LekoNTT.com: Membaca Dahulu, Berkomentar Kemudian | Baca Buku Apa Hari ini? | Cegah Covid-19, Patuhi Protokol Kesehatan
Musim Tanam - LekoNTT.com

Musim Tanam

Hujan tidak patuh padamu bukan? Karena kau pernah membiarkan dia sendirian.  Dan-kelak-ia akan pulang padamu dengan tata cara yang lain. Siapa tahu, ia akan datang dalam rupa 'sikat gigi' tetapi kamu tidak punya air untuk berkumur.
(Ishack Sonlay)


Saya tiba di rumah pada suatu sore, saat hujan baru saja reda, tanah sepanjang jalan setapak menuju pintu rumah sangat berlumpur, dan orang-orang sekampung sedang sibuk menanam. Masing-masing berbaris di ladangnya dengan cangkul di tangan kanan, sementara bibit jagung (serta kacang) di tangan kiri.
Tampak ibu-ibu menanam jagung seusai hujan. (Foto: Willem Foni)

Menanam mempunyai arti yang signifikan bagi kehidupan. Menanam bagi petani adalah investasi, agar ia boleh menuai ketika tiba masanya. Menanam lantas menjadi sebuah 'keharusan' karena hujan tak datang sepanjang tahun. Seorang petani harus bijak menentukan waktu tanam, tak boleh terlalu dini, tak boleh terlalu lambat, agar tanaman mendapatkan ricik hujan yang cukup dan bebas dari resiko kekeringan.

Konon, ada sejenis burung yang kicaunya dipandang petani sebagai pratanda musim hujan. Bila burung-burung itu telah berkabar, ladang yang belum terurus harus segera disiapkan agar si petani tidak ketinggalan masa presipitasi hujan.

Menanam, bagi saya seperti halnya berlibur, sepotong waktu yang dikhususkan dari sebagian besar waktu kehidupan. Dengannya kita melepaskan diri dan mengambil jarak dari aktivitas harian kita, entah duduk di rumah, atau hijrah ke pantai, sekedar untuk melepaskan penat dari kerja harian.

Jagung yang ditanam pun begitu. Menyerahkan diri diluruh, dihempaskan ke dalam tanah berlumpur, (seperti) menyepi dari hingar-bingar dunia di atas tanah. Ia akan tinggal di situ beberapa malam, sebelum akhirnya tumbuh kuncup, sebagai awal kehidupan sebatang jagung yang baru.
Kecambah jagung. (Foto: Commons.wikimedia)

Seorang sahabat mengisahkan religiositas menanam sesuai  ajaran Budhisme. Katanya, setelah menanam, orang tidak diperkenankan untuk bepergian keluar rumah selama tiga hari tiga malam. Mengapa begitu? Karena itu adalah waktu kuncup baru untuk tumbuh. Kalau kita bepergian ke luar rumah, kita akan menginjak mati tunas-tunas kecil yang baru hendak mekar.

Ishack Sonlay, Desember 2018

Related Posts:

0 Response to "Musim Tanam"

Posting Komentar

Translate

Populer Dalam Minggu Ini