LekoNTT.com: Membaca Dahulu, Berkomentar Kemudian
Penipuan Online Modus Hadiah Marak di NTT, Begini Kata Pakar Psikologi - LekoNTT

Penipuan Online Modus Hadiah Marak di NTT, Begini Kata Pakar Psikologi

Kupang, LekoNTT.com – Magdalena, bukan nama sebenarnya, adalah seorang staf pengajar di salah satu sekolah di Atambua. Pada bulan Februari 2019, melalui facebook, Magdalena berkenalan dengan Van, seorang pria dari Spanyol. Dari facebook, hubungan mereka berlanjut ke whatsapp. Magdalena mengaku Van sangat sopan dan memperlakukannya dengan baik.

Pada tanggal 12 Mei 2019, Van mengirimkan pesan bahwa ia akan mengirimkan hadiah untuk Magdalena. Ia mengirimkan foto perhiasan, tas, sepatu, dan sejumlah uang. Barang-barang tersebut ia bungkus di dalam paket dan siap untuk dikirimkan.

Ilustrasi Penipuan Online. Foto: Istimewa.
Tanggal 17 Mei 2019, ada pesan untuk Magdalena, mengatasnamakan agen ekspedisi di Jakarta. Agen ekspedisi tersebut meminta Magdalena untuk melakukan pembayaran atas paket yang tiba dari Spanyol. Tak lupa mereka melampirkan foto paket yang sama dengan paket yang dikirimkan oleh Van. Magdalena melakukan konfirmasi ke Van, dan Van mengatakan bahwa itu adalah paket yang ia kirim. Ia minta maaf tidak bisa membayar ongkos bea cukai, biaya angkut dan biaya lain-lain di Jakarta.

Hari itu juga, Magdalena meminjam uang di koperasi sebesar enam juta rupiah dan mengirimkannya kepada nomor rekening milik ekspedisi.

“Awalnya saya agak ragu kepada pihak ekspedisi, tetapi saya sangat percaya kepada Van,” demikian Maria menjelaskan.

Namun hingga Sabtu (29/6/2019), paket tersebut tidak pernah sampai. Nomor agen ekspedisi itu tidak bisa dihubungi lagi, begitu juga dengan Van. Pria sopan yang memperlakukan Magdalena dengan baik itu menghilang bagai ditelan angin.

Hal serupa juga dialami oleh Suster Sinta (bukan nama sebenarnya) di Kupang. Suster Sinta adalah seorang pengelola yayasan. Pada bulan Februari 2019, Suster Sinta berkenalan dengan seorang pria. Pria tersebut mengaku berasal dari Perancis. Mengetahui bahwa Suster Sinta mengelola yayasan sosial, pria itu mengaku ingin mengirimkan bantuan dan beberapa hadiah lain untuk suster. Untuk mengambilnya, suster harus melakukan pembayaran. Tanpa curiga, suster melakukan transfer. Sesudah transfer, barang-barang itu pun tidak pernah sampai, dan sang penderma tidak bisa dihubungi lagi.


Pelajari Korban Lewat Postingan Media Sosial

Menanggapi hal tersebut, Ketua Program Studi Psikologi FKM Universitas Nusa Cendana, Abdi Keraf S.Psi, M.Si mengatakan, hadiah adalah sesuatu yang menggembirakan dan mendatangkan gairah hidup, karenanya sering menjadi modus penipuan.

“Manusia cenderung sangat senang dan tidak berpikir panjang lagi jika mendengar akan menerima hadiah. Pada kondisi itu cukup rentan untuk ditipu,” katanya.
Abdy Keraf, S.Psi, M.Psi, Ketua Program Studi Psikologi UNDANA Kupang. Foto: Jurnal Timur.
Berbeda dengan penipuan online bermodus menang undian, penipuan dengan modus hadiah seperti kasus yang menimpa Magdalena dan Suster Sinta, diawali dengan komunikasi yang baik, di mana pelaku membangun hubungan emosional dan kepercayaan dengan korban beberapa bulan sebelumnya.

“Dalam beberapa kasus, penipu memang tidak mengenal korban. Tetapi dia bisa mempelajari kepribadian dan kehidupan korban lewat postingan di media sosial. Apalagi jika dia ajak kenalan, dia bangun kepercayaan, hubungan emosional. Zaman sekarang lewat media sosial saja orang bisa saling percaya, saling sayang,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, hal-hal seperti ini biasanya tidak hanya terjadi pada kasus penipuan online. Modus yang sama bisa juga kita temukan pada kasus perdagangan manusia.

“Kalau kamu lagi tidak punya kerja, di kampung, nganggur, lalu ada yang datang, lalu ajak ke Malaysia dengan iming-iming hadiah, uang, pekerjaan dan lain-lain, ya tentu kamu mulai pikir-pikir untuk berangkat, meski tanpa prosedur yang jelas,” katanya.

Abdi Keraf berharap masyarakat menyeleksi setiap informasi yang masuk dan mengecek lagi jika diminta melakukan sesuatu dengan iming-iming hadiah.

Related Posts:

0 Response to "Penipuan Online Modus Hadiah Marak di NTT, Begini Kata Pakar Psikologi "

Posting Komentar