, baju baru, kado, cat tembok, dan berbagai bentuk dan varian rasa kue kering.

Maka, Kandang tak lebihnya dapur umum yang harus merawat sirkulasi asap agar terus mengepul. Pusaran segala halu bergumul! Produsen pesta-pesta yang jadi titik kumpul. Peternak donatur perangkul sponsor iklan pelbagai umbul-umbul

Ini gelora relasi baku ekonomi eksploitatif dalam ekspansi peta produksi kapitalisme. Diri-Mu sudah lama lahir namun masih menjadi ornamen kampanye. Fetisisme industri budaya dalam satu model template meromantisasi hymne; "Raja diatas segala raja telah lahir di dunia, glory glory hallelujah, puji dan sembah Dia!" Seraya gegap gempita euforia pesta genosida kesadaran jiwa dan kepekaan hati manusia.

Ataukah mungkin Natal yang kudus khusus teruntuk binatang? Karena bayi Kristus Yesus lahir di Kandang? Karena di Kandang maka seharusnya kami lebih tahu diri, sadar diri, rendah hati dalam menyikapi dan mengimani.

Bukan lakoni homogenitas bergelimang segala atribut mewah yang mengenapi dan menemani kepongahan. Oh! Kasihani kami Tuhan, kasihanilah kami. Ampuni kami tak tahu apa yang telah kami perbuat!

Unboxing dan flexing kesederhanaan-Mu via reels dan NFT (Non Fungible Token). Kisah-Mu terkapitalisasi, termanipulasi, tereksploitasi, terpolitisasi, terkomodifikasi, terdisrupsi bermacam aksi eksentrik yang terlampau jauh dari nubuat.

Nah, apakah benar kelahiran-Mu sebagai Sang Juru Selamat? Ataukah diri-Mu hanyalah tokoh dekonstruktif yang tercatat dekat dengan kandang guna genapi riwayat?

Minta verifikasi malaikat? Coba tanyakan pada moyang-moyang Yehuda, para gembala, atau validasi data akurat oleh Derrida? [5] Apakah butuh pendapat langsung dari kedua belas rasul dengan perspektif berbeda? [6] Atau menunggu hingga kiamat lalu mati, kemudian duduk berdiskusi hangat di studio podcast bersama Maria?

Ya Tuhan! Kami sungguh sekarat, bahkan jauh sebelum pergi layat di akhirat. Memang bukan perkara singkat. Ini perkara Daud versus Goliat. Akulturasi, rekonstruksi, atau berdaulat?

Memilih merubah kebiasaaan atau terus berkutat mereproduksi bisnis turunan introduksi adat Barat. Dimana patuhi instruksi sudah kodrat. Melegitimasi amanat ditelan bulat-bulat.

Kandang Digital

Ya Tuhan! Kami tersesat. Semoga Kandang juga diberi tambahan akses free Wi-Fi (Wireless Fidelity) agar lebih cepat mempermudah proses penelusuran makna kelahiran yang terabstraksi dan gagal dimengerti oleh kami sebagai umat.

Lalu, kami tinggal kutip ayat-ayat. Salin tempel segera publikasi via media sosial. Terus mengemis interaksi agar cepat hits dan jadi viral. Ya, ini justifikasi yang meminta bukti eksistensi, moralitas dan materialistik.

Semarak individualistik dan narsistik. Bukan otokritik namun kami justru sibuk mengintervensi panggung ke panggung. Demi konten, praktik-praktik aktualisasi diri harus terus masif bergaung.

Ya, sebab menciptakan sebuah konten itu mahal. Aktivitas praksis itu murah. Terlalu murah, kami berkacamata kuda hingga diambang delusi sampai tak lagi menapak tanah. Hingga ruang pandang terdistraksi jadi blur. Jelas saja kami lupa atas budi pekerti dan rahmat kebijaksanaan yang diberi. Sembari abaikan citra-Mu yang suci nan luhur.

Lalu, apabila dipersonifikasikan dalam lensa imajinasi feminim. Mampukah membuat kami semakin berempati dan hanyut dalam gelombang emosi hingga menyentuh lebih dekat dengan pengalaman batin?

Ah, narasi manakah yang harus bertanggungjawab untuk dijadikan sebuah protap? Atau mungkin kelahiran-Mu terlalu terburu-buru bagi kami yang belum siap? Sebab sudah berabad-abad namun hingga kini kami masih latah dan ambigu mengambil sikap.

Kesadaran luput pandang bagai titik buta di belakang tronton. Kami mengira-ngira tragedi kelahiran ini dari atas puncak keangkuhan menara Babilon. Menimbang-nimbangnya, bila bukan jadi produk lelucon maka eksklusif dan mahal pada proposal-proposal olahan berbagai jargon.

Hanya berlaku privat dalam ranah kopdar (kopi darat: tatap muka) intelektual. liminal dan irasional. Inilah kerja-kerja resmi transaksional dari kami para koloni oportunis lepas yang telah sukses berteatrikal.

Bisakah bayi Kristus Yesus lolos dari semua perilaku-perilaku sehingga dapat mainkan peran baru sebagai penyintas? Menulis injil baru ditemani Matius dan Lukas?

Kelak nanti dengan label dan narasi identitas baru sebagai anak tukang las atau anak pengusaha gas dari kalangan sukses borjuis mayoritas? Jangan lagi jadi anak seorang Marxis yang tubuhnya remuk menata tatanan dunia baru yang padat kelas dan uniformitas.

Ah, bila kelahiran yang sedari awal sudah dipreteli begini. Bagaimana dengan kronologi kisah kesengsaraan, kematian dan kebangkitan nanti? Teladan ini jelas kudeta terhadap otoritas tertinggiMengapropriasi, merampas supremasi, mungkin benar adagium Nietzsche "Tuhan sudah mati", bahkan sebelum lahir? [7]

Langgengkan penindasan Hak Asasi Manusia berlapis. Tersalib di pucuk pohon cemara, lalu setiap tanggal 25 Desember dikenang sebagai martir?

Ijin, ini pledoi, mohon dengarkan Tuan Hakim!

Kandang telah bertransformasi sekotak rahim portabel mainstream yang terpenetrasi dobel ketamakan secara intim oleh rezim! Lalu para binatang yang alim bertanggungjawab mendomestikasi yang imanen untuk bermukim. Shadaqallahul AdzimI!

Namun, tak lazim seperti bayi-bayi yang terlahir penuh ledak tangis nan rewel. Sebab tak taat protokol CHSE-Cleanliness (kebersihan), Health (kesehatan) Safety (keamanan) dan Environment Sustainability (keberlanjutan lingkungan) sengatan bau cirit binatang di kandang yang justru kejutkan Sang Immanuel.

Realisme ini memang mentah, tanpa perlu banyak proses interpretasi dan framing. Tanpa perlu rekayasa green screen, biarkan tai itu sampai hilang amonia hingga keras mengering. Seyogyanya, kandang tak butuh eufemisme diplomatis khas soft power untuk menyantuni realitas. Persetan dengan hospitalitas, sebab sesungguhnya kami sudah terlampau jauh membias.

Maka, tentang memuji, memuliakan dan mengagungkan merupakan peran para binatang di kandang yang lebih layak dan pantas. Seperti halnya patung-patung sebagai media yang seringkali disembah?

Seharusnya kandang juga termasuk dalam perangkat inti ibadah. Sebab kandang adalah subjeknya, dan bayi Kristus Yesus dinegasikan liyanBukankah sebuah pembelokan tradisi sakral dari akidah ritual baku yang selama ini dilakukan?

Minta peta blueprint kandang lalu selidik rentetan konflik! Hardik! Butuh didaktik, solusi analisis profetik sebagai metode didik alternatif atau hanya aktivasi kesepakatan kolektif yang kompromis untuk merumuskan standar kode etik? Segera rekonstruksi arsitektur kandang! Segera rekonfingurasi setiap gestur yang timpang!

Bukankah ini upaya-upaya pengasingan Bayi Kristus Yesus dari kandang? 

Eh, tapi ada spesial promo paket cuci Kandang! Jangan sampai terlewatkan! Kandang artifisial bersertifikasi halal.  Ramah bintang lima pada aplikasi digital. Tentunya mendukung metode pembayaran via paylater!

Segera unduh sekarang di Play StoreDijual dan disewakan. Kandang standar dealer, kandang costum, kandang modifikasi, dan tukar-tambah kandang. Melayani grosir maupun eceran! Serta Kredit Pemilikan Kandang dengan bunga kecil dan cicilan rendah. Jadi, tunggu apa lagi? Segera miliki kandang idaman!

Ada pula tersedia artificial tourism--paket wisata rohani buatan; paket berziarah ke kandang! Lengkap dengan para binatang ber-cosplay ala SPG (Sales Promotion Girl). Militan menyebar product storytelling segencar narasi dominan bahaya MSG (Monosodium Glutamat).

Sembari menyelipkan materialisme dialektika-historisitas diantara poin-poin hafalan product knowledge pada tumpukan flyer. Natal begitu beralasan dengan keatraktifan event-event sekuler.

Harap pilih tema mana yang lebih cocok? 'Kandang versus Everybody' atau 'E-Kandang merupakan cara baru merayakan natal' untuk memantik sesi dialog? Terlalu hiperbolik atau itu dark jokes, sama-sama berbasis kepentingan dalam rundown showbiz. Di mana para netizen sendiri bebas menakar versi masing-masing fetish.

Pada masanya, tibalah ketiga majus entrepreneur; si Imperialis, si Kapitalis, dan si Oligarkis kepada sekerumunan orang-orang di depan lapak peternak Kandang, seraya mereka bersabda;

"Wahai seluruh umat manusia di dunia dengarkanlah kabar gembira penuh sukacita; Raja di atas segala raja telah lahir di Kandang, glory glory hallelujah, sembelih dan kuliti dia! Segera eksploitasi dia dan lalu mari kita berpesta pora!"(AM/LekoNTT)



*Penulis adalah seorang praktisi seni entertainment; Master of Ceremony, Hip Hop Artist, Sopi Entrepreneur, dan Event Organizer dalam rutinitasnya. Penulis dapat dihubungi melalui akun meddsosnya: Facebook-Marinuz Kevin; Instagram @marinuz_kevin; TikTok @marinuz_kevin

Daftar Referensi

1. Maulana Jalaluddin Rumi, Gajah di Rumah Gelap, dalam Al Matsnawi.
2. Syaikh Nizami, Layla-MajnunYogyakarta: Diva Press, 2002. Disadur dari Syekh Nizami, The Classic Love Story of Persian Literature, John Blake Publishing: 1997, penyadur Umu Kusnawatih dan Latifatul Izzah.
3. Madah Bakti Nomor 233, Trimalah Ya Bapa, Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi, 2000. 
4. Frederick Winslow Taylor, Teori Manajemen Ilmiah diterjemahkan dari Frederick Winslow Taylor The Principles of Scientific Management, Cosimo Inc Publication: USA, 1991.
5. Jacques Derrida, Teori Dekonstruksi,  Derrida pertama kali menggunakan istilah différance dalam makalahnya  "Cogito et histoire de la folie" terbit tahun 1963. Istilah différance atau Dekonstruksi memainkan peran kunci dalam keterlibatan Derrida dengan filosofof Edmund Husserl. Istilah tersebut kemudian dijabarkan dalam berbagai karya termasuk karya utama tentang Dekonstruksi, yakni Of Grammatology dalam bahasa Perancis De la grammatologie terbit tahun 1967.
6. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kelahiran_Yesus, diakses pada 23, 2022 pukul 15.30 WITA
7. Yulius Aris Widiantoro, Nihilisme sebagai Problem Eksistensial, Thesis, Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, 2009.

Related Posts: