LekoNTT.com: Membaca Dahulu, Berkomentar Kemudian
Ni Kekuh | Cerita Bersambung | Felix K. Nesi - LekoNTT

Ni Kekuh | Cerita Bersambung | Felix K. Nesi


Ia sangat membenci para pastor. Jika bukan karena ringko1, ia telah membunuh satu atau beberapa. Kini salah seorang dari mereka berdiri di hadapannya dan bertanya apakah ia boleh bertamu. 

“Tidak. Aku sedang tidak ingin menerima tamu.”

Pastor itu masih sangat muda, berkacamata dan pandai menyembunyikan wajah malunya. Ni Kekuh telah sering melihat ia mondar-mandir di depan tuda2 ringkoRingko selalu menyambut para pastor dengan hangat, seperti orang-orang kampung menyambut Pastor Wagemakers dulu. Meskipun Ni Kekuh sangat menaruh hormat kepada ringko dan Pastor Wagemakers, ia tidak pernah menyukai pastor-pastor berkulit cokelat ini. Ia membuang ludah ke tanah sambil terus mengawasi pastor berkacamata di hadapannya. Pastor itu menggigit bibirnya dan melihat jauh melampaui tuda, seolah sedang menghitung angin yang melambaikan dedaun ampupu.

Ilustrasi: Billy Dee
“Berjalanlah terus ke barat. Kau akan menjumpai tuda Ri Kung,” Ni Kekuh mengusirnya dengan sopan.

Tidak ada tuda di barat, dan Ri Kung telah mati dua tahun yang lalu. Di barat hanya ada hutan, gelap dan pekat, dengan tebing curam dan lautan mahaluas yang membentang di ujungnya. Tanpa berkata apa-apa pastor itu meninggalkan Ni Kekuh. Namun saat matahari hampir jatuh ke lautan, pastor itu telah berdiri kembali di depan tuda-nya. Ni Kekuh tak bisa menyembunyikan wajahnya yang kecewa sebab orang itu belum diterkam fukar3.

“Aku sungguh lapar dan sungguh haus. Hari mulai menjadi dingin,” kata pastor itu.

Ni Kekuh menyuruh istrinya yang paling muda membakar ubi rambat dan menuang sandu4. Sebentar kemudian ia mengangkat pintu tuda dan menemui sang pastor.

“Kau boleh makan dan minum, tetapi tidak boleh masuk ke dalam tuda,” begitu katanya.

Lelaki itu menerima ubi bakar dan melahapnya sampai tandas. Kulit ubi yang gosong dikeratnya juga seperti tupai. Saat menenggak sandu dari tabung bambu, wajahnya memerah dan urat lehernya bermunculan. Ia menurunkan kembali tabung bambu dan berusaha menyembunyikan wajah ngerinya.

“Ini pertama kali kau minum sandu, tetapi bagaimana kau bisa lolos dari fukar?” Ni Kekuh bertanya.

Pastor muda itu diam saja. Percuma menanggapi interogasi Ni Kekuh, begitu pikirnya. Ia menggali tanah dengan jari-jari tangannya dan mengubur kulit ubi dan tabung bambu itu. Pastor Wagemakers telah mengajarinya sopan-santun sejak ia menginjakkan kakinya di Kupang, dan kini ia menggali tanah dengan jarinya tanpa canggung, seperti telah lama hidup di Oeriburi.

“Aku punya tembakau cengkeh,” katanya, “langsung dari tanah Jawa.”

Ia merogoh kantung celananya dan mengeluarkan kantong kresek hitam penuh tembakau. Seuntai rosario dari kawat tersangkut di ujung kresek dan ikut terulur ke luar.

“Aku tidak merokok dari wadah yang tersentuh rosario,” Ni Kekuh berkata tanpa ekspresi.

Pastor itu menatap Ni Kekuh. Ia tahu bahwa tembakau yang tersentuh rosario bukan sesuatu yang haram bagi suku Kur, dan ia ingin melihat apakah Ni Kekuh hanya bercanda. Tetapi Ni Kekuh terus menatapnya, tanpa ekspresi.

“Oh. Ada rokok. Di tas,” katanya sambil bergerak membuka saku depan tasnya.

“Bakar tembakaumu dan segera angkat kaki dari sini,” kata Ni Kekuh, “sebelum aku berubah pikiran dan mengambil pelu5.”

Pastor itu meloloskan sebatang rokok, menyodorkan yang lain kepada Ni Kekuh dan bertanya apakah ada api. Ia lupa membawa korek.

Ni Kekuh meneriakkan sesuatu dalam Bahasa Kur dan kepala seorang bocah nongol di pintu tuda. Bocah itu sama tingginya dengan pintu tuda, kira-kira setinggi paha Ni Kekuh, dan tanpa perlu menunduk, ia menyodorkan batu api kepada sang pastor. Pastor itu bergeming menatap sang bocah, lalu menatap wajah Ni Kekuh. Seumur hidup ia belum pernah memakai batu api. Ni Kekuh menerima batu api dan menyuruh bocah itu masuk. Ia berjongkok dan mengumpulkan ranting dan dedaun kering.

“Aku dengar janda Duru Nah mau dibaptis,” pastor itu berkata dengan hati-hati sementara Ni Kekuh menciptakan gundukan ranting dekat kakinya. 

Ni Kekuh berlaku seperti tidak mendengar apa-apa.

“Jika kau mengizinkan, aku mau bertemu dengan perempuan itu,” kata pastor itu lagi.

Dua kali menggesekkan batu api, bernyalalah  gundukan di kakinya itu. Sang pastor berjongkok, merayap sampai ke tanah dan menyulut rokoknya. Ni Kekuh mengambil sebatang rokok, mematahkan dan mengeluarkan tembakaunya, lalu mulai mengunyahnya.

“Mengapa kau tidak diterkam fukar?” ia bertanya.

Pastor itu membetulkan kacamata dan merapatkan jaketnya. Kabut membawa dingin dari Gunung Goro, menikam-nikam kulitnya.

“Aku tidak masuk ke hutan. Aku memutar ke utara, duduk di bukit Tirna dan melihat matahari jatuh perlahan. Saat matahari tinggal sejengkal dari lautan, aku datang dan menemuimu.”

Ni Kekuh memegang sepotong kayu dan mencungkil tanah.

“Kalian, orang-orang Java, tidak bisa dipercaya,” katanya.

“Aku berasal dari Flores,” pastor muda itu berkata. “Hanya biara kami yang terletak di Jawa, tetapi kita berasal dari kepulauan yang sama.”

“Mampirlah ke sungai deku,” Ni Kekuh berkata dengan suara datar. “Di pohon kesambi dekat mata air suku Bai-ur, akan kau temukan tengkorak Miri Pi. Tiga hari yang lalu aku mencekiknya dengan pelu. Kau bisa melihat rambutnya yang keriting, jika belum diambil oleh orang-orang Nairizh.”

Mendengarkan ancaman itu, sang pastor menggosok-gosok tangannya, mengusap wajahnya dan mengisap rokoknya.

“Kau tidak bisa terus membunuh orang. Membunuh istri-istrimu,” katanya.

“Aku memberikanmu kesempatan sampai api ini padam, Fuhnir Ki6. Sesudah itu aku akan bicara sambil memegang pelu.”

Angin berhembus. Kabut tipis mulai menutupi udara. Dingin menikam kulit. Ni Kekuh memakai tutup kepala dan pakaian suku Kur yang tebal sampai mata kaki, yang membuatnya tetap hangat. Namun pastor itu tidak mengenakan topi dan hanya memakai jaket yang ia beli dari seorang pedagang di Pasar Atambua. Dingin mulai mengusiknya. Ia mencari-cari ranting kayu dengan tangannya dan melemparkannya ke dalam api.

“Berapa jumlah anakmu sekarang?”ia bertanya.

Ni Kekuh bergeming.

Ringko bilang anakmu sudah lebih dari tiga puluh. Itu jika kau tidak membunuh satu. Atau dua. Atau tiga. Atau...”

“Aku tidak suka berbicara denganmu," Ni Kekuh memotong. "Tubuhmu berbau aneh.” 

“Ini sabun, Ni Kekuh.”

“Apakah sabun yang meracuni udang-udang di sungai Deku?”

“Orang-orang Nairizh memakai akar jarak untuk meracuni ikan. Begitu kata ringko, bukan?”

“Selalu kata ringko yang menyelamatkan kalian. Jika orang tua itu mati, aku tidak ingin melihat kalian di sekitar sini lagi.”

“Kau tidak bisa melakukan itu. Pastor Wagemakers dan ringko…”

“Pastor Wagemakers adalah ayah kami,” Ni Kekuh memotong. “Ia seorang yang terhormat. Semoga jiwanya tenang bersama pohon-pohon, bersama burung-burung dan ikan-ikan. Tetapi kalian yang datang kemudian, yang mempunyai kulit sama seperti kami, bersikap seperti tuan atas kami. Kalian mengatur apa yang boleh dan tidak boleh kami lakukan.”

Pastor muda itu kembali mengusap-usap wajahnya dengan telapak tangannya yang telah dihangatkan di atas api.

“Bicaralah kepada ringko,” katanya kemudian. “Tetapi aku perlu bertemu dengan janda Duru Nah.”

“Tak ada izin bagimu.”

“Apa yang ia lakukan di tuda-mu, Ni Kekuh?”

“Duru Nah telah mencurangi aku. Ia mengambil emas dan setiap jengkal kayu cendana yang aku punya. Aku telah mengambil nyawanya. Sesuai hukum, segala miliknya adalah milikku. Kau kira apa yang jandanya lakukan di dalam tuda-ku, Fuhnir Ki?”

Pastor itu menjalarkan lagi tangannya di tanah, memunguti ranting-ranting dan melemparkannya ke dalam api. Api bernyala sedikit lebih besar dan Ni Kekuh menarik napasnya, seperti sedang menahan amarah. Ia meneriakkan sesuatu dan anak kecil tadi nongol lagi di pintu, memegang ujung pelu. Ni Kekuh menerima ujung pelu itu dan menariknya keluar. Ia melirik sang pastor, berharap sang pastor bergidik melihat pelu.

Namun pastor itu bergeming.

“Ini nyala api yang terakhir,” kata Ni Kekuh. “Jika api ini padam, dan kau belum menghilang dari hadapanku, pelu ini akan mencekik lehermu, dan mayatmu akan kuberikan kepada orang-orang Nairizh.”

Dengan tenang pastor itu terus memaparkan telapak tangannya di atas lidah api. Ia menggosok-gosok lehernya dengan tangannya, sambil sesekali mengisap rokoknya dalam-dalam. Gelap telah jatuh dan jangkrik mulai berderik. Dari dalam tuda seorang perempuan mendendangkan syair tentang kuda yang kehilangan mata air.

“Apakah ada kemungkinan aku menemui perempuan itu, Ni Kekuh?”

“Apa hakmu bertanya seperti itu?”

“Ia ingin memberi dirinya untuk dibaptis.”

“Keinginannya tidak memberimu hak apa-apa, bahkan hak untuk bertanya.”

“Aku ingin tahu apakah Ni Kekuh yang ksatria menyimpan belas kasihan di dalam dadanya.”

“Belas kasihan hanya untuk orang-orang kalah.”

“Leluhur menyimpan belas kasih di dalam hati setiap manusia.”

“Jangan samakan leluhur kami dengan leluhurmu – leluhur orang-orang asing dan para perampok.”

“Tetapi apakah janda Duru Nah tidak boleh mendapatkan hal yang ia inginkan?”

“Apa kepentinganmu dengan janda Duru Nah, Anak Muda? Pastor Wagemakers pernah membaptis lebih dari seratus orang Kur, tetapi ia tidak datang malam-malam, berdiang dan merokok di depan tuda orang lain, lalu mengajukan permintaan yang sama selama berulang-ulang kali, seperti seekor burung kotos yang memohon pengampunan untuk hidupnya.”

Pastor itu mengisap rokoknya dalam-dalam dengan tarikan napas yang panjang dan berat, seolah bukan hanya untuk mengisap asap rokok itu, tetapi juga untuk membersihkan beban di dalam dadanya. Api di kakinya itu mulai mengecil dan kelihatan akan padam.

“Kau boleh membunuhku untuk meminta hal itu.”

“Kalian suka mati konyol dan menyebut diri sebagai martir yang berkorban atas nama dewa. Itu sebabnya orang-orang Nairizh membunuh banyak dari kalian. Aku berterimakasih kepada mereka untuk itu.”

“Akan kau apakan janda itu?”

“Apakah pembaptisannya sangat berarti bagimu?”

“Ia mengandung anakku.”

Lidah api yang terakhir terbang menghilang ditiup angin. Bara api masih bersinar, memberikan sedikit cahaya. Ni Kekuh bangkit dan menusukkan pelu ke leher pastor itu. Sang pastor menghindar ke kiri dan sekonyong-konyong ia mengeluarkan parang dari balik jaketnya. 

Ditebasnya pelu itu. Pelu terlepas dari tangan Ni Kekuh, jatuh di atas bara api. Pastor itu maju satu langkah dan menendang bara api ke arah Ni Kekuh. Ni Kekuh yang tidak menyangka akan serangan itu, buru-buru menghindar. Bara api yang tidak mengenainya berlemparan di atas tudaTuda mulai berasap, dan sang pastor berlari menuruni tebing.

Dengan kemarahan yang meluap, Ni Kekuh merentangkan tangannya dan berteriak dengan keras:

Auhe… Nini ham taruukku, riri ham nyarukku!7.”

Teriakan itu dibalas oleh teriakan bersahut-sahutan dari tuda-tuda. Setiap laki-laki menyambar pelu dan berlarian keluar, berkumpul di depan tuda Ni Kekuh. Teriakan mereka seirama dengan hentakan kaki, menciptakan lagu-lagu peperangan.

Tuda Ni Kekuh mulai terbakar. Sang pastor terus berlari.

Bersambung…


Keterangan:

1. Ringko : kepala kampung
2. Tuda: rumah suku Kur. Berpintu rendah dan sangat luas, menampung sekitar 50 orang.
3. Fukar: binatang buas di hutan Kur, hanya menyerang orang asing. 
4. Sandu: minuman keras, terbuat dari biji jarak.
5. Pelu: tongkat panjang dengan ujung bercabang, digunakan untuk mencekik orang atau hewan.
6. Fuhnir ki: Laki-laki asing
7. "Bukan aku yang ingin membunuh, tetapi ia yang meminta (untuk) dibunuh.”
8. Suku Kur: suku yang mendiami pesisir selatan pulau Timor.Tersisa 7 keluarga di awal tahun 2019.


*Felix K. Nesi, buku cerita pendeknya berjudul Usaha Membunuh Sepi (PSM, 2016). Novelnya berjudul Orang-Orang Oetimu (Marjin Kiri, 2019) meraih juara I sayembara menulis novel DKJ 2018.

Related Posts:

0 Response to "Ni Kekuh | Cerita Bersambung | Felix K. Nesi"

Posting Komentar