LekoNTT.com: Membaca Dahulu, Berkomentar Kemudian
Archive for 2019

“Hello My Name Is”, Timore Art Graffiti


Kupang, LekoNTT.com – Salah satu komunitas kreatif di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang memilih fokus pada seni visual, Timore Art Graffiti (TAG) menggelar pameran tunggal bertajuk Hello My Name Is. Pameran ini sudah berlangsung sejak 21 November dan akan berkahir pada perayaan ulang tahun ke-4 TAG, 23 November 2019 di Lantai 2, F-Square, Jalan Shopping Center, Oebobo, Kota Kupang.

Pameran tunggal sekaligus pameran perdana ini yang juga didukung oleh Komunitas Film Kupang, SkolMus, Coloteme Art’s Movement, Komunitas Leko, Barber 88, memamerkan karya-karya seniwati dan seniman yang bergiat di TAG. Karya-karya mereka dikurasi oleh Yoppie Liliweri, seniman yang bergiat di Komunitas Perupa Kapur Sirih Kupang dan salah satu Pembina TAG. Pada hari pertama, Kamis (21/11), sesaat setelah pembukaan pameran pada pukul 16.00 Wita, Yoppie menyampaikan isi pameran dan memperkenalkan ke-12 artis TAG kepada pengunjung.


Para artis TAG itu antara lain, Agustina Tresia Doporiko, Aloisius Sugiarto Keropong Kolin, Apris Nggonggoek, Armando Soriano, Fransiskus Assisi R. Nadjib, Januarius F. Baowolo, Marianus N. Koten, Petrus Tobi Tukan, Remon Hepi Nara Kaha, Yosafad Emmanuel Hoely, Yosep Hendrikus Tukan, dan Wandry J. Dami.

Pameran hari pertama berlangsung meriah. Pengunjung, ketika memasuki ruang pameran disambut dengan pembacaan puisi, kolaborasi antara Yaya da Costa dan Armando Soriano. Pengunjung menaiki setiap anak tangga, diiring gema suara Yaya dan alunan suling bambu Armando Soriano.


Tidak hanya itu, para pengunjung dimanjakan matanya dengan aksi live mural di rooftop dan lima titik lainnya, dari beberapa artis TAG sembari ‘menikmati’ karya-karya yang dipamerkan. Selain itu, Artist Talk dilangsungkan di bawah tema Selera Muda, dari Yang Tua. Tampil sebagai pembicara, Apris Nggonggoek, Petrus Tobi Tukan, Yosep Hendrikus Tukan dan Jacky Lau, dimoderatori oleh Yedida Letedara.


Apris Nggonggoek, kepada LekoNTT.com mengungkapkan perasaannya. “Beta senang, karena selama ini karya seni yang dihasilkan, hanya sesama katong yang apresiasi. Tapi melalui pameran ini, beta sangat senang karena masyarakat umum juga beri apresiasi dan support katong,” ungkap Apris, seniman termuda di TAG.

Apris mengakui, Hello My Name Is, pemeran tunggal TAG adalah momen pertama baginya untuk menyajikan karya-karyanya. Ia pun berharap agar ke depan, TAG ataupun komunitas kretaif lain melakukan kegiatan sejenis secara rutin. “Dengan begitu, masyarakat umum bisa kenal katong, pelaku seni. Bahwa katong juga ada untuk bikin indah kota ini.”

Berikut, beberapa foto, hasil dokumentasi Armin Septiexan dan Vickram Sombu pada hari pertama:
Suasana pameran TAG di lantai 2 F-Square Oebobo
Armando Soriano, salah satu artis pameran menjelaskan karyanya (instalasi) kepada salah satu pengunjung

Apris Nggonggoek dan instalasi Armando Soriano
Artist Talk

Khusyuk mengikuti Artist Talk

Live painting

Tembok Respon oleh pengunjung pameran

Senyum di depan karya. Yaya da Costa dan Astry Doporiko

Wandry Dami menarasikan karyanya (police line) kepada wartawan yang mengunjungi pameran

Petrus Tobi Tukan, karya, dan keluarga
(het)

Related Posts:

Timore Art Graffiti: Ulang Tahun Keempat, Pameran Perdana


Kupang, LekoNTT.com – Memperingati ulang tahun keempat, Komunitas Timore Art Graffiti (TAG) menggelar pameran bertajuk Hello My Name Is. Pameran tersebut akan dilangsungkan pada tanggal 21 hingga 23 November 2019 di Aula F-Square Lantai 2, Jln. Shopping Center Oebobo, Kota Kupang.


Selain memperkenalkan para seniman dan seniwati TAG kepada publik di Nusa Tenggara Timur melalui karya yang dipamerkan, akan ada artist talk, live mural, live music, pembacaan dan musikalisasi puisi serta merchandise menarik, khas TAG. Pameran ini didukung oleh beberapa komunitas kreatif di Kota Kupang seperti SkolMus, Komunitas Film Kupang, Komunitas Leko, Coloteme Art’s Movement, dan dukungan perorangan maupun non komunitas seperti Barber 88.

Hello My Name Is, Pameran (Tunggal) Perdana

TAG telah berkarya selama empat tahun di Kota Kupang, Hello My Name Is merupakan pameran perdana. Dalam pameran ini, karya para seniman dan seniwati TAG dikurasi langsung oleh Yoppie Liliweri, salah satu seniman yang bergiat di Komunitas Perupa Kapur Sirih  Kupang.

“Dalam suasana kerja dan belajar bersama yang hadir di antara ragam komunitas di kota Kupang inilah, TAG mengadakan pameran perdana,” ungkap Aldy Chrstian, salah satu seniman TAG. Lebih lanjut, ia menandaskan alasan dipilihnya tema yang menjadi jiwa dalam pameran perdana ini.

Hello My Name Is dipilih sebagai tema, sebuah istilah yang secara referensi sinematik telah memberikan jejak kuat bagi perkembangan global seni graffiti dan mural.” Mewakili TAG, ia pun berharap, dalam pameran ini jalan kesenimanan TAG selama ini akan semakin kuat terefleksikan. TAG telah tumbuh, tengah muda dan prima, dipenuhi nyala inspirasi.

Seniman TAG yang lain, Obby Tukan, kepada LekoNTT.com menjelaskan fokus berkesenian yang tengah digeluti bersama teman-temannya. “Berbicara tentang seni jalanan, rujukan tentangnya didominasi pada seni visual. Meskipun seni sastra seperti puisi dan drama serta seni musik juga memiliki posisi yang lumayan besar,” ungkapnya.

Obby pun menjalaskan secara umum terkait mural dan graffiti. “Mural itu cara menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya. Sedangkan graffiti lebih menekankan hanya pada isi tulisan dan kebanyakan dibuat dengan cat semprot. Mural cenderung lebih bebas dan dapat menggunakan media cat atau alat lain yang dapat menghasilkan gambar. Namun seperti halnya kehidupan, pemaknaan rata-rata bersifat tak tetap.”

Tentang Timore Art Graffiti

Sebagai komunitas yang memilih fokus pada seni visual, Timore Art Graffiti berdiri pada tanggal 23 November 2015. Adanya TAG atas dasar ketertarikan para anggotanya pada seni gambar, khususnya seni visual di jalanan (street art).

Berusia relatif muda, para perupa di TAG bergelut dengan rupa-rupa tema dan teknik dalam berkarya. Pendekatan-pendekatan yang mereka lakukan terkait juga dengan identitas mereka sebagai warga kota Kupang dan Provinsi NTT, dimana aspek-aspek etnisitas juga punya warna yang kuat.
Salah satu karya TAG di salah satu tembok di Jalan Palapa, Kota Kupang. Karya yang menyikapi beberapa UU dan RUU kontroversial. Aksi di NTT sendiri diawali oleh TAG pada 25 September 2019. (Foto: Asis)

Perkembangan media informatika dan akses pengadaan media berkarya membuat ruang-ruang aktualisasi menjadi mudah dibangun. TAG membuka diri untuk terkoneksi sampai ke tepi-tepi batas cair ruang dan waktu; yang dimungkinkan oleh teknologi.

Tumbuh dan menjadi bagian dari kota Kupang, TAG terlibat aktif dalam berbagai kegiatan mural dan graffiti di ini kota. Pada Februari 2018, saat Komunitas Art of Peace, sebuah gerakan seni visual internasional, menyambangi kota Kupang dan mengadakan kegiatan Aksi Mural di wilayah Kota Lama Kupang, TAG ikut terlibat. Hal ini merupakan dukungan penuh rasa persaudaraan dari TAG kepada Komunitas Perupa Kapur Sirih Kupang yang juga merupakan bagian penting bagi TAG dalam mengembangkan diri.

Dalam lingkup kota Kupang sendiri (juga beberapa wilayah di pulau Timor, dan area provinsi NTT) TAG sudah memiliki catatan yang tak sedikit tentang keikutsertaan mereka dalam mengisi ruang-ruang kreativitas visual. Perkembangan metode berkegiatan secara berjejaringan oleh komunitas-komunitas di kota Kupang sendiri telah memberikan kesempatan kerja sama kreatif dan lintas seni yang kuat.

Sebagaimana karya mereka yang beragam, keaggotaan TAG pun terdiri dari orang-orang muda yang memiliki latar belakang masing-masing. Ada anggota yang berasal dari Flores, Timor, Sabu, dan Rote, yang sama-sama memiliki kecintaan terhadap karya seni berwajah NTT.

“Salah satu alasan TAG ini ada untuk mengubah mindset kita punya orang NTT tentang mural dan graffiti. Kita mau bikin bagus, bikin indah tembok-tembok kota melalui Bahasa perdamaian yaitu mural dan graffiti,” ungkap Asis Nadjib, salah satu anggota TAG. (red)

Related Posts:

Mengisi Pekan Layanan Publik, Ombudsman NTT Bersama 12 Instansi Gelar Pelayanan Langsung di Arena Car Free Day

Kupang, LekoNTT.com – Ombudsman Republik Indonesia, Provinsi Nusa Tenggara Timur akan menggelar pelayanan langsung bagi masyarakat di arena Car Free Day (CFD), Jln. El Tari, Kota Kupang. Selain Ombudsman NTT, sebanyak 12 instansi yang juga turut dalam pelayanan tersebut.

Ke-12 instansi dimaksud, antara lain:
1.    Polres Kupang Kota akan menggelar Pelayanan SKCK dan SIM
2.    Dispenduk Kota Kupang akan menggelar pelayanan Kartu Identitas Anak (KIA),  dan Surat Keterangan Pengganti KTP
3.    PTSP Provinsi NTT akan menggelar pelayanan perizinan skala provinsi
4.    PTSP Kota Kupang akan menggelar pelayanan perizinan skala kota
5.    Palang Merah Indonesia akan menggelar pelayanan donor darah
6.    Samsat Kota Kupang akan menggelar pelayanan pajak kendaraan bermotor
7.    Jasa Raharja akan menggelar pelayanan asuransi kendaraan
8.    BPJS Kesehatan Cabang Kupang akan menggelar pelayanan asuransi kesehatan
9.    BPJS Ketenagakerjaan Cabang Kupang akan menggelar pelayanan asuransi kesehatan
10. PLN Area Kupang akan menggelar pelayanan pemasangan baru satu hari nyala 
11. PDAM Kota Kupang akan menggelar pelayanan PDAM
12. Bulog Wilayah NTT akan menggelar pelayanan operasi pasar
Sedangkan Ombudsman NTT sendiri, akan menggelar pelayanan penerimaan laporan masyarakat.

Kepala Ombudsman NTT, Darius Beda Daton, melalui keterangannya mengatakan, sebagai lembaga Negara pengawas pelayanan publik, Ombudsman Republik Indonesia sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman Republik Indonesia, salah satu tugas pokoknya adalah melakukan koordinasi dan kerja sama dengan lembaga pemerintah lainnya dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat.
Darius Beda Daton, Kepala Ombudsman Perwakilan NTT. (Foto: HET/ Leko NTT)

“Salah satu program kerja sama Ombudsman RI yang dilaksanakan baik oleh Ombudsman Pusat maupun seluruh perwakilan provinsi di Indonesia dikemas dalam bentuk kegiatan pekan layanan publik anti maladministrasi, dimana Ombudsman mengajak instansi pelayanan publik melakukan kerja sama pelayanan kepada masyarakat secara langsung,” ungkapnya melalui keterangan pers yang diterima redaksi, Kamis (14/11).

Darius pun menjelaskan, untuk Provinsi NTT, kegiatan pekan layanan publik anti maladministrasi bertempat di arena CFD tepatnya area Jalan El Tari, depan kantor DPRD Provinsi NTT, pada Sabtu (16/11/2019), pukul 06.00 sampai 09.00 Wita.

Ia berharap, agar masyarakat Kota Kupang dan sekitarnya memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendapatkan akses pelayanan yang dibutuhkan langsung dari 12 instansi di satu tempat, di sela-sela aktivitas olahraga pagi car free day. Selain pelayanan langsung, akan ada berbagai perlombaan.

“Kegiatan pekan layanan publik ini akan semakin menarik karena akan diselingi dengan berbagai kegiatan lomba seperti Stand Up Comedy, Lomba Mewarnai tingkat TK, Games dan Dance," tutupnya. (red)


Related Posts:

Menanti Penataran | Puisi-Puisi Ambara

Ilustrasi: Dario Campanile

Gerigi Sisir Ibu

Malam larut berjinjit
berjingkat dalam kamar berbau melati
dalam lelap semalam ia terduduk
menyisir rambutnya yang agak panjang namun jarang-jarang

mari Bu kubantu
gerigi yang jarang menyapu rambut
telah patah satu-satu menjadi rongga

dulu rambutku hitam panjang dan lebat, ungkapmu satu ketika
Bapakmu seringkali membauinya mana kala masih muda
itulah kesukaannya...
hingga sekarang ia masih menyukai rambut hitam panjang dan lebat,
yang tak lagi kupunya...

jangan menunduk Bu
biar mudah kusisir rambutmu

pagi waktu Ibu ke pasar
berjingkat kembali ke dalam kamar
kulihat tergeletak di atas meja belajar
sebuah sisir bergerigi jarang
di sela-selanya dihinggapi uban agak panjang

rupanya ia menyisir lagi tadi pagi

Malang, 2016



Jelaga Rindu

Rindu bukan abu,

Yang bisa ditiup begitu saja,

lantas menjadi tak ada.


Ada sekerat hati yang lapuk di sana....

Palmerston North, 2013



Menanti Penataran

Gempita di stasiun kereta, orang-orang lalu lalang
bau keringat dan dengus nafas kepanasan
mereka sibuk mengibas-ngibaskan koran bertajuk nazaruddin dihukum empat tahun penjara

Rakyat menggeliat
Menguap
Kereta tak kunjung datang

Lapar mendera
kuingat hanya dua puluh ribu di saku sejak hari kemarin
habis empat ribu untuk sebongkah nasi bungkus
telah kubagi dengan seorang anak kecil yang duduk tersudut di pojokan loket

mata nanar memperhatikan nasi bungkus empat ribu
kulambaikan tangan dan habislah nasi itu
berakhir di lambungnya yang kecil

anak rakus.
tiga hari belum makan mbak, katanya.

oh...aku lupa hidup di Indonesia.

Enam ribu sebelumnya telah habis kubayarkan pada seorang tua berjenggot yang bercapil,
ngos-ngosan mengayuh becak mengantarku supaya tak ketinggalan kereta.
Mulanya niat berjalan kaki saja, toh tak terlampau jauh jarak stasiun dengan ruangan 2x3 berbau anyir yang kujadikan ruang tidurku sehari-hari itu.
Namun, di ujung gang kulihat ia terduduk dengan wajah gelisah, sudah siang memang, barangkali ia belum dapat penumpang sedari tadi.
Maka marilah, semoga bisa membantumu dapat beras sekilo bekal makan istri dan anakmu nanti....

ah Indonesia.

Kota ini memang panas.
Keringatnya selalu saja memaksa sekumpulan daki-daki meleleh melalui pori-pori
Sepanjang gang kampung pinggiran rel yang kulalui kulihat lagi seorang ibu berkulit gelap dan mengkilat karena panas dan keringat,
di atas kepalanya dililitkan jarik usang,
penangkal panas,
ia duduk terjongkok menunggui dagangannya.
Pisang rebus.
Berpindahlah lima ribu.

Stasiun kereta gegap gempita,
bocah kenyang lalu pergi bertandang,
aku mangkal mbak, katanya

segerombolan ibu-ibu datang dengan wajah luar biasa sumringah
saling bertepuk pipi kanan-kiri dan menyalami satu dengan yang lain

nah itu juga Indonesia.

Rakyat menggeliat
lengkap dengan bau keringat

Ijinkan kucumbui bangku kereta jelek itu lagi
telah kulabuhkan lima ribu terakhirku
dikembalikan seribu di loket siang tadi

Stasiun Kereta Api Gubeng Lama, 2017



0°

Titik nadir

Di sinilah letak kedua tangan kami bergamit kembali jumpa, bermula, bermuara tak bersuara

Dalam lelap yang tak biasa sedang bercerita perihal kembali masa, duduk, jarak, angin, waktu, berdiri, berkelakar, pandang-memandang,
Cengkrama lelaku bersatu padu.

Udara bercanda, dikatakannya bahwa dua dunia itu tak ada.
Kembalilah pada satu yang tak bermakna tunggal.
Bukan satu seorang
bukan satu seorang
kami mereka-reka dalam senyum di batin.

Lurai-lurai gemulai jemari bertaut menciumi bulan sapta yang lunglai.
Ia letih menjadi bongkok, menunggunya daun-daun merah sibuk berbisik gemerisik.

Siut angin memukul-mukul lembut, lewat berkabar,
Hei, pesanmu dalam hati telah sampai!
Apakah kami akan membiarkannya terus tumbuh hingga koyak daging tubuhmu oleh hujaman akar yang rompal?

Kami melengos, genggaman terlepas. Hening berkiblat kaki menapak...bertolak punggung kemudian beranjak.

Siut
Angin
Siut
Angin
Menerobos masuk ke dalam pori-pori dada, memenuhi setiap kelenjar yang kepenuhan.

Kami ada pada awal masa bermula.
Pada sebuah titik, yang nadir, yang musnah, yang memulai kehidupan.

Kami,
adalah
realita.

Palmerston North, 2013

Ambara, biasa dipanggil Ra. Akademisi yang suka pura-pura nyeni. Menggilai karya-karya Olga Karlovack dan sedang mendalami Visual Poetry

Related Posts:

PERMATA Kupang Tolak Pembangunan di Awololong

Kupang, LekoNTT.com - Perhimpunan Mahasiswa Asal Lembata (PERMATA Kupang) dengan tegas menolak rencana Pemerintah Daerah Kabupaten Lembata membangun jembatan titian, kolam apung, restoran apung, pusat kuliner, dan fasilitas lainnya di Pulau Siput Awololong.  Hal ini disampaikan puluhan anggota PERMATA Kupang dalam Diskusi Lembata Akhir Pekan (DILAN) di Taman Nostalgia, Jumat malam, (08/11).
Suasana diskusi anggota PERMATA Kupang di Taman Nostalgia. (Foto: AM)

Dalam diskusi yang dipandu oleh Arif Paokuma, Ketua Bidang Keorganisasian PERMATA Kupang, mengangkat tema Pro dan Kontra Rencana Pembangunan di Pulau Siput, Awololong dengan menghadirkan dua orang narasumber yakni Dominikus Karangora, Divisi Media dan Kampanye WALHI NTT, dan Koordinator Umum AMPPERA Kupang, Emanuel Boli.

Dominikus dalam diskusi mengungkapkan, permasalahan izin pembangunan. "Ada proses yang keliru dalam pengurusan izin lingkungan. Sebab kajian kami dalam pembangunan Awololong wajib Amdal," katanya.

Berangkat dari Permen LHK Nomor 5 Tahun 2012, Karangora menjelaskan bahwa pembangunan dalam sektor pariwisata tidak dilihat besaran untuk menentukan apakah wajib amdal atau UPL/UKL. Sebaliknya, pembangunan di sektor pariwisata melihat dampak penting, sehingga keliru ketika ada yang mengatakan bahwa pembangunan Awololong itu besarannya tidak memenuhi syarat untuk wajib Amdal.

Selain itu, lanjut Dominikus, salah satu syarat UPL/ UKL adalah Surat Keputusan dari Kementrian. "Surat itu perlu ditunjukan kepada publik. Jika tidak ditunjukan maka saya menduga ada sesuatu yang tidak beres," tambahnya.

Di lain pihak, Emanuel Boli menjelaskan progres perjuangan masyarakat, mahasiswa dan pemuda Lembata yang telah melakukan gerakan penolakan terhadap rencana pembangunan di Pulau Siput Awololong atas kesadaran kolektif hingga saat ini. Ia juga membeberkan sejumlah data, fakta, dan kajian hukum sebagai landasan dan kekuatan untuk menolak rencana pembangunan jeti, kolam apung, restoran apung, pusat kuliner, dan fasilitas lainnya di Awololong.

Kepada PERMATA Kupang, kata dia, bahwa Awololong juga telah mendapat perhatian dari lembaga penegak hukum KPK dan POLDA NTT. Harapnya, pihak penegak hukum harus mengusut tuntas kasus Awololong demi tegakknya asas kepastian hukum.

Sementara itu, Ketua Umum PERMATA Kupang periode 2019/2020, Damasus Lodolaleng menegaskan, Pemda Lembata harus menghentikan rencana pembangunan yang menuai banyak penolakan dari kalangan masyarakat, pemuda, dan mahasiswa Lembata. Pasalnya, pada 12 November 2019,  masa adendum kedua proyek tersebut akan
berakhir. Sehingga proyek ini harus dikenai denda sesuai aturan yang berlaku.

"Apabila kasus ini akan diproses lebih lanjut ke ranah hukum, PERMATA Kupang mendukung penuh penegak hukum untuk menindak pihak-pihak terkait untik bertanggung jawab atas dugaan tindak pidana korupsi dalam proyek tersebut" ujar Wakil Gerakan Masyarakat PMKRI Cabang Kupang ini.

Lodolaleng juga menyesalkan kebijakan Pemda Lembata di bawah kepemimpinan Bupati Yance Sunur. Menurutnya, masyarakat Lembata saat ini tidak membutuhkan jeti, kolam apung, restoran apung, dan pusat kuliner di Awololong melainkan aspal jalan, listrik, air, BBM yang memadai yang
merupakan kebutuhan utama masyarakat.

"PERMATA Kupang akan terus mengontrol dan mengeritisi kebijakan Pemda Lembata yang tidak pro rakyat. Apabila Pemda Lembata tetap saja melanjutkan pembangunan di Awololong maka PERMATA Kupang akan melakukan demonstrasi," tutup putra daerah Lembata asal Buyasuri ini. (AM)

Related Posts:

Si Burung Merak dan Puisi Terakhir


Manusia memang ditakdirkan untuk meninggal pada suatu waktu, tetapi tidak akan pernah mati jika ada karya yang ditinggalkan. Demikian hidup bertumbuh di atas kematian, namun kematian selalu menyisakan kenang. Adanya kematian oleh sebab adanya kehidupan. Sebagaimana awal mula manusia diciptakan dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu.
Kita punya banyak cara untuk mengenang, siapa atau apa saja, yang masih ada atau yang telah tiada. Catatan ini tidak sebatas kenang, tapi juga apresiasi, baginya dan juga bagi Anda yang masih sempat mengenang walau sebatas doa di hati, di puisi, di panggung dan di wujud-wujud apresiasi lainnya.
W. S. Rendra (Foto: Istimewa)

Tentang Si Burung Merak, tentunya masih hangat dalam benak kita akan Budayawan, Seniman, Sastrawan legendaris yang membongkar eksklusifnya dunia sastra. Ialah Willibrordus Surendra Broto Rendra (W.S. Rendra), almarhum. Rendra lahir di Solo pada tanggal 7 November 1935 dan meninggal dunia pada tanggal 6 Agustus 2009 dalam usia 73 tahun.

Karya-karya Rendra berupa puisi, cerpen, esai sastra, skenario drama dan juga mendirikan Bengkel Teater. Beberapa karya yang pernah digelar adalah Oedipus the King, Antigone, Lysistrata, dan lain-lain. Semua disajikan dalam ramu yang berakar pada Bertold Brecht (Penyair dan penulis naskah drama asal Jerman). Brecht adalah salah satu tokoh yang menentang kekuasaan Nazi, terutama ideologinya.

Sebagaimana Brecht, Rendra pun melakukan gerakan yang sama dengan menyajikan masalah-masalah sosial dan politik (melawan kesewenang-wenangan pemerintah Orde Baru). Itu sebabnya, Rendra dalam beberapa karyanya, seperti Perjuangan Suku Naga, Panembahan Reso mendapat tekanan dari pemerintah karena dianggap melawan.

Si Burung Merak sendiri adalah julukan yang diberikan oleh seorang sahabatnya asal Australia ketika Rendra mengajaknya jalan-jalan ke Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta. Di tengah khusyuk mengamati binatang-binatang yang dikandangkan, tibalah mereka di kandang burung merak. Saat itu ada tiga merak jantan mengembangkan ekornya. Ada keindahan yang ditawarkan dan mereka benar-benar menikmatinya.

“Itu (burung merak) saya!” kata Rendra kepada sobatnya yang menanyakan (dalam nada canda) alasan diajak ke sana. Seketika sobatnya mengiyakan sekaligus merestui kalau “keindahan” dari burung merak sangat cocok untuk Rendra. Sejak saat itu (sekitar tahun 1968), Si Burung Merak disematkan dan menyebar dimana-mana, terutama bagi para pegiat dan penikmat sastra.
Geliatnya dalam dunia seni khususnya sastra telah membawa suatu perubahan besar dalam khazanah sastra Indonesia dan tentunya dunia. Sebab dalam beberapa periode hingga saat ini, sebagian orang masih menjadikan sastra sebagai dunia yang terlampau eksklusif.
Ada asumsi bahwa dunia sastra hanya dihuni oleh orang-orang sastra (para pegiat). Hal ini pun yang menjadi sumber kegelisahan bagi Mario Vergas LIora (Novelis dan Politikus asal Peru, Peraih Nobel Sastra tahun 2010). Mario menandaskan bahwa dewasa ini sastra dibutuhkan hanya sebagai produk konsumsi, hiburan semata-mata, dan sumber informasi yang cepat basi. Menjawabi kegelisahan Mario Vergas, jauh sebelum itu W.S. Rendra adalah salah satu tokoh yang mengembalikan sastra ke dunianya.

Ia kembali mendekatkan sastra kepada masyarakat melalui karya-karyanya. Sebagai contoh, tampilan puisinya berbeda dengan puisi-puisi konvensional yang cenderung kaku dan sulit dipahami oleh sebagian besar masyarakat. Tanpa harus berkerut kening, sedikitnya pembaca sudah bisa memaknai image yang hendak disampaikan.
Kecenderungan Rendra menulis puisi naratif dan panjang menggambarkan ‘perlawanan’ dalam berbagai wujud. Selain itu, puisi-puisinya memang lahir sebagai suara rakyat. Rendra dalam sebagian besar karyanya menjadikan situasi rakyat sebagai image yang paling intim.

Melalui motivasi dan intensi di dalam karya-karyanya, hemat saya Rendra adalah sosok penyelamat dan sempurna’ (dalam ide). Entah kebetulan atau tidak, kelahirannya di tanggal 7 menyisakan makna yang mendalam. Angka 7 dalam berbagai mitos ataupun ajaran-ajaran agama merujuk pada keberuntungan, kesempurnaan, keselamatan, dan lain sebagainya.

Salah satu dari sekian banyak makna yang tersembunyi dalam angka 7 ialah keyakinan bahwa Sang Budha (Sidharta Gautama) ketika lahir menapaki 7 langkah. Sang Budha mencari keselamatan selama 7 tahun dan mengitari pohon bodhi selama 7 kali sebelum akhirnya duduk, khusyuk bermeditasi.

Tidak bermaksud untuk membuat perbandingan, tetapi Rendra sebagai Sastrawan (Penyair) yang lahir di tanggal 7 telah ditakdirkan semesta’. Ketahuilah bahwa Penyair ketika menulis puisi ia seperti bermeditasi, setingkat di atasnya ialah kontemplasi.

Dalam berbagai pernyataan kita menjumpai istilah ‘kontemplasi puisi’. Sebab pada dasarnya, Penyair menulis puisi melalui permenungan mendalam setelah menentukan ide atau citraan. Penyair masuk ke dalam dunia sunyi dan bergumul dengan kata-kata. Seperti rahim imaji yang ‘dibuahi’ dan lahirlah puisi.

Itu sedikit, sedikit tentang Sang Maestro. Ia telah lahir untuk ‘menyelamatkan’ rakyat dari kesewenang-wenangan dan juga menyelamatkan puisi dari para elit sastra. Semua diramu di dalam karya-karyanya yang mempesona, seperti merak mengembangkan ekornya.

Semua kita tentu sudah pernah atau saat ini tengah membaca karya-karya Sang Maestro. Baiklah, di akhir tulisan ini saya melampirkan salah satu puisi W. S. Rendra. Adalah puisi terakhir yang ditulisnya tanpa judul:

Aku lemas
Tapi berdaya
Aku tidak sambat rasa sakit
atau gatal

Aku pengin makan tajin
Aku tidak pernah sesak nafas
Tapi tubuhku tidak memuaskan
untuk posisi yang ideal dan wajar

aku pengin membersihkan tubuhku
dari racun kimiawi

Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian
kepada Allah

Tuhan, aku cinta padamu

Rendra, 31 Juli 2009
***

Ekafalo, 7 November 2018
Herman Efriyanto Tanouf

Sumber:
Kompas.com (07/08/2009). Asal Muasal Julukan “Si Burung Merak”. Diakses 07 Nov. 2018. Pukul 14:00 Wita.
Merdeka.com. Profil Wilibrodus Surendra Broto. Diakses 07 Nov. 2018/ Pukul 14:15 Wita.

Related Posts:

Menilik Eksploitasi Lingkungan di Bumi Nusa Lontar


Oleh: Yuvensius Stefanus Nonga*

Menurut Undang-Undang Lingkungan Hidup Nomor 23 Tahun 1997 Pasal 1 yang kemudian disempurnakan oleh Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup (PPLH), keduanya mendefinisikan pengertian lingkungan hidup sebagai kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Hal ini didasari pada adanya keterikatan antara manusia dan lingkungan hidup, sehingga keberlanjutan lingkungan sangat dipengaruhi oleh mainset dalam merencanakan pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan.

Pengertian lingkungan hidup dalam UU PPLH kemudian diperjelas lagi dengan pasal tentang pengendalian lingkungan hidup sebagai berikut: "Pengedalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup dilaksanakan dalam rangka pelestarian fungsi lingkungan hidup. Pengedalian pecemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup ini terdiri dari 3 hal yaitu : pencegahan, penanggulangan dan pemulihan lingkungan hidup dengan menerapkan berbagai instrument-instrument yaitu: Kajian lingkungan hidup strategis (KLHS); Tata ruang; Baku mutu lingkungan hidup; Kreteria baku mutu kerusakan lingkungan hidup; Amdal; UKL-UPL; perizinan; instrument ekonomi lingkungan hidup; peraturan perundang-undangan berbasis lingkungan hidup; anggaran berbasis lingkungan hidup; Analisis resiko lingkungan hidup; audit lingkungan hidup, dan instrument lain sesuai dengan kebutuhan dan/atau perkembangan ilmu pengetahuan."

Skema pencegahan, penanggulangan dan pemulihan lingkungan hidup dalam realitanya seringkali bertolakbelakang dengan fakta di Lapangan. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini dikepung dengan kebijakan-kebijakan pengelolaan lingkungan yang berujung pada eksploitasi lingkungan tanpa diikuti dengan upaya pemulihan lingkungan hidup. Permasalahan lingkungan sangat bervariasi mulai dari hutan, komoditas sumber daya air, sampah, kerusakan pesisir, daya dukung alam, dan Perubahan Iklim.

Perambahan hutan di NTT terjadi akibat alih fungsi kawasan, yang mana sebelumnya merupakan kawasan hutan lindung dialihkan menjadi kawasan pertambangan. Data ESDM per 30 april 2018 tercatat 226.983,23 Ha kawasan hutan lindung di NTT yang dialihfungsikan menjadi kawasan pertambangan. Hal ini akan berdampak pada hilangnya ekosistem hutan serta perambahan wilayah hulu yang juga akan berdampak pada ketersediaan air di NTT serta berdampak pada perubahan iklim.

Pengelolaan wilayah pesisir di NTT juga turut menyimpan cerita ekploitasi lingkungan dalam kebijakan pemerintah yang katanya demi mensejahterakan masyarakat NTT. Wilayah Pesisir terutama pada wilayah sepadan pantai seringkali dimanfaatkan tidak sesuai dengan dua tujuan utama penetapan wilayah sepadan pantai yakni untuk kepentingan konservasi dan akses publik.
Pembabatan hutan mangrove di Desa Pariti, Sulamu, Kabupaten Kupang, untuk pembukaan jalan. (Foto: WALHI NTT/ Dom Karangora)

Berdasarkan hasil Audit dari Kementerian ATR/BPN  tahun 2019 ditemukan 47 pelanggaran pemanfaatan ruang oleh pemerintah Kota Kupang termasuk yang ada di kawasan pesisir pantai Pasir Panjang. Pengelolaan wilayah pesisir yang menempatkan kekuatan investor dalam mengeksploitasi dan memprivatisasi keindahan wilayah pesisir berujung pada hilangnya ruang-ruang konservasi dan terbatasnya akses masyarakat ke pesisir. Hal yang sama juga terjadi di sebagian wilayah Sumba dan Pulau Flores.
Cerita Eksploitasi Lingkungan juga nyaris tak terdengar dari permasalahan sampah di NTT. Seringkali solusi dari penanganan sampah di NTT lebih terpusat pada sisi hilir yakni dengan slogan jangan membuang sampah sembarangan”. Satu hal yang dilupakan dalam penanganan sampah di NTT adalah menggali akar permasalahan sampah.
Dalam catatan advokasi WALHI NTT, siklus peredaran sampah di NTT didahului dari eksploitasi lingkungan kemudian pada tahapan produksi dilanjutkan distribusi dan tahapan terakhir Konsumsi. Oleh karena itu, solusi untuk menekan angka produksi sampah plastik adalah dengan kebijakan-kebijakan pengurangan eksploitasi lingkungan, pembatasan distribusi plastik yang masuk ke NTT, diikuti dengan solusi pada sisi hilir terkait pengelolaan sampah plastik dan kampanye-kampanye penolakan penggunaan plastik.

Memperingati hari peringatan sedunia untuk mencegah eksploitasi lingkungan dalam perang dan konflik bersenjata setiap tanggal 6 November, maka perlu dicatat beberapa hal:

Bahwa perang masa depan adalah perang memperebutkan Sumber Daya Alam, memperbutkan air, ruang-ruang hidup, sumber daya hutan, laut, bahkah oksigen akan menjadi langkah ketika laju eksploitasi lingkungan tidak dibendung sejak dini. Terkait dengan upaya-upaya pencegahan, penanggulangan dan pemulihan lingkungan hidup tidak terbatas dengan menerapkan berbagai instrument-instrument lingkungan di atas, namun wajib dikawal sampai pada tahapan pemulihan lingkungan dan pembuatan peraturan daerah terkait pembatasan eksploitasi lingkungan.

*Yuvensius Stefanus Nonga, Deputi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Nusa Tenggara Timur

Related Posts: