LekoNTT.com: Membaca Dahulu, Berkomentar Kemudian
From Kupang To Queensland, Pulang Mau Bikin Apa? - LekoNTT

From Kupang To Queensland, Pulang Mau Bikin Apa?


Queensland-Australia, LekoNTT.com - Orang muda Nusa Tenggara Timur (NTT) juga memiliki potensi. Keterbatasan fasilitas dan beragam persoalan-persoalan yang melingkupi wajah NTT saat ini, bukanlah suatu tantangan. Keberanian gubernur dan wakil gubernur NTT, Viktor Laiskodat dan Josef Nae Soi, yang ingin memajukan sumber daya manusia melalui program beasiswa studi keluar, baik dalam maupun luar negeri merupakan gebrakan baru yang patut diacungkan jempol.

Sebelumnya, pada tanggal 20 Juni 2019, Leko NTT pernah memuat berita tentang 25 peserta yang lolos seleksi dan siap dikirim mengikuti Studi Vokasi Pariwisata di Griffith University-Queensland, Australia. Pada hari ini, 10 Oktober 2019, telah genap satu bulan seminggu, 25 peserta Vokasi Pariwisata ini berada Queensland, Australia. Selama itu pula, mereka mendapat kesempatan belajar Sustainability Tourism dan Hospitality sebagaimana telah dijadwalkan atas kerja sama Pemerintah NTT, Universitas Nusa Cendana Kupang dan Griffith University.
Peserta Pendidikan Vokasi Pariwisata asal NTT usai presentasi project bersama Tim Penguji

Lima minggu berada di Queensland, 25 peserta ini diajak melihat, bagaimana 
pengembangan pariwisata melaju pesat di daerah ini. Setiap kunjungan selama studi, para peserta diminta memberikan nilai dan tentu berkespektasi apa yang menjadi menarik pada sebuah destinasi atau spot wisata. Adapun peserta diminta mengadopsi hal positif yang relevan  dan dekat dengan pemenuhan pariwisata NTT saat ini.

Fakultas Pariwisata Universitas Griffith merupakan urutan kedua terbaik dunia. Tentu inilah alasan pemerintah NTT mengirimkan putera-puteri terbaik untuk belajar lebih jauh tentang kepariwisataan dalam mewujudkan NTT sejahtera, yang mana pariwisata berdiri sebagai salah satu motor penggerak ekonomi. Apa yang didapat di Griffith diharapkan mampu diaplikasikan di NTT setelah pulang nanti. 
Suasana presentasi project

Apa yang mau dibuat?

Hari ini, 25 peserta tersebut tampil di depan penguji dari Griffith University. Mereka mempresentasikan ide-ide yang terangkum dalam project kelompok untuk diaplikasikan.

Ke-25 peserta ini terbagi dalam delapan kelompok besar dengan spesifikasi ide. Lima kelompok mengangkat tema paket wisata termasuk pemberdayaan desa wisata dan penyediaan informasi melalui websitte, dua kelompok mempromosikan pariwisata dan kebudayaan melalui literasi (buku dan film dokumenter) dan satu kelompok lainnya bergerak pada bidang kuliner lokal.

“Saya merasa ini suatu presentasi yang menarik, yang ditampilkan oleh orang-orang muda NTT. Ada banyak hal dan ide-ide gila yang tidak sempat kami pikirkan di sini bagi pengembangan pariwisata,” ungkap Prof. Helen, seorang penguji usai presentasi.
Prof. Sharm dan Prof. Helena Bule berdiskusi dengan salah satu peserta Pendidikan Vokasi Pariwisata

Michael Winardi, Kandidat Doktor Bidang Pariwisata Griffith University, asal Indonesia mengapresiasi usaha pemerintah NTT dalam pengembangan pariwisata melalui beasiswa vokasi ini. Michael juga meminta peserta vokasi yang telah dikirim agar dapat menjadi role model bagi orang muda lain di NTT, sehingga tergerak bersama untuk membangun pariwisata.

Sementara itu, Petrus Axsellino Silli yang mewakili ke 25 peserta, mengapresiasi dukungan baik secara material dan non material kepada Griffith University, Undana dan Pemerintah Provinsi NTT. Axcel mengemukakan kesan mendalam selama belajar pariwisata di Griffith.
Petrus Axsellino Silli

“Apa yang sudah kami dapat di sini, sangat perlu diaplikasikan di NTT sesuai konteks. Pariwisata di sini, tetaplah di sini yang punya dan tidak semua harus dibawa untuk diterapkan. Namun bahwa kita sulit menyamakan persepsi dengan berbagai macam alasan yang terjebak dalam kebijakan-kebijakan serta minimnya infrasktuktur bagi pengembangan pariwisata kita saat ini."

Menurut Axsel, pariwisata lahir karena sebuah alasan. Jika NTT dan manusianya memiliki toleransi yang baik di mata dunia, kenapa tidak dijadikan alasan untuk menarik wisatawan? “Untuk menangkap kupu-kupu, kita tidak perlu memakai pukat. Cukuplah menjadi bunga. Dengan sendirinya, kupu-kupu akan datang. That is how tourism work. So let us be well flowers for tourism,” ungkap Axcel.

Hadir sebagi penguji pada presentasi project akhir peserta vokasi pariwisata, Prof. Alexandra Coghlan, Prof. Hellen Bule, Prof. Sharm Aboosally, Dr. Sera Vada, Dr. Maria Lobo utusan dari Undana, dan kandidat Doktor Michael Winardi. Presentasi berjalan baik. Semoga semuanya baik-baik saja. 

Penulis: Irenius Alupan dan Santy Edo
Foto: Surya Fahik

Baca juga tulisan menarik lainnya tentang situasi para peserta Pendidikan Vokasi Pariwisata di Queensland, Australia

Related Posts:

0 Response to "From Kupang To Queensland, Pulang Mau Bikin Apa?"

Posting Komentar