LekoNTT.com: Membaca Dahulu, Berkomentar Kemudian | Baca Buku Apa Hari ini? | Cegah Covid-19, Patuhi Protokol Kesehatan
Air Mancur Jefri, Warga Menangis - LekoNTT.com

Air Mancur Jefri, Warga Menangis

Oleh: Lodimeda Kini*

Air mancur Jefri menari di atas kekeringan. Ia bagaikan seorang prajurit yang mengorbankan raga demi kesenangan mata. Bagaimana tidak? Manakala ia berfantasi menjadikan Kota Kupang enak dipandang, ia lupa bahwa kota ini haruslah nyaman ditinggali. 

Hari ini, sama seperti hari-hari sebelumnya, Kali Dendeng didatangi keluarga dan mama-mama dari berbagai tempat di Kota Kupang: Fatufeto, Air Mata, Oebobo, hingga Liliba. Mereka datang, ada yang dengan satu karung, ada yang dengan dua karung untuk mencuci pakaian kotor di Kali Dendeng.

Ada yang karena sumur, sumber airnya selama ini, mengering. Ada yang karena air leiding-nya tak lagi mengalir, dan bahkan tidak pernah mengalir. Ada yang karena tidak sanggup membeli air tangki. Ada juga yang karena mahalnya biaya pemasangan sambungan rumah, hingga hari ini memang harus mencuci di kali.

Bagaimana tidak, seorang warga yang tinggal tidak jauh dari IPAM Kali Dendeng mengatakan, bahkan walau pipa air melewati bagian depan rumahnya, ia diminta membayar 3 juta rupiah untuk pemasangan sambungan ke rumahnya. 

Air Kali Dendeng dengan kondisi bendung (weir) yang sudah mengalami kegagalan konstruksi di kanan dan di kirinya itu, tak begitu jernih, walaupun tak sekeruh ketika musim penghujan. Mama-mama, anak-anak kecil dan orang muda bertumpah ruah di sana. Selain mencuci baju, ada juga yang mandi dan sekedar bermain air.


Tidak diragukan, air kali itu kini banyak mengandung bahan kimia pencemar air. Air kali inilah yang dipompa ke instalasi pemurnian air berkapasitas 10 liter/detik, dan kemudian disalurkan kepada para penduduk Kota Kupang yang cukup beruntung karena terhubung ke pipa distribusi PDAM.

Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Kali Dendeng telah beroperasi sejak tahun 2013 untuk memasok air siap minum bagi pelanggan PDAM yang terhubung, juga memasok air ke RSUD SK Lerik. Entah bagaimana kualitasnya, saat ini masyarakat lebih peduli akan kuantitas. Menurut mereka yang penting ada air yang mengalir. 

Berbicara masalah air bersih, berdasarkan data BPS Kota Kupang (2020) penduduk kota saat ini diperkirakan berjumlah 435 ribu atau setara dengan 103 ribu rumah tangga. Pada saat ini PDAM, baik milik Kota maupun Kabupaten melayani sebanyak 12 ribu rumah tangga, jumlah ini pun masih memungkinkan adanya pen-double-an, yakni rumah tangga yang terdaftar pada kedua PDAM.

Bagaimana sisanya memenuhi kebutuhan air mereka? Kita tahu jawabnya. Untuk pemenuhan air minum, sebanyak 48% penduduk kota bergantung pada leiding maupun sumur (bor/terlindung/tidak terlindung). Sementara itu sisanya bergantung pada air isi ulang dan kemasan. Dari pemenuhan air saja, Kota Kupang bukanlah kota untuk semua orang, hanya jika kamu berduit kamu bisa hidup layak di Kota Kupang. 

Walau pemenuhan kebutuhan air sebagai kebutuhan dasar manusia belum sanggup dituntaskan oleh Pemkot Kupang. Jefri cukup berani dalam berinovasi pada kebutuhan tersier rekreatif seperti pembangunan taman dan pemasangan lampu jalan.

Jika saja Jefri melihat dan merasakan Kota Kupang sebagai penduduk, bukan sebagai pengunjung yang hanya singgah sejenak, mungkin ia akan bisa memahami dan menjawab kesulitan warganya. 

Dalam sebuah kanal Youtube berjudul Inovasi 2019 Pemerintah Kota Kupang, Jefri bercerita tentang motivasinya dalam melakukan perombakan taman-taman kota dan menghias jalan-jalan Kota Kupang. Suatu hari, ketika ia masih menjabat sebagai anggota DPR RI dan melakukan kunjungan kerja ke Kupang, waktu itu ia melintasi bundaran PU, seorang koleganya menanyakan apakah kotanya masih jauh.

Sentimen yang tidak pada tempatnya ini sungguh tidak murah harganya bagi warga Kota Kupang. Tidak kurang dari 31 miliar dana dikucurkan untuk belanja modal pengadaan penerangan jalan, tanaman dan hutan kota, dan sekitar 25 miliar lainnya untuk belanja modal pengadaan lampu jalan.

Di sisi lain, hanya sekitar 10 miliar dana yang ia alokasikan untuk penanganan air bersih di Kota Kupang pada tahun 2019. Untuk berbelanja tanaman hias saja, Jefri tidak ragu mengalokasikan dana sebesar 280 juta. Belum lagi belanja tanaman (non-hias) yang mencapai 380 juta. Namun untuk belanja pengadaan instalasi air minum dan air bersih juga pengadaan air bersih, ia sampai hati mengalokasikan 160 juta saja pada masing-masing pos.

Matematika anak SD pun bisa melihat bahwa alokasi ini jelas lebih kecil jika dibandingkan dengan 3 miliar yang ia perjuangkan untuk air mancur taman Tirosa.

Tidak akan mengagetkan bahwa ujung dari diskusi mengenai masalah pemenuhan air bersih di Kota Kupang akan berakhir dengan cerita klasik: konflik aset antara Kabupaten dan Kota Kupang. Berpikir untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah memang sulit, oleh sebab itu orang lebih suka mencari kambing hitam, karena inilah yang memang paling mudah dilakukan. Tapi apalah yang bisa kita harapkan, jika kepemimpinan hanya berdasar sentimen yang salah tempat, keengganan berpikir, dan sudut pandang dari kursi emas.

Semoga Jefri sadar, indikator kota layak huni yang teratas bukanlah lampu dan taman kota. Jika Kota Kupang adalah Kota Kasih, dan kasih itu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak sombong dan tidak mencari keuntungan sendiri, untuk apa kita bersembunyi dibalik pembangunan yang superfisial.

Hanya supaya terlihat seperti kota, kita bangun tamannya, tapi tidak memprioritaskan akses kebutuhan dasarnya. Untuk apa? Dan jika kasih itu tidak mencari keuntungan sendiri, mari duduk bersama dan rasakan pergumulan warga Kota Kupang untuk Kota Kupang yang lebih adil. 

***

*Penulis adalah peneliti IRGSC dan anggota Forum Academia NTT

Related Posts:

0 Response to "Air Mancur Jefri, Warga Menangis"

Posting Komentar

Translate

Populer Dalam Minggu Ini