LekoNTT.com: Membaca Dahulu, Berkomentar Kemudian | Baca Buku Apa Hari ini? | Cegah Covid-19, Patuhi Protokol Kesehatan
Umat Stasi Ekafalo Bikin Suasana Perayaan Minggu Palem Jadi Unik di Tengah Waspada Corona - LekoNTT.com

Umat Stasi Ekafalo Bikin Suasana Perayaan Minggu Palem Jadi Unik di Tengah Waspada Corona

Insana, LekoNTT.com - Penyebaran virus Corona atau Covid-19 turut mempengaruhi berbagai aktivitas manusia. Pekerjaan, perkumpulan dalam segala bentuknya, bahkan perayaan keagamaan turut dibatasi. Orang-orang tidak dianjurkan untuk berkumpul ataupun pergi ke tempat-tempat yang dapat mempertemukan seseorang dengan banyak orang.

Menyikapi penyebaran virus Corona yang makin tak terkendalikan ini, pemerintah Indonesia pada 15 Maret 2020 menerapkan social distancing ataupun physical distancing. Pemerintah Indonesia sendiri bahkan sudah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang  Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang merupakan turunan dari Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.
Adanya PSBB yang diteken Presiden Jokowi pada 31 Maret 2020 sebagai respon terhadap kedaruratan kesehatan masyarakat. Sekolah-sekolah, tempat kerja bahkan aktivitas keagamaan turut 'diliburkan' (beraktivitas di dan dari rumah saja).
Para pimpinan agama di Indonesia merespon kebijakan pemerintah dengan mengimbau umat untuk melangsungkan ibadah ataupun perayaan keagamaan secara online atau dari rumah saja. Di Nusa Tenggara Timur (NTT), para pemimpin Gereja pun mengimbau para umat untuk mengindahkan physical distancing, berdoa/ beribadah dari rumah saja.

Pada 26 Maret 2020, Keuskupan Atambua, NTT, telah mengeluarkan imbauan bernomor: Prot. Nomor 75/ 2020 tentang Petunjuk Praktis Pastoral  Perayaan Liturgi. Perayaan selama masa Prapaskah, Paskah, hingga Minggu-Minggu dalam masa Paskah dilakukan dari rumah, baik melalui misa online maupun panduan ibadah sabda yang telah disebarkan melalui media sosial.

Perayaan Minggu Palem bagi umat Katolik di Keuskupan Atambua pun telah diimbau pelaksanaannya dalam surat tersebut. Menyikapi imbauan itu, sebagian besar umat di kota dan kampung-kampung merasa sedih karena semua perayaan di tahun ini, tidak dilangsungkan di Gereja Paroki dan atau Kapela Stasi. Sebagian, merasa kehilangan momen untuk ada bersama Tuhan di dalam Gereja/ Kapela (fisik). Tetapi hal itu tidak mematahkan semangat umat untuk menciptakan situasi agar perayaan keagamaan benar-benar dirasakan secara batiniah.

Di Paroki Santa Maria Pengantara Segala Rahmat Kiupukan, Insana, TTU, membuktikan spirit dimaksud. Di Stasi Ekafalo, misalnya. Umat yang dikoordinir sekelompok orang muda melalui media sosial (Facebook), berinisiatif untuk merayakan Minggu Palem dengan membuat umbul-umbul dari daun palem.
Umbul-umbul palem di Jalan Trans Timor, Stasi Ekafalo, Insana, TTU. (Foto: Leko NTT)









Yosef Sila Tahoni, salah satu tokoh pemuda di Ekafalo kepada Leko NTT mengatakan, merayakan Minggu Palem di rumah, tidak kalah hikmah dengan perayaan di Gereja. Gereja kecil ada di rumah, kebijakan social/ physical distancing memberikan makna positif untuk seisi keluarga, sebagai dasar berdirinya Gereja untuk kembali berbenah.

"Gereja ada di dalam rumah kita. Umat Kapela Ekafalo menyadari sungguh hal ini, makanya umat tergerak untuk memasang umbul-umbul palma sebagai simbol bahwa tidak ke Gereja, tidak berarti tidak merayakan Minggu Palma. Dan ini akan terbawa suasana sampai dan selama Tri Hari Suci," ungkap Yosef.
Anak-anak turut ambil bagian dalam membuat umbul-umbul palem. (Foto: Yos Sila)


Di lain pihak, Pastor Paroki Kiupukan Romo Donatus Tefa, Pr, ketika dikonfirmasi melalui kontak seluler pada Sabtu (4/4) mengatakan, ia telah mendapat laporan dari umat setempat. Tidak hanya umat di Ekafalo, tetapi beberapa tempat lain di dalam wilayah pelayanan pastoral Paroki Kiupukan. Ia juga mengatakan bahwa aksi tersebut, murni inisiatif dari umat, bukan kebijakan pastoral Paroki Kiupukan.

"Saya tidak suruh mereka, tapi umat sendiri yang pasang (umbul-umbul palem, red) untuk mengenang kembali suasana perayaan Minggu Palem, karena tidak ada misa di Kapela, hanya misa di pusat Paroki tanpa umat," ungkap Romo Donatus.

Lebih lanjut ia mengatakan, adanya umbul-umbul palem di depan rumah, di pinggir jalan, tidak dilarang. Aksi tersebut merupakan ekspresi kerinduan umat Katolik terhadap suasana Minggu Palem. "Kalau umat pasang daun palma di situ, tidak apa-apa. Itu tanda bahwa umat juga merayakan atau ambil bagian dalam perayaan Minggu Palma".

Romo Donatus juga mengimbau agar umat bisa mengikuti misa online atau ibadah sabda sesuai panduan yang telah dikeluarkan pihak Keuskupan Atambua. Ia pun berharap agar umat Katolik di Paroki Kiupukan mengindahkan instruksi pemerintah dan imbauan Keuskupan.

"Kita jaga keamanan dan keselamatan agar virus ini tidak menyebar lagi. Apa yang sudah disampaikan pemerintah, Keuskupan, kita sebagai umat dan para Pastor harus taat. Kami (para Pastor, red) mencintai umat, makanya jaga jarak, kita tidak boleh berkumpul, tidak melakukan kontak fisik dengan orang lain, dan tetap tinggal di rumah". (het)

Related Posts:

0 Response to "Umat Stasi Ekafalo Bikin Suasana Perayaan Minggu Palem Jadi Unik di Tengah Waspada Corona"

Posting Komentar

Translate

Populer Dalam Minggu Ini