LekoNTT.com: Membaca Dahulu, Berkomentar Kemudian
Pertanggungjawaban Dewan Juri Lomba Foto Pelayanan Publik Komunitas Leko - Leko NTT

Pertanggungjawaban Dewan Juri Lomba Foto Pelayanan Publik Komunitas Leko

Pencarian dan Pemaknaan Bentuk

Yang terhormat  publik dan komunitas-komunitas kehidupan di kota Kupang, khususnya para sahabat dan pegiat seni, para seniman dan pemerhati kebudayaan yang secara khusus telah meluangkan waktu untuk ikut serta dalam kegiatan lomba foto ini; dan secara umum para sahabat, saudara sekalian, yang di tengah kesibukannya memamah kehidupan masih mau meluangkan waktu dan perhatian atas kegiatan yang sederhana ini.

Tugas penjurian ini kami lakukan dalam beberapa hari. Latar belakang kami berbeda-beda. Stevy Wulandari Los adalah seorang penyiar radio, Armin Septiexan adalah fotografer profesional dan Armando adalah tukang gambar yang bekerja sebagai guru untuk menyambung hidup. Tentu saja latar belakang ini memengaruhi kami dalam melihat karya dan secara berbeda kami akan bicara soal pelayanan publik.

Secara total, ada dua puluh tiga peserta yang mengikuti lomba, dan jumlah karya seluruhnya adalah empat puluh sembilan foto.

Seorang pembuat komik, Harvey Peckar dalam karyanya American Splendour berkata: “Apa artinya keberadaan? Apakah kita hanya berarti saat kita menjadi cerita? Tokoh utama? Dan saat cerita usai, ke mana kita pergi?”

Apa artinya diri kita dalam pusaran hubungan sosial ini? Publik yang sebenarnya itu mewakili siapa? Seberapa jauh individu bisa menyala-nyala dalam sebuah kelompok? Seberapa mampu sebuah kelompok bergerak menuju apa yang disebut keadilan atau yang paling menakutkan: Kebenaran? Apakah mungkin setiap individu dapat utuh berbahagia? Tanpa ada lagi ketaksamarataan dan kemalingan?

Pada kenyataannya di luar sana kota menghampiri setiap penduduknya, hidup berdenyut dengan satu nama yang tak bisa disangkal: uang dan kekuasaan. Demi hal itu kita semua dapat bersaksi bagaimana ketidakadilan dapat hadir. Sementara jauh di dalam diri, kita pahami bahwa sudah sebaiknya kita dapat selalu mampu menjawab tuntutan untuk menjadi “adil sejak di alam pemikiran”.

Mungkin kami sedang meracau. Tapi paling tidak, itulah yang kami dapatkan dari proses menjadi juri ini. Bahwa kita diberi ruang oleh seni untuk bisa memaknai apa yang kita sebut kehidupan.

Pemaknaan adalah proses melukai. Ada yang diakui, ada yang tak diberi peduli. Seperti yang kami lakukan saat melihat dan memilih karya-karya ini. Percayalah, pada takaran tertentu, kamilah yang terluka. Seni membuat makna-makna lahir dari luka-luka dan untuk kemudian tumbuh menjadi bentuk-bentuk bahasa baru, di mana harapan akan ikut hadir, dan keadilan mungkin untuk ditanami dan dituai. Ya, kenapa tidak?

Dari 49 karya kami memilih 20 buah yang lolos seleksi dari standar-standar yang kami terapkan (keberadaan narasi, dan aspek-aspek estetika). Kemudian kami memilih 10 karya yang lebih baik dalam kelompok 20 itu (salah satu alasannya adalah untuk keperluan pemajangan  di acara pameran foto Kencan Buku Fes II). Akhirnya, dari 10 karya itu kami menentukan 3 karya yang paling baik. Tiga karya itu adalah WC Umum oleh Henny Lada, Mesin Tik oleh Ifana Tungga, dan Jembatan Darurat di Desa Balaweling I oleh Wanthy Hayon.

Demikian, sudilah kawan-kawan sekalian menerima pertanggung jawaban ini yang kami akui lebih mirip kumpulan pertanyaan. Salam, dan semoga keadilan tidak menjauhi kita.        


Kupang, 31 Agustus 2019

Dewan Juri

Armando Soriano
Stevy Wulandari Los
Armin Septiexan

Related Posts:

1 Response to "Pertanggungjawaban Dewan Juri Lomba Foto Pelayanan Publik Komunitas Leko"

  1. Terima kasih. Kebiasaan baik ini, yakni menyampaikan pertanggungjawaban penjurian, harus dilakukan oleh semua penyelenggara lomba. Di NTT. Penting!

    BalasHapus