LekoNTT.com: Membaca Dahulu, Berkomentar Kemudian
Pulang | Puisi-Puisi Ricky Ulu - LekoNTT

Pulang | Puisi-Puisi Ricky Ulu

setelah nelci

anak-anak tetap berjalan
ke sekolah dengan mimpi
yang seragam, menenangkan

seekor anjing dalam kepala
:menjadi orang tua yang serius.

senin tetap ada, dunia tetap
berputar dalam irama tebe

di bawah mata Tuhan
yang nanar menerjemahkan

berapa air mata
untuk membayar
sebuah kepulangan.

setelah nelci, semuanya
baik-baik saja, sepertinya


Gambar: Pixabay


Pulang 2

1.
pagi yang kuning, daun jati
dan asap di jalan

2.
jauh di bawah sana, laut
kudengar dari matamu,
sepasang camar, lampara
tak lain rinduku yang selalu
tahu harus berlabuh di mana

3.
Adakah yang lebih sakit
dari setiap kepulangan yang
selalu dibaca kepergian?

4.
Untuk menampung pulangmu
Tuhan rela menjadi peluk
mahalapang di depan pintu :hatiku

5.
Puisi akan memadamkan
arah ketika pulang
selalu berarti namamu



Dalam Warung

Kota ini menciptakan
Tuhan dari semangkok
bakso ketika hujan

kehilangan basahnya. lembap
ciummu menjadi jalan raya
yang memanjang sampai

hari itu, kita menghitung
jumlah penumpang yang tertinggal
di terminal padahal ada janji

pulang dan menghabiskan
segelas teh di beranda
puisi. Hanya kita
yang tertinggal saat itu, sayang.
kau tertinggal di bibirku
dan aku hanyalah kekalahan

di semua puisi-puisi
ini. Tuhan adalah mangkok
bakso kesukaanmu

ketika sekali lagi
ciummu kurasa di ujung
bibirku
yang dingin.


Ricky Ulu lahir di Dili, 27 Juli 1993. Bergiat di Komunitas Leko Kupang dan Rumah Estribi Atambua.

Related Posts:

0 Response to "Pulang | Puisi-Puisi Ricky Ulu"

Posting Komentar